Ekaristi dalam Perjanjian Lama dan Baru

0
433

KELUARGA Milo baru saja mengikuti Perayaan Ekaristi pada pukul 08.30. Dalam perjalanan ke Puri Mall, anaknya Rico bertanya kepada papinya yang menjadi katekis di paroki. ”Pi, apakah tanda-tanda yang menggambarkan Ekaristi dalam PL dan PB?”

Jawab papinya, ”Rico, ada banyak tanda yang kaya arti, yang menubuatkan Ekaristi dalam Perjanjian Lama. Bahkan Gereja menegaskan bahwa sejarah umat Israel mempersiapkan dan mempralambangkan kedatangan Yesus Kristus yang adalah Tuhan yang menjadi manusia, yang tinggal di tengah-tengah kita dan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban untuk keselamatan kita.”

Lalu, sang papi menjelaskan beberapa benda yang mempralambangkan Ekaristi dalam PL dan PB, yaitu:

  • Roti dan Anggur, yang dipersembahkan sebagai kurban oleh umat Israel sebagai hasil bumi yang pertama, sebuah tanda syukur kepada Allah Sang Pencipta.
  • Manna (kata bahasa Yahudi yang berarti ”apa itu”; Man-hu) adalah makanan yang menjadi santapan umat Israel ketika mereka berada di padang gurun (baca Kel. 16:11-15). Manna tidak lebih dari sebuah jenis Dalam PB, Yesus berkata, ”Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh.6:48-51).
  • Roti Tak Beragi, yang dimakan oleh bangsa Ibrani setiap tahun pada perayaan Paskah.
  • Anak Domba, karena kejinakan dan kemurniannya, sering digunakan dalam seni kristiani untuk menggambarkan Kristus, yang mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban untuk menjadi ”Makanan dan Minuman kita” dalam Ekaristi (baca Kis.8:32, 1:29, 1 Ptr.1:19), juga tertulis dalam PL (Yes.53:7).
  • Ular yang ditinggikan di padang gurun adalah simbol Kristus yang ditinggikan pada salib yang menyelamatkan seluruh umat manusia berkat pengorbanan-Nya (baca Bil.21:8 dan bandingkan dengan Yoh. 3:14-15).

Rico pun bertanya lagi, ”Papi, kalau begitu apakah ada perbedaan mendasar antara perjamuan orang Yahudi dan Perjamuan Ekaristi yang sering kita rayakan?”

Jawab papinya, ”Co, dalam perjamuan Yahudi, daging hewan (anak domba) dimakan untuk mengenang pembebasan orang Ibrani dari perbudakan Mesir, juga syukur atas masuknya mereka ke Tanah Terjanji (Kanaan). Sedangkan dalam Perayaan Ekaristi yang sering kita rayakan, justru kita menyantap Tubuh Kristus (Anak Domba Allah), dan kita merayakan wafat dan kebangkitan-Nya yang membebaskan kita dari dosa dan kita juga dimasukkan ke dalam kehidupan baru sebagai putra dan putri Allah. Kelak, kita akan dipanggil untuk berbagi kebahagiaan abadi.”

Kemudian, lanjutnya, “Rico, Papi mau menambahkan bahwa dalam PL terdapat beberapa tokoh yang mempralambangkan Kristus dan kurban-Nya, antara lain:

  • Habel yang tidak bersalah tetapi dibunuh oleh Kain, saudaranya (baca Kej.4).
  • Ishak, Bapa leluhur kita yang akan dikurbankan demi kemuliaan Tuhan oleh bapanya, Abraham, tetapi diselamatkan oleh Allah sendiri (baca Kej.22:1-18).”

Komunikasi keluarga Milo berlangsung makin mantap dan penuh semangat, kemudian sang papi menambahkan, ”Anakku, contoh-contoh yang Papi berikan tadi hanyalah beberapa dari banyak pralambang Kristus dan anugerah luar bisa yang Ia wariskan kepada kita, yakni Ekaristi. Bahkan Gereja menegaskan bahwa seluruh sejarah umat Israel adalah persiapan dan pralambang kedatangan Yesus Kristus, yakni Tuhan yang menjadi manusia, yang tinggal di antara kita, dan yang mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban untuk menyelamatkan kita semua.”

Perbincangan tentang ajaran iman pun semakin menggelitik rasa ingin tahu mereka. Adik Rico, si Enita, ikut melontarkan pertanyaan, ”Papi, bagaimana kalau seandainya katekumen (calon baptis) Papi bertanya, siapakah yang menetapkan Misa Kudus?”

Jawab papinya, ” Ya pasti, Kristus Tuhan yang menetapkan Misa Kudus pada hari Kamis Putih (malam saat Ia dikhianati = Perjamuan Terakhir).”

Kemudian istrinya juga bertanya, ”Pi, kata-kata apa dan sikap apa yang digunakan Kristus untuk menetapkan Misa Kudus?”

Lanjut sang papi, ”Keluargaku yang mencintai Yesus sebagai Tuhan dan sahabat, kita pernah membaca ‘kan dalam Injil bahwa Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya seraya berkata: Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu: Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19). Demikian juga dibuat-Nya setelah mereka selesai makan, Ia mengambil cawan dan berkata: Cawan ini adalah Perjanjian Baru oleh Darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk. 22:20).

Dalam komunikasi mengenai iman tersebut, sang papi juga menegaskan, ”Yesus menubuatkan Misa Kudus sebelum Ia menetapkannya. Kapankah? Atau dalam peristiwa apa? Keluargaku yang baik, Yesus menubuatkannya dalam banyak kesempatan dan dengan berbagai macam cara. Secara khusus, Ia melakukan mukjizat pelipat-gandaan roti, sebuah mukjizat yang dengan sendirinya merupakan tanda yang memperlambangkan Ekaristi (baca Yoh.6:11-13). Ia berkata, ”Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Akhirnya, ditambahkan pula peristiwa yang lain:

  • Ketika Yesus mengubah air menjadi anggur dalam perjamuan nikah di Kana (baca Yoh. 2:1-12). Ia menunjukkan kuasa-Nya untuk mengubah b
  • Ketika Ia membangkitkan Lazarus (baca Yoh. 11:1-44), Ia menunjukkan kuasa-Nya untuk memberikan kehidupan.
  • Ketika Ia menyembuhkan pria yang buta sejak lahir (baca Yoh. 9:1-41). Yesus menunjukkan bahwa Ia mampu memberikan penglihatan kepada yang buta.
  • Dalam peristiwa di mana Yesus meredakan angin ribut di danau (baca Mat.8:23-26). Yesus menunjukkan bahwa Ia mampu menguasai alam. Sebagaimana Ia menenangkan para murid-Nya yang setelah dilanda ketakutan berseru: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Saat mengakhiri obrolan tentang ajaran iman, sang papi berkata, ”Mami, Rico, dan Enita yang Papi sayangi, Yesus sungguh menyempurnakan semua karya-Nya dalam Perayaan Ekaristi. Ia mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya, dan melalui Ekaristi, Ia memberikan hidup-Nya bagi dunia. Berkat Tuhan menyertai kita semua ya.” (Adri)

SHARE
Previous articleRosa-Rio
Next articleZiarah ke Gereja-gereja di Israel

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY