Masihkah Manusia Modern Memerlukan Agama?

0
545

SEMAKIN hari, peradaban teknologi dan ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan, banyak sekali hal yang dahulu dianggap sebagai “kemarahan Tuhan” atau “kutukan Tuhan”, pada zaman sekarang sudah tidak dianggap demikian lagi karena terjawab secara ilmiah, seperti gempa bumi, tsunami, wabah penyakit, dll.

Banyak manusia modern merasa bahwa agama merupakan suatu penyebab pengkotak-kotakan hubungan antarmanusia. Pada akhirnya agama mengakibatkan bentrokan bahkan peperangan hebat yang merusak perdamaian dunia. Maka, manusia sekarang cenderung lebih suka menjalani kesehariannya berdasarkan Good Moral atau dalam bahasa Indonesia disebut Budi Pekerti.

Berdasarkan fakta di atas, masihkah manusia membutuhkan agama dalam kehidupannya? Ataukah cukup berdasarkan Good Moral dan logika saja? Mengapa?

 

Jawaban:

Good Moral (GM) haruslah ditumbuhkan terlebih dahulu karena GM berperan penting untuk memperluas pikiran dan wawasan manusia sehingga dapat menghindari salah tafsir agama. Apabila agama terlihat sebagai suatu indoktrinasi yang buruk karena mengakibatkan bentrokan/peperangan, itu disebabkan oleh penafsiran yang sempit atau karena manusia membajak agama untuk menyelubungi suatu kepentingan. Padahal hakikat agama adalah membawa hati manusia agar mencintai sesamanya sehingga hubungan imannya dengan Tuhan menuju kesempurnaan.

Tingkatan hubungan manusia berawal dari:

Pertama, Etiket. Yaitu, peraturan umum yang mengatur tata krama dan sopan santun tingkah laku manusia. Namun, etiket belum menjamin moralita yang baik.

Kedua, Etika; menyangkut moralita, falsafah hidup manusia. Etika masih bersifat humanis atau berupa hubungan Cinta yang Berbalas. Karena si A berbuat baik kepada saya maka saya harus membalas kebaikannya. Tingkat ini masih berupa level menengah. Sudah baik dan bagus, namun belum sempurna.

Bila etika/moral sudah bekerja dengan baik dalam diri manusia maka manusia akan menuju tingkatan yang lebih tinggi lagi, yakni, ketiga, Rohani atau Agama. Di sinilah manusia semakin berproses menjadi lebih dewasa secara rohani. Apabila secara rohani manusia sudah dewasa maka ia akan menafsirkan agama secara arif/ bijaksana; tidak menyesatkan apalagi membajak agama guna memenuhi kepentingan pribadinya. Tingkat kedewasaan rohani sudah tidak lagi berasaskan Cinta yang Berbalas, melainkan hanya ingin memberi, walaupun tidak menerima balasan yang seimbang. Memaafkan walaupun sudah disakiti.

Kalau sudah mencapai tahap ini, jiwa manusia menjadi tenang, stabil, dan tidak akan meledak-ledak bila menghadapi kesulitan. Dia sudah mempunyai jatidiri yang mantap, jadi tidak akan mudah terpengaruh oleh keadaan sekitarnya. Keadaan jiwa seperti inilah yang disebut bahagia, bukan senang. Bahagia menyentuh kedalaman hidup batin manusia, jadi bersifat lestari. Sedangkan senang hanya menyentuh segi perasaan saja, jadi bersifat sementara. Kalau hidup seseorang hanya menurut tataran senang atau tidak senang maka bisa dipastikan dia hanya hidup menurut tuntutan semangat kedagingan belaka, bukan memperjuangkan nilai kerohanian.

Jadi, manusia tetap membutuhkan agama untuk pencerahan kebahagiaan jiwanya.

Sinta Monika, sebagaimana dituturkan RD F.X. Suherman

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY