Keluarga atau Gereja?

0
631

Saya, Dina, dan suami saya, Doni. Kami sudah berkeluarga selama 15 tahun, dikaruniai dua anak. Awal perjalanan keluarga cukup harmonis. Sekitar dua tahun lalu, suami mulai aktif dalam kegiatan Gereja, bahkan sekarang, sangat aktif. Akibatnya, saya merasa mulai dinomor-duakan. Ada saja kegiatan yang dilakukannya, sehingga saya merasa semakin tidak nyaman dan tergeser. Saya jadi sering bertanya kepadanya, “Kamu lebih menyayangi keluarga atau Gereja?

Pasutri Ibu Dina dan Bapak Doni yang terkasih. Salam damai sejahtera bagi keluarga. Puji syukur, kalian sudah menjalani kehidupan berkeluarga selama 15 tahun, dengan dua anak, meski dalam dua tahun terakhir ini mulai ada batu sandungan sebagaimana yang Ibu rasakan. Semoga tanggapan kami bisa objektif baik bagi Ibu maupun suami.

Berkeluarga adalah suatu panggilan yang mulia, menggereja juga merupakan panggilan yang mulia.

Menurut kami, keluarga merupakan Gereja kecil yang dibangun dengan kebersamaan dalam iman, dengan tujuan kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama. Kami membayangkan apa yang membuat suami jadi aktif dalam menggereja. Pasti ada gerakan Roh Kudus sehingga ia mau ikut ambil bagian dalam pengembangan iman dan mewujudkannya dalam pelayanan.

Seseorang yang mengikuti Seminar Hidup Baru Dalam Roh (SHBDR), Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) atau retret/rekoleksi biasanya tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu yang baik. Tentu berbuat sesuatu yang terbaik pula bagi keluarga.

Sepertinya ada sedikit kurang komunikasi di antara Anda berdua. Apakah hanya masalah waktu atau ada masalah tanggung jawab yang diabaikannya juga; apa yang terjadi kurang jelas. Pernyataan bahwa sekarang suami aktif dalam menggereja rasanya hanya masalah waktu, sehingga Anda merasa tidak mendapat waktu kebersamaan secara utuh bersamanya.

Cobalah Anda meminta waktu untuk dialog bersama secara khusus, daripada hanya melontarkan pertanyaan yang menyudutkannya untuk menjawab antara keluarga atau Gereja. Bila menjawab salah satu, pasti akan ada yang tersakiti. Hal ini perlu digali dan dimengerti bersama.

Ada beberapa bahan yang bisa didialogkan bersama. Misalnya, soal waktu dalam satu hari, satu minggu, satu bulan:

  1. Waktu untuk bekerja ( … jam) , 2. Waktu untuk diri sendiri misalnya untuk olah raga dll (…jam), 3. Waktu untuk keluarga (…jam), 4. Waktu untuk Gereja (…jam), 5. Waktu untuk bermasyarakat (… jam) , 6 Waktu untuk Tuhan (… jam). Apakah ada waktu yang berlebihan atau ada waktu yang terbuang tak berguna? Atau mungkin tidak kebagian waktu sama sekali, atau sedikit sekali memperoleh waktu.

Nah, dialog ini mungkin bisa membantu untuk melihat porsi yang tidak pas. Apakah ada waktu ke gereja bersama? Apakah ada partisipasi dalam kegiatan lingkungan? Apakah ada waktu doa bersama dalam keluarga? Apakah ada waktu rekreasi keluarga? Tujuan pertanyaan ini bukan untuk mempertajam, tetapi lebih pada pengaturan dan kesadaran bahwa kita tidak memberi porsi yang pas.

Apa yang dilakukan oleh suami tidak sepenuhnya jelek. Ibu harus bersyukur karena apa yang dilakukannya merupakan kegiatan Gereja, bukan sesuatu yang tidak berarti dan tak berguna. Namun, perasaan Ibu juga sangat kami hargai. Semoga suami juga tidak mematikan semangat pelayanannya. Mungkin Ibu bisa ikut bersama suami, walaupun porsinya tidak sepenuhnya, sehingga Ibu bisa semakin menghayati apa yang dilakukannya.

Semoga dialog Ibu dengan suami dapat berjalan dengan baik; suami bisa mengerti apa yang Ibu rasakan, dan Ibu bisa semakin mengerti mengapa suami saat ini betul-betul aktif dalam kegiatan Gereja. Jadi, ada kontrol dan kendali demi saling menghargai pasangan, keluarga, perkembangan dan pertumbuhan iman, serta peran serta bagi Gereja.

Berkat senantiasa menyertai keluarga Ibu Dina dan salam buat suami, Bapak Doni tercinta. Sertakan Tuhan dalam keluarga dan setiap perkara!

Sie Kerasulan Keluarga

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY