Semakin Kenal, Semakin Cinta – Tokoh Filipus dalam Injil Yohanes

0
875

DALAM perjalanan ke Galilea, Yesus bertemu Filipus dan mengajaknya, ”Ikutlah Aku!” Siapakah Filipus? Apakah ia mengenal Yesus? Seberapa jauh Filipus mengenal Dia?

Filipus tinggal satu kota dengan Andreas dan Simon Petrus di Betsaida dekat Danau Galilea. Dia mungkin sudah mendengar siapa Yesus. “Anak Allah” dari kesaksian Yohanes Pembaptis. “Mesias” dari kesaksian Andreas. “Rabi, Anak Allah, Raja orang Israel” dari Natanael yang diajak ikut bersamanya. Meski Filipus melihat Yesus sebagai pribadi yang istimewa, namun Yesus hanya dikenalnya sebagai manusia biasa. Sebagai anak Yusuf dari Nazaret [Yoh 1:32-49].

Yesus mengajaknya untuk melihat, mengalami, dan belajar sendiri. Ia melihat banyak tanda dan mukjizat. Pada pesta perkawinan di Kana, di Bait Allah, mukjizat penyembuhan anak pegawai istana yang sakit, orang lumpuh disembuhkan, ikut serta membaptis dan melihat orang-orang yang percaya bahwa “Yesus sebagai Juruselamat Dunia”. Apakah dengan semua pengalaman itu, lantas ia menjadi makin mengenal Yesus?

Dalam perjalanan Yesus menuju Tiberias, banyak sekali orang yang mengikuti-Nya. Karena Hari Raya Paskah sudah dekat, banyak orang dari Galilea berziarah ke Yerusalem. Mereka mengikuti Yesus, mendengar pengajaran-Nya dan disembuhkan. Hingga menjelang senja, mereka mulai membutuhkan makanan, dan Yesus tahu Filipus mengenal daerah ini. Yesus mengujinya, “Di manakah kita akan membeli roti?”

Reaksi Filipus, ”Sekalipun kita punya uang dua ratus dinar tidak akan cukup, biarpun mereka mendapat sepotong kecil.” Ia berpikir hanya “duit” dan ragu-ragu akan solusinya sendiri, sama sekali tidak tampak ingin mencari solusi kepada Yesus. Ia tidak belajar selama bersama Yesus, bahwa Gurunya mampu melakukan mukjizat. Berbeda dengan Andreas, meskipun ragu-ragu, ia membawa seorang anak yang mempunyai lima roti dan dua ikan kepada Yesus. Ia yakin Gurunya mampu melakukan sesuatu yang besar (Yoh 6:1-15).

Di lain peristiwa, ketika kegembiraan banyak orang yang menyambut Yesus masuk ke kota Yerusalem sebagai Raja, terdapat beberapa orang Yunani. Mereka pergi kepada Filipus, lalu mereka berkata kepadanya, “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Apa reaksi Filipus? Lagi-lagi, ia ragu-ragu terhadap Yesus. Mungkin ia berpikir, untuk apa orang-orang ini mau bertemu Yesus. Yesus manusia biasa, bukan Raja. Maka, ia memberitahukannya kepada Andreas. Reaksi yang muncul dari Andreas berbeda. Ia langsung bersama Filipus membawa mereka kepada Yesus (Yoh 12:12-22).

Dan akhirnya, setelah semua peristiwa itu. Ketika Yesus memberikan wejangan, seluruh hidup dan karya-Nya adalah jendela untuk melihat Allah Bapa. Pertanyaan Filipus menunjukkan kegagalan iman. Filipus bertanya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepadaku.” Yesus begitu kecewa dan berkata, ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:8-11).

Renungan: Bagaimana dengan kita? Kita mengenal dan mengikuti Yesus karena iman warisan yang dimiliki oleh Gereja (orangtua, anak, pasangan hidup, sahabat, rohaniwan/i, pastor, dsb). Melalui rahmat baptisan, kita menjadi anak Allah. Betapa dalamnya kasih Allah yang ditunjukkan-Nya melalui Kristus. Dia hadir dalam hidup kita, tetapi kita sering tidak menyadari kehadiran dan campur tangan-Nya. Apakah pengenalan kita akan Yesus begitu-begitu saja atau makin mengenal dan semakin mencintai-Nya? Marilah kita berusaha lebih mengenal-Nya, dengan merenungkan Sabda-Nya dalam Kitab Suci, bertekun dalam doa, mempunyai kehidupan sakramen yang baik, dan terlibat dalam karya pelayanan.

Filipus dan Andreas hadir dalam pengenalan akan Yesus. Pergulatan imannya sama seperti kita semua. Ada yang positif konsisten, semakin mengenal Yesus. Namun, di sisi lain, secara bersamaan ada yang negatif, semakin tidak mengenal Yesus dan tidak bertumbuh. Kehadiran mereka secara bersama-sama adalah cermin Gereja, yaitu kita semua sebagai murid-murid Tuhan. Tidak ada orang yang sempurna. Bersama dalam komunitas Gereja, seperti dua tokoh Andreas dan Filipus. Ketika berdua-dua, mereka saling mengisi dan melengkapi. Mereka berdua saling bantu dan belajar, menerima satu dan yang lain; baik kekurangan dan kelebihan. Ketika kita menjauhkan diri dari komunitas Gereja, bayangkanlah Filipus tanpa Andreas. Amin.

oleh Daniel Julianto (Seksi Kerasulan Kitab Suci Sathora)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY