Tanda Salib

0
1273

Konsultasi Iman-03-Salib copyDalam rubrik ini, kami akan mengulas dua pertanyaan yang masuk. Pertanyaan ini terkait saat umat masuk ke gereja dan mengikuti Misa Kudus, yang dijawab oleh Romo Paroki.

Pertanyaan 1:

Berapa Kali Tanda Salib pada saat Misa?

Berapa kali tanda salib perlu kita lakukan pada saat mengikuti Misa? Ada yang bilang hanya dua kali, yaitu pada saat berkat pembuka dan penutup Misa. Mohon penjelasan. Terima kasih.

Jawaban:

Pada umumnya tanda salib hanya dilakukan dua kali dalam Misa, yaitu pada awal Misa dan berkat penutup. Ditambah dengan tiga tanda salib kecil dalam dialog yang mengawali bacaan Injil. Arti tiga tanda salib kecil itu sebagai berikut: semoga kita mengerti Firman Tuhan dengan pikiran kita (salib di dahi), mewartakannya dengan mulut (salib di mulut), dan menghayatinya dalam hati (salib di dada). Juga jika pemercikan air suci diadakan. Di luar itu, tidak perlu ada tanda salib lain.

Tidak perlu artinya kalau dibuat itu tidak menambah apa-apa, malahan salah-salah membuat kita salah mengerti tentang penghayatan Misa sebagai kesatuan utuh dari awal sampai akhir.

Apakah dilarang membuat tanda salib di luar yang dua itu? Ya dilarang sih tidak, berdosa juga tidak … tapi tidak perlu.

Pertanyaan 2:

Apakah Kita perlu Membuat Tanda Salib dengan Air Suci saat Mau Keluar dari Gereja?

Pada saat memasuki gereja, kita mengambil air suci dan membuat tanda salib. Apakah pada saat keluar dari gereja, kita perlu melakukan hal yang sama? Terima kasih.

Jawaban:

Pada saat kita memasuki gereja, kita mencelupkan ujung jari-jari kita ke dalam bejana air suci, dan dengan air itu kita membuat tanda salib. Hal ini mengingatkan kita akan makna pembaptisan kita, yaitu pertobatan, pengudusan, kehidupan baru di dalam Kristus dalam kesatuan dengan Allah Bapa, Allah Putra, dan Roh Kudus, dan partisipasi kita sebagai anak Allah di dalam misi Kristus. Hal ini bermakna pembersihan diri (raga dan hati). Pembersihan ini diperlukan supaya kita siap untuk mengikuti doa, Misa atau upacara gereja lainnya, terutama bila kita mau menerima Tuhan dalam bentuk Ekaristi Kudus. Hal ini bisa dibandingkan dengan “wudu” yang dilakukan oleh saudara kita yang beragama Islam.

Maka, pada saat mau keluar dari gereja, kita tidak perlu lagi membersihkan diri. Kita tidak perlu mencelupkan kembali tangan kita ke air suci.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY