Intrapreneurship

0
499

SEKITAR 20-30 tahun lalu, masih banyak orang yang bercita-cita menjadi PNS karena jaminan hari tuanya. Namun, sepuluh tahun belakangan ini, semakin banyak anak muda yang bercita-cita menjadi enterpreneur sebagai jalan hidupnya selepas masa sekolah. Mereka yang berada di perusahaan pun banyak yang diam-diam berharap bisa pensiun dini untuk mengembangkan bisnis sendiri.

Bayangan menjadi boss bagi diri sendiri, bebas melakukan segala yang diinginkan –sementara mungkin di kantor ia harus menerima kehendak atasannya yang mungkin tidak sejalan — dan (syukur -syukur!) bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar ketimbang menjadi karyawan adalah beberapa hal yang membuat profesi enterpreneur begitu menarik.

Padahal di sisi lain, seorang enterpreneur justru mungkin harus bekerja melebihi jam kerja seorang karyawan biasa, bahkan pada Sabtu-Minggu sekalipun bilamana customer memintanya, melakukan beragam penghematan untuk dapat memiliki dana lebih sebagai investasi untuk pengembangan perusahaan menjadi lebih besar lagi, berpikir keras memutar otak bagaimana menggaji para karyawan pada akhir bulan manakala penjualan sedang tidak bagus. Belum lagi menanggung risiko gulung tikar manakala ternyata perhitungan bisnis di atas kertas tidak seindah kenyataan di lapangan.

Pada tahun 1985 Steve Jobs mempopulerkan konsep intrapreneur dengan mengatakan bahwa anggota team-nya adalah a group of people going, in essence, back to the garage, but in a large company. Menjadi seorang intrapreneur berarti mereka yang kreatif dan aktif mencari cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik dan efektif, sementara karyawan lain mungkin tenang-tenang saja melakukan segala sesuatu sebagaimana adanya semenjak zaman dulu, mampu mengambil keputusan dengan menimang risiko di tengah ketidakjelasan ketika tidak ada yang mau bertanggung jawab menanggung risiko, dapat mengubah mimpi dan ide menjadi produk nyata yang dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan pada saat yang lain berhenti sebatas pelemparan ide semata.

Intrapreneur adalah mereka yang memiliki semangat seorang enterpreneur dalam mewujudkan mimpi, kejelian seorang enterpreneur dalam mengubah peluang menjadi uang, namun tetap berada di dalam organisasi yang menaunginya. Karenanya, semua orang lepas apa pun posisinya di dalam organisasi, dapat menjadi intrapreneur. Daripada sibuk berpikir bagaimana caranya memulai usaha sendiri, mengapa tidak berlatih dulu dengan menjadi seorang intrapreneur di dalam organisasi Anda?

Pahami alur proses bisnis perusahaan Anda dari seluruh elemen di perusahaan, sampai pada mengembangkan cara membuat perusahaan Anda dapat memiliki added value dibandingkan kompetitor. Siapa tahu, Anda pun menikmati kemerdekaan berpikir layaknya seorang ‘boss’ di organisasi Anda dan malah mendapat penghargaan positif dari atasan karena kreativitas Anda yang mendatangkan profit bagi perusahaan.

oleh Emilia Jakob (EXPERD)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY