Semana Santa di Larantuka

1
1393
Patung Tuan Ma yang menjadi primadona; tingginya 160 cm

Mereka menggelar ritual sengsara Yesus, dipandang dari kesedihan Bunda Maria yang mengikuti kisah sengsara Anaknya hingga wafat di salib.

Prosesi Bahari, perahu beratap yang membawa patung Tuan Meninu
Prosesi Bahari, perahu beratap yang membawa patung Tuan Meninu

TRIHARI Suci diselenggarakan serempak oleh umat Katolik dengan sedikit perbedaan di tempat yang satu dengan di tempat lain. Umat Larantuka yang terletak di ujung timur Pulau Flores memiliki tradisi merayakannya dengan cara yang unik dan meriah yang dinamakan Semana Santa.

Pusat perayaan di Katedral Larantuka, meskipun acara dan ritual juga melibatkan tiga kapela (kapel) lain dan berlangsung dari Kamis putih sampai Sabtu pagi sebelum Paskah.

Dari rangkaian acara yang unik adalah dua acara. Prosesi Bahari, diselenggarakan di selat antara Kota Larantuka dan Pulau Adonara. Jumat Agung tengah hari, Patung Tuan Ninoi/Meninu (Kanak-kanak Tuhan=Bayi Yesus) diarak dalam perahu Peledang, menyusuri tepi laut sejauh 1.5-2 km. Perahu ini diiringi belasan perahu kecil yang didayung dan puluhan kapal motor besar maupun kecil yang dipadati umat.

Masyarakat berdiri di dermaga atau tepi laut menyaksikan prosesi. Ini adalah suasana istimewa yang pertama. Patung Tuan Meninu dibawa ke Kapela Tuan Ma, dipertemukan dengan patung Ibunya. Tuan berarti Tuhan, Tuan Ma (Mama Tuhan = Bunda Maria). Kemudian patung Tuan Ma diarak beriringan dengan Patung Tuan Ana (Tuhan Anak=Yesus) ke Katedral.

Pada pukul 15.00 diadakan Misa Jumat Agung seperti biasa. Setelah itu, acara puncak prosesi lilin yang didahului dengan ritual unik, dimulai pukul 19.00 di Katedral. Ritual adalah pelantunan Mazmur “Yeremia” dengan bahasa daerah lebih dari 30 menit. Pada akhir ritual seorang gadis maju ke depan altar membawa gulungan. Gadis itu membuka gulungan bergambar wajah Yesus yang dimahkotai duri, sambil meratap dengan suara melengking membuat suasana duka di dalam gereja.

Prosesi lilin dimulai, arakan paling depan terdiri dari pembawa bendera/panji-panji, penambuh genderang dan bel klotok dari kayu. Umat yang jumlahnya beribu-ribu orang mengikuti di belakangnya, baru terakhir patung Tuan Ana dan Tuan Ma bersama pengiringnya.

Prosesi lilin diikuti ribuan umat
Prosesi lilin diikuti ribuan umat

Perarakan dimulai sebelum pukul 20.00, dan sekitar pukul 01.00 barisan terdepan baru kembali ke gereja. Padahal jarak yang ditempuh selama prosesi sekitar dua kilometer. Barisan prosesi diatur oleh panitia yang jumlahnya ratusan orang; sebagian besar para pemuda. Barisan empat orang di sebelah kiri, empat orang di sebelah kanan, dan di tengah ada jalur untuk lalu-lalang panitia. Perasaan haru timbul melihat begitu banyak umat Katolik bisa berkumpul dan mengikuti prosesi bersama. Jalan juga penuh orang menonton, sejauh mata memandang ke depan maupun ke belakang yang terlihat hanya orang dan orang yang semuanya memegang lilin menyala di tangan. Sambil berjalan, mereka menyanyikan lagu rohani atau berdoa rosario. Di sepanjang jalan yang dilalui ada pagar bambu yang dipasangi lilin-lilin. Di tempat-tempat tertentu ada perhentian seperti altar kecil. Di sana rombongan inti akan berhenti dan membacakan doa ritual.

Acara ini melibatkan umat Katolik dari desa, kota maupun pulau lain di Flores. Juga rombongan umat yang datang dari Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota lain. Belum lagi perorangan yang datang dan puluhan orang asing. Ada seorang ibu dari Bandung, usianya 60-an tahun, sudah empat kali datang di acara serupa. Ada ibu lain mengaku sudah delapan kali ikut.

 

Tradisi Semana Santa tidak lepas dari pandangan kekristenan masyarakat Flores. Mereka mengagungkan atau berdevosi kepada Ibu Maria. Mereka menggelar ritual Semana Santa di mana sengsara Yesus dipandang dari kedukaan/kesedihan Bunda Maria atau Tuan Ma yang mengikuti kisah sengsara Anaknya sampai wafat di salib.

1 COMMENT

  1. yang menjadi pusat disaat prosesi jumat agung adalah sebenarnya Tuan Ana (peti berwanra hitam yang diusung oleh 4 orang berjubah putih dan bertopi merah). dihari jumat siang setelah patung Tuan Menino diantar ke pante Kuce (Pantai tempat pendaratan Tuan Menino) di Pohon Sirih, Tuan Menino langsung diarakan ke Armida (Stasi) Tuan Menino, bukan kepada Tuan Ma.

LEAVE A REPLY