Pandangan Gereja Katolik tentang Perkawinan Campur

0
3213

DI Indonesia, di mana umat Katolik merupakan minoritas, sering terjadi perkawinan campur, yakni perkawinan di mana tidak ada kesamaan iman atau agama. Agar jelas, kita harus membedakan antara beda agama dan beda Gereja. Perkawinan beda Gereja adalah perkawinan antara dua orang yang dibaptis tetapi dalam Gereja yang berbeda. Sedangkan perkawinan beda agama adalah perkawinan antara seorang yang dibaptis dan seorang yang tidak dibaptis, misalnya beragama Islam, Buddha atau Hindu.

Mari kita lihat statistik dan grafik perkawinan di paroki kita selama lima tahun terakhir:

Grafik paroki kita menunjukkan bahwa jumlah perkawinan menurun, tetapi juga jumlah perkawinan seiman Katolik menurun. Maka, sepantasnya kita memahami pandangan Gereja Katolik mengenai masalah perkawinan campur.

 

Konsultasi Iman 06 - ft02

 

Tentu saja Gereja tidak mendukung perkawinan campur. Idealnya, ayah dan ibu masuk gereja bersama, disertai anak-anaknya. Tetapi, itu pun tidak menjamin kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Kebahagiaan itu akan tergantung dari sikap suami-istri dan kerelaan untuk hidup bersama dalam ketidaksamaan. Gereja menyadari keadaan konkret dalam masyarakat dan Gereja sendiri, dan membantu setiap pasangan agar hidup rukun dan bahagia.

Beberapa buah pemikiran dan ketentuan Gereja Katolik dalam menanggapi perkawinan campur: Orang muda diharapkan tidak serta-merta jatuh cinta dan mau menikah, tanpa mempertimbangkan segi agama keluarga nanti. Kalau sudah ‘jadi jodoh’, sudah dirundingkan matang-matang dan diputuskan akan menikah dengan orang yang beda Gereja/agama, ada beberapa hal yang harus diingat.

Pertama-tama, memilih agama atau Gereja dan pindah agama atau Gereja adalah hak asasi manusia. Maka, tak seorang pun, bahkan pasangan hidup sekalipun, bisa memaksa kita dalam hal ini. Hanya atas keyakinan dan kesadaran sendiri kita mengambil langkah yang begitu penting dalam hidup kita. Yang terutama dibutuhkan oleh pasangan yang beda Gereja/agama adalah sikap positif terhadap situasi, maksudnya saling mendukung dalam agama/Gereja masing-masing, daripada mencoba menggoyahkan iman pasangan. Akhirnya, kita semua sedang berziarah kepada Allah yang sama, meskipun jalurnya berbeda. Sikap positif juga berarti memperdalam iman kita dan hidup sesuai iman, agar anak-anak melihat teladan orangtuanya apa artinya beriman dan ingin mengikuti teladan orangtuanya. Dan tentu yang paling penting adalah cinta yang sejati yang makin bertumbuh dan diperdalam.

Berapa hal praktis lainnya. Gereja Katolik memberi kemudahan kepada pasangan yang beda Gereja/agama dengan memberi ijin/dispensasi untuk diberkati di Gereja, tanpa menuntut agar pihak non-Katolik menjadi anggota Gereja Katolik terlebih dahulu. Tentu saja dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Maka dari itu, diharapkan calon suami-istri menghubungi sekretariat paroki atau langsung pastor paroki untuk memperoleh pengarahan dan penjelasan seperlunya, sekurang-kurangnya tiga bulan sebelum rencana perkawinan.

Perkawinan dan hidup berkeluarga amat penting dalam hidup manusia. Maka, diperlukan persiapan yang matang; bukan hanya secara materi tetapi terlebih secara mental dan rohani.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY