Santo Longinus – Saksi Kisah Sengsara Yesus

0
2434
Patung Santo Longinus
Patung Santo Longinus

PADA waktu itu mulai dari pukul dua belas siang, langit mulai gelap meliputi seluruh daerah itu sampai pukul tiga sore.

Ketika itu, Yesus berseru dengan suara nyaring, “ Eli, Eli, lama sabakhtani!“ Kemudian setelah Yesus menyerahkan nyawa-Nya, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah, lalu terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga bukit-bukit batu terbelah dan kuburan-kuburan terbuka serta banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

Saat kejadian tersebut berlangsung, Maria Ibu Yesus, Yohanes, Maria Magdalena, dan prajurit-prajurit Roma menyaksikan peristiwa itu.

Kepala pasukan dan para prajurit yang berjaga di sana menjadi sangat ketakutan dan takjub melihat apa yang terjadi, lalu berkata, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.“

Karena Yesus sudah wafat, kaki-Nya tidak dipatahkan. Akhirnya, seorang dari prajurit itu mengambil tombak dan menusuk lambung Yesus. Seketika keluarlah air bercampur darah. Cipratannya mengenai mata prajurit tersebut, yang penglihatannya sudah mulai menurun. Mukjizat terjadi; cipratan itu membuat mata sang prajurit menjadi jelas kembali. Dialah Gaius Cassius Longinus, prajurit yang menusukkan tombaknya ke lambung Yesus.

Pria yang lahir di Lanciano Italia ini menjadi figur yang legendaris dalam sejarah kekristenan. Kemudian ia memilih untuk mengikuti petunjuk para rasul dan menjadi biarawan di Capadocia. Ia menghancurkan patung dewa-dewi Pagan yang kala itu disembah oleh bangsa Romawi.

Aksinya tersebut membuat Gubernur Romawi geram, kemudian Longinus ditangkap, disiksa, dan lidahnya dipotong. Ternyata, walaupun lidahnya sudah dipotong, ia masih dapat berbicara. Lalu, kepala Longinus dipenggal karena ia mempertahankan imannya. Ia menjadi martir abad pertama di Capadocia.

 

Kenangan akan Santo Longinus

The Spear of Longinus atau The Spear of Destiny
The Spear of Longinus atau The Spear of Destiny

Patung Santo Longinus dapat ditemukan di salah satu dari empat relung yang terdapat pada persilangan di dalam Basilika St. Petrus Vatikan. Patung itu dipahat oleh pematung bernama Gian Lorenzo Bernini pada tahun 1639.

Tombak yang digunakan Longinus pada waktu menusuk lambung Yesus, disimpan di Basilika St. Petrus sebagai artefak sejarah kekristenan. Karena sudah termakan usia, yang tersisa hanya ujung tombaknya saja yang berukuran 50,7 cm. Mata tombak ini pernah patah menjadi dua, lalu disatukan kembali dengan menggunakan sebuah paku, yaitu paku yang dipakai waktu menyalibkan Tuhan Yesus.

Karena demikian sakralnya, Raja Karl IV membungkus bagian yang patah itu dengan lempengan emas dan menuliskan di atasnya dalam bahasa Latin: LANCEA ET CLAVUS DOMINI yang berarti Tombak dan Paku Tuhan. Lancea atau Lance dalam bahasa Inggris berati tombak yang panjang, yang biasa digunakan prajurit penunggang kuda pada zaman dahulu.

Tombak ini dikenal dengan berbagai nama atau julukan, seperti The Holy Lance, The Spear of Longinus atau The Spear of Destiny.

Menurut sejarah, tombak ini diperebutkan oleh Raja-raja di Eropa pada zaman dahulu. Mereka meyakini bahwa siapa saja yang memiliki tombak itu akan menjadi tak terkalahkan oleh siapapun. Bahkan Hitler pun ikut memperebutkan tombak ini pada saat dia ingin menguasai dunia.

Namun, bagi kita yang beragama Katolik, yang kita yakini bukanlah tombak tersebut, melainkan Karya Keselamatan Yesus pada saat kematian-Nya di Kayu Salib, Dia mengubah hati Longinus. Dari seorang prajurit Romawi, kemudian menjadi percaya dan berani mewartakan Kebenaran Firman Tuhan, walau ia harus kehilangan nyawanya.

Venda

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY