Tempat Peziarahan di Mesir

0
2042
Gunung Sinai

Perjalanan ziarah diambil dari pengalaman penulis selama mengikuti rangkaian Ziarah ke Holyland (Mesir- Israel – Jordania) selama 12 hari, mulai 24 Juli – 4 Agustus 2014. Keberangkatan dari Tanah Air, singgah di Malaysia kemudian perjalanan diteruskan menuju ke Kuwait City, Kuwait. Dari Kuwait menuju kota Kairo Mesir selama dua jam perjalanan udara.

Peziarahan di awali di Kairo Mesir, di mana terdapat beberapa tempat yang merupakan bagian sejarah perjalanan nabi dan perjalanan Keluarga Kudus saat berada di Mesir.

Beberapa tempat yang menjadi rangkaian ziarah di Mesir ini, meliputi :

Gereja Alkitab Mengapung

Gereja Alkitab Mengapung
Gereja Alkitab Mengapung

Dimulai dari kota Kairo Mesir, kunjungan pertama langsung ke Gereja Alkitabiah Mengapung (Gereja St. Perawan Maria). Gereja ini berada di pinggir Sungai Nil, sungai terpanjang di dunia yang membentang dari Afrika Tengah dan bermuara di Laut Tengah. Sungai yang menghubungkan Asia dan Eropa. Di tempat ini diceritakan bahwa Tuhan memberikan sepuluh tulah kepada orang Mesir, sebagai akibat dari kekerasan hati Firaun menahan orang Israel.

Mahadi nama lain tempat ini, yang artinya tempat penyeberangan di mana Keluarga Kudus menyeberang dari Israel menuju ke selatan Mesir pada saat menghindar dari pembunuhan yang dilakukan oleh Kaisar Romawi Herodes.

Pada 12 Maret 1976, mukjizat terjadi bagi orang Koptik Ortodoks saat berada di tempat ini. Ia melihat sebuah kotak mengapung berjalan ke arah yang bertentangan dengan arus air, menuju ke arah gereja. Isinya, Alkitab berbahasa Mesir, ukuran 30 cm x 50 cm dan di dalamnya terdapat ayat Yesaya, “ . . .yang berisi memberkati umatmu di Mesir”. Karena peristiwa itu maka dibangunlah di tempat ini sebuah gereja yang dinamakan Gereja Alkitab Mengapung.

Gereja Abu Serga

Gereja Abu Serga
Gereja Abu Serga

Diperkirakan dibangun di atas tempat tinggal Yusuf, Maria, dan bayi Yesus saat mereka melarikan diri ke Mesir pada zaman Herodes. Gereja Abu Serga yang dibangun pada abad ke-4 mempunyai 12 tiang unik yang dekorasinya berupa lukisan para rasul. Gereja Koptik Ortodoks ini dibangun di atas tempat tinggal Keluarga Kudus selama tiga bulan, yaitu di sebuah gua kecil di bawah tanah. Atap seperti bahtera Nabi Nuh. Setiap gereja memiliki dua podium sebagai simbol Gunung Sinai, yaitu untuk membaca Alkitab dalam bahasa Arab dan bahasa Koptik (campuran bahasa Yunani dan Mesir).

Di bagian depan gereja terdapat kaca yang menutupi lubang, yang dipakai untuk mencuci kaki mereka yang datang ke gereja, seperti Yesus mencuci kaki rasul. Tempat tinggal Keluarga Kudus (Maria, Yusuf, bayi Yesus) ketika menyingkir ke Mesir, pada saat pasukan Herodes hendak membunuh bayi-bayi laki-laki. Ada sumur yang dipakai Keluarga Kudus selama hidup di gua.

Ben Ezra Sinagoge

Ben Ezra Sinagoge
Ben Ezra Sinagoge

Konon, menurut sejarah, gereja yang berlokasi di belakang Gereja Gantung terpaksa dijual kepada Rabi Abraham Ben Ezra dari Yerusalem seharga 20.000 dinar. Penyebabnya, karena orang-orang Koptik saat itu harus membayar pajak yang demikian tinggi kepada pemerintah yang berkuasa di Mesir.

Orang Yahudi menganggapnya sebagai tempat suci karena di tempat ini ditemukan keranda bayi Musa. Nama Musa berarti ditarik dari air. Gereja dibangun di lokasi di mana Nabi Musa saat masih bayi dihanyutkan di Sungai Nil, yang kemudian ditemukan oleh Putri Firaun bersama-sama para dayangnya saat mereka sedang mandi di sungai itu. Saat ini, fungsi Ben Ezra Synagouge lebih merupakan suatu peninggalan sejarah dari keberadaan umat Israel yang pernah bermukim di Mesir.

Gereja Gantung

Gereja Gantung
Gereja Gantung

Gereja Gantung adalah Gereja Kristen Koptik yang cukup terkenal di antara gereja-gereja yang berada di Kairo, serta kemungkinan merupakan gereja pertama yang dibangun dengan gaya Basilcan. Didedikasikan kepada Perawan Maria, karena itulah, gereja ini juga dikenal sebagai Gereja Santa Perawan Maria. Gereja Gantung dibangun untuk tempat beribadah para prajurit yang mendiami benteng lama Babilonia. Gereja Gantung terletak satu kompleks dengan beberapa gereja lainnya di satu kesatuan Kompleks Kristen Koptik Mesir.

Gereja ini disebut juga Al-Muallaqa, yang artinya sesuatu yang digantung. Gereja dibangun di atas tanah dan ditopang oleh dua menara. Terdapat kayu pohon kurma. Untuk memasuki gereja ini, kita harus menaiki 29 anak tangga. Di puncak anak tangga, terletak pintu masuk Gereja Gantung. Kita akan disambut dengan pemandangan tiga buah pintu kayu indah yang dihiasi oleh pola-pola geometris, dibingkai dengan ukiran-ukiran dekoratif pada dinding batunya.

Gereja Sampah

Gereja Sampah
Gereja Sampah

Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan ke Gereja St. Simon The Tanner atau Gereja Sampah. Perjalanan menuju gereja ini harus menelusuri rumah-rumah penduduk yang di kanan-kirinya menampung sampah. Kebanyakan penduduknya beragama Koptik Ortodoks (St. Markus sebagai pemimpin pertamanya). Saat itu hidup Simon (Simeon) sebagai Simon The Tanner, artinya Simon Si Penyamak Kulit.  Simon adalah seorang penganut Koptik Ortodoks yang hidup semasa pemerintahan Muslim Fatimiyah Khalifah Al-Muizz Li-Deenillah (Tahun 953-975). Saat itu, Paus Koptik Ortodoks Abraham Suriah diminta untuk membuktikan kebenaran bagian Alkitab.

Tertulis di Alkitab mengenai “ … memiliki iman sebiji sesawi akan memindahkan gunung” diyakini adalah hal yang benar dan terjadi. Saat Abraham berdoa di Gereja Perawan Suci (Gereja Gantung), ia melihat Perawan Suci dan menyuruhnya pergi ke pasar besar seraya berkata, “Engkau akan menemukan seorang pria bermata satu dan di bahunya membawa sebotol penuh air. Engkau harus memintanya untuk menyelesaikan apa yang dituntut daripadamu, karena di tangannya keajaiban akan terwujud.”

Simeon juga meminta Abraham untuk menangis dan berdoa. Abraham mengikuti seluruh apa yang diminta oleh Simeon dan Bukit Mokattam pun terangkat dan bergeser.

Gunung Sinai

Gunung Sinai
Gunung Sinai

Pada malam harinya, perjalanan dilanjutkan ke Gunung Sinai. Di situ Musa mendapatkan dua loh batu dari Tuhan, yang berisi Sepuluh Perintah Allah. Gunung Sinai dikenal juga sebagai Gunung Horeb/Gunung Musa, sebuah gunung di dekat Saint Catherine di Semenanjung Sinai di Mesir. Gunung yang menjadi sangat terkenal sebagaimana Alkitab menyatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah diberikan kepada Musa untuk menjadi pedoman umat-Nya. Dari St. Catherine, Gunung Sinai adalah persinggahan terakhir ziarah di Mesir sebelum menuju tanah Israel. Gunung itu berada di ketinggian 2.300 di atas permukaan laut. Perjalanan selama 1,5 jam (juga bisa dengan naik onta), masih menaiki sekitar 750 anak tangga membutuhkan waktu satu jam dan turun kembali sekitar dua jam. Di puncak Gunung Sinai ada kapel kecil. Lokasinya di dekat tempat diletakkannya dua loh batu yang berisi Sepuluh Perintah Allah.

Perjalanan ziarah kami di Negara Mesir berakhir di St. Catherine, di wilayah Gunung Sinai.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY