Tataplah Masa Depan

0
455

SAYA membaca di rubrik konsultasi keluarga edisi 06, yang berjudul “Mengapa Dia, Pasangan Hidupku”. Saya jadi bertanya, “Siapa pasangan hidupku?”

Saya, Yohana, 29 tahun, dengan latar belakang orangtua yang gagal mempertahankan kehidupan keluarga. Kami dua bersaudara; adik saya 26 tahun dengan seorang anak berumur 1 tahun.

Empat tahun yang lalu, saya bertunangan, lalu diputus. Tunangan saya terpengaruh keluarganya. Alasannya, saya berasal dari keluarga brokenhome. Orangtua saya sudah bercerai enam tahun yang lalu secara sipil. Saya sangat trauma dengan kondisi ini. Maka, saya mencoba bertanya di sini. Semoga mendapat pencerahan. Salam.

Yohana.                     

Dear Yohana.
Dampak psikologi, sosial, dan ekonomi pasti dialami oleh anak-anak ketika keputusan bercerai terjadi dalam sebuah keluarga. Dalam Injil, Yesus bersabda , “Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:6b). Dan dasar sebuah Sakramen Perkawinan adalah tidak terceraikan. Karena itu, perkawinan Katolik tidak mengenal perceraian. Untuk menuju sebuah perkawinan pun ada proses kanonik yang perlu dilakukan agar kesalahan manusia dapat dieliminir.
Saudari Yohana, berbahagialah dengan keputusan yang dilakukan oleh tunanganmu karena lebih baik perkawinanmu dengan eks tunanganmu tidak terjadi daripada perkawinanmu kemudian menjadi ladang yang membuahkan dosa.
Ditolak tentu merupakan hal yang sangat menyakitkan. Tetapi,  penolakan yang dilakukan tunangan (apalagi karena pengaruh keluarganya) menunjukkan tanda bahwa tunanganmu tidak cukup mendalam untuk bersatu denganmu, menuju perkawinan. Juga kadar hormat kepada orangtuamu begitu tipis. Karena begitu mudahnya dia dipengaruhi. Padahal dia sudah tahu keadaanmu sebelum memutuskan bertunangan. Dan seakan tidak ada usaha untuk mempertahankan hubungan kasih yang terjalin. Seakan-akan perceraian orangtuamu adalah penyakit menular dan menurun.

Keadaan ini pasti mengecewakanmu. Kecewa dengan pemikirannya, juga kecewa dengan ketidakmampuannya berjuang mempertahankan cinta kalian. Tetapi, malah kandas hanya karena status orangtuamu. Bersyukurlah Yohana, dia bukan laki-laki yang perlu kamu pertahankan. Biarkan dia pergi. Kamu tidak dapat hidup bergelimang kasih kalau kualitas cinta pasanganmu masih dangkal.

Perkawinan adalah kesepakatan kedua belah pihak untuk menerima keadaan masing masing dalam suka dan duka, dalam untung dan malang. Berjuang bersama-sama mempertahankan dan memperdalam kasih dalam keseharian. saling mengisi dan membantu, tanpa prasangka dan tanpa pamrih. Memuliakan Allah dengan saling mengasihi dan membuahkan cinta bagi kelangsungan hidup hingga Tuhan memanggil.

Yohana, perkawinan adalah sebuah keputusan. Dengan siapa kita akan menikah itu adalah pilihan. Bagaimana kita membina hubungan, bagaimana kita merawat kasih, dan bagaimana kita menghargai dan mencintai pasangan hidup kita, yang perlu kita tumbuhkan sejalan dengan waktu. Itu lebih manusiawi daripada hanya mempermasalahkan status orangtua yang notabene di luar kekuatan kita.

Masih banyak orang di sekitarmu yang mau membina hidup baru bersamamu. Pilih dan buka diri untuk mereka agar masuk ke dalam hidupmu. Biarkan pilihanmu berbahagia denganmu. Tuhan tidak akan memilihkan kekasih untukmu karena semua yang Tuhan ciptakan sangat baik. Tuhan memberi kehendak bebas kepada kita untuk memilih sendiri pasangan hidup. Cari dan pilih yang terbaik untukmu. Dirimu sendiri yang harus keluar dari self image-mu. Ingat, perceraian orangtuamu bukan kesalahanmu. Dengan akal budi, dengan hidup rohani yang baik, efek perceraian orangtua akan terkikis. Tidak mustahil mereka kembali rukun karena melihat anak-anak mereka hidup lebih baik dari mereka.

Dalam Sepuluh Perintah Allah disebutkan, “Hormatilah orangtuamu”. Sekalipun orangtua membuatmu kecewa, tetaplah hormati mereka karena itulah perintah Allah yang tidak pernah salah. Buka dan tataplah masa depanmu!

Lenny J.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY