Apa Itu ‘DEVOSI’?

2
3774

‘Devosi’ berasal dari kata Latin “Devotio” yang berarti kebaktian, pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti. Devosi selalu menunjuk pada sikap hati di mana seorang mengarahkan diri kepada seseorang atau sesuatu yang dijunjung tinggi dan dicintai. Dalam tradisi Kristen, devosi dipahami sebagai bentuk penghayatan dan pengungkapan iman Kristiani di luar liturgi resmi, yang diungkapkan dalam bentuk kebiasaan tertentu ketika berdoa dan bermadah/lagu pujian, dan pada waktu serta tempat tertentu, yang seringkali desertai pula dengan menggunakan benda-benda tertentu.

Devosi dalam Gereja Katolik dijiwai oleh sikap iman yang mengungkapkan hubungan khusus yang ditujukan kepada:

  • Pribadi-pribadi dari Allah Tritunggal
  • Bunda Maria dan Orang-orang kudus yang memiliki peran khusus dalam kehidupan Gereja.

Semua devosi tersebut haruslah dihayati dalam Roh dan Kebenaran dan dalam Kesatuan Dengan Kristus.

Devosi bukan ditujukan kepada ‘sesuatu’

Sekalipun menggunakan medali, relikwi, rosario ataupun skapulir, dll, namun bukan kepada benda-benda itu umat Katolik berdevosi, melainkan kepada Allah ataupun pribadi orang kudus yang diacu olehnya, dalam kesatuan dengan Kristus. Benda-benda tersebut hanya berfungsi mengingatkan pemakainya agar berjuang untuk hidup kudus dalam berbagai situasi dan perkara sampai akhir hayatnya, untuk memperoleh keselamatan kekal.

Devosi harus jauh dari bahaya praktek magis. Hal ini terjadi jika orang memandang kekuatan dan daya pengudusan berasal dari barang, mantra, angka dan lain-lain.

Dalam Devosi kepada para kudus, para orang kudus ini bukanlah saingan Kristus, tetapi pendukung Kristus dalam peran Pengantaraan-Nya yang satu-satunya itu.

Beda Liturgi dengan Devosi

Dalam Liturgi, Gereja mengungkapkan dan melaksanakan dirinya secara resmi. Liturgi sebagai perayaan gereja dipimpin oleh seorang pemimpin resmi, dengan struktur dan tata perayaan yang baku, berlaku umum, mengikat dan resmi. Liturgi resmi sering dialami umat sebagai sesuatu yang rutin, resmi dan kaku.

Sedangkan Devosi merupakan praktek pengungkapan iman umat yang spontan dan lebih bebas. Devosi dapat dibawakan secara pribadi ataupun bersama. Devosi bisa dihayati umat sebagai sesuatu yang memenuhi kebutuhan afeksi, emosi dan kerinduan hati. Devosi merupakan praktek keagamaan populer yang mudah diterima, dipahami dan dipraktekkan. Dan walaupun bukan merupakan liturgi resmi, devosi diterima dan diakui Gereja.

Ciri-ciri Devosi yang Menyimpang

  • Devosi yang tidak sesuai dengan iman gereja sebagaimana tertera dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja.
  • Devosi yang sama sekali terpisah dari hidup sakramental Gereja.
  • Devosi yang memisahkan antara ibadat dengan pengamalan ajaran Kristiani dalam hidup sehari-hari.
  • Devosi yang menggunakan tanda, benda-benda, tata gerak dan rumusan yang kadang-kadang menjadi terlalu muluk bahksan bercorak dramatis.
  • Devosi yangcenderung menyuburkan sekte-sekte, bahkan menjadi berhala, magis dan fatalisme atau penindasan.
  • Devosi yang memberikan perhatian yang tidak proporsional terhadap orang kudus melebihi perhatian terhadap Yesus Kristus yang Maha berdaulat.
  • Devosi yang salah kaprah, yang memberikan tekanan yang tidak proporsional dan memisahkan Devosi dari Kristus, seperti:
    • Bahwa seakan-akan yang menyembuhkan atau mengabulkan permohonan adalah orang Kudus tersebut, bukan Allah.
    • Bahwa Devosi terhadap orang kudus A lebih manjur daripada terhadap orang suci B, bahkan dianggap lebih manjur daripada berdoa langsung kepada Allah.
    • Bahwa Devosi A atau B dapat menggantikan perayaan sakramen, terutama sakramen ekaristi
  • Devosi yang terlalu ekstrim, seperti upacara menyalibkan diri pada hari Jumat Agung yang dikatakan mencontah penderitaan Tuhan Yesus, seperti yang terjadi di Philipina.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Devosi

  • Devosi jangan dipandang sebagai pengganti liturgi. Dalam gereja dikenal tingkatan-tingkatan, dari seluruh liturgi resmi gereja, perayaan Ekaristi merupakan liturgi tertinggi dan yang terutama tingkatnya, sesudah itu menyusul sakramen-sakramen yang lain. Namun demikian, praktek Devosi dapat dihubungkan dengan listurgi resmi, misalnya Novena dalam perayaan Ekaristi.
  • Yesus Kristus, dalam keilahian dan kemanusiaan-Nya, merupakan satu-satunya pengantara Allah dan manusia. Devosi kepada Bunda Maria dan para kudus lainnya pada akhirnya merupakan devosi kepada Kristus, karena anugrah rahmat-Nya sudah jaya dalam diri Maria dan para Kudus. Karena itu, Devosi yang benar seharusnya menghantarkan kita kepasa Allah, bukan sebaliknya.
  • Devosi harus teteap sesuai dengan iman gereja sebagaimana tertera dalam Kitab Suci dan tradisi Gereja. Devosi yang benarseharusnya juga akan membuat kita lebih menghayati hidup Kristiani yang baik, lebih mengamalkan cinta kasih dengan meniru teladan para kudus maupun teladan Kristus sendiri, bukan sebaliknya.

 Beberapa Devosi yang ada di Paroki St. Thomas Rasul

  • Devosi Kerahiman Ilahi
  • Novena Pentakosta
  • Hati Yesus yang Mahakudus
  • Adorasi Ekaristi
  • Devosi St. Peregrinus
  • Peringatran Sta. Maria pada hari Sabtu

 

Diambil dari buku “Rupa dan Citra Aneka Simbol dalam Liturgi Gereja Katolik Roma” – Seksi Liturgi, Paroki Santo Thomas Rasul

 

2 COMMENTS

  1. Terima kasih. Kami sangat senang sekali menerima tulisan untuk dimuat di media komunikasi paroki kami, seperti website paroki ini, Info Sathora (warta paroki) dan Majalah Paroki MeRasul. Silakan kirim ke admin@sathora.or.id agar bisa kami sampaikan langsung ke tim redaksi. Terima kasih. GBU.

  2. terima kasih paroki st thomas rasul atas informasinya seputar iman katolik
    apakah ada majalah atau warta paroki supaya boleh mengirim tulisan?
    terimakasih

LEAVE A REPLY