Jas Hujan Pastor

0
990

MISA belum dimulai. Kantuk Phillo, bocah berusia tujuh tahun, mulai hilang. Dia duduk bersama kakeknya, Opa Ben, di bangku khusus lansia. Matanya mengembara menjelajahi seluruh ruangan gereja.

Rupanya ada sesuatu yang menarik perhatian Phillo. Setelah opanya selesai berdoa, Phillo menyentuh kakeknya seraya mau berbicara…. Tetapi, seketika itu pula Opa Ben menaruh jari telunjuknya di depan mulut, “Ssshhh…Phillo, ini rumah Tuhan. Tidak boleh ngobrol sama Opa. Ngobrolnya sama Tuhan saja, berdoa ucapin syukur,” bisik pria berusia 74 tahun itu. Dalam sekejap, bocah ini tidak berani bersuara lagi.

Alba
Alba

Sesampai di rumah, Opa Ben mendekati bocah ini dan mengajaknya berbicara. “Phillo, gereja itu tempat yang kudus, nggak dipakai untuk ngobrol atau main handphone. Apalagi kalau berpakaian seperti main ke Ancol. Itu tidak pantas. Ngerti ya?” ujar pria yang memiliki dua cucu ini.

Usai mengangguk dalam-dalam, Phillo mengungkapkan kekagumannya terhadap anak-anak yang menjadi misdinar. “Hebat ya mereka boleh di depan, bantu pastor Misa. Opa, apa pakaian itu dikasih buat misdinar ya?” sambung bocah yang sedang mempersiapkan Komuni Pertama ini.

 

Stola
Stola

Pakaian punya gereja. Mereka hanya mengenakan saat tugas saja. Nama pakaian itu Superpli.”

“Dulu, Opa juga pernah pakai baju putih mirip pastor. Ya ‘kan?” kenang Phillo.

“Wah kamu hebat, masih ingat. Dulu, Opa pernah jadi prodiakon. Jubahnya mirip dengan pakaian pastor. Nama jubah itu Alba. Alba, artinya putih. Putih melambangkan kesucian dan kemurnian. Jadi, pemakainya harus punya hati dan jiwa yang suci dan bersih.”

Kasula
Kasula

Sambil mengingat kejadian di gereja, bocah bernama lengkap Philemon ini kembali mengenang peristiwa Misa tadi pagi. Lalu, dia mengatakan bahwa pakaian pastor seperti jas hujan.

“Ha… ha… ha… Memang mirip mantel atau jas hujan ya? Nama jubah itu kasula, Phillo. Kasula melambangkan cinta kasih yang tulus penuh pengorbanan, seperti Tuhan Yesus,” jawab Opa Ben sambil tersenyum.

Opa Ben menerangkan bahwa pastor yang bertugas harus meneladani Tuhan Yesus. Sebelum mengenakan kasula, biasanya para pastor mengenakan semacam selendang panjang yang dikalungkan pada leher. Kedua ujungnya menggantung di depan dan tidak terlihat karena tertutup kasula. Selendang dimaksud adalah stola. Stola adalah tanda bahwa seorang imam memiliki wewenang atas tugas untuk pengudusan.

“Wah, nggak nyangka pastor pakai selendang!” seru Phillo dengan lugu.

Ekatanaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY