Devosi Kristiani

0
483

KONSULTASI IMAN

Umat Katolik sering kali berdevosi kepada Bunda Maria ataupun santo dan santa lainnya. Apakah ada batasan devosi dan seberapa jauh kita boleh berdevosi?

 

Jawaban:

Pertama, terima kasih untuk pertanyaan yang bagus sekali ini. Saya akan mencoba menjawabnya dengan lengkap dan semoga dapat dimengerti.

Berbicara tentang devosi dalam Gereja katolik, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu apa definisi yang tepat dari Devosi Kristiani. Devosi Kristiani atau yang disebut “ulah kesalehan” adalah sebuah aktivitas rohani yang berakar dari kebudayaan suatu daerah yang bertujuan untuk memajukan semangat religius umat yang bertumbuh dalam kebijaksanaan Injil dan memperkaya kehidupan kristianinya (bdk. Katekismus Gereja Katolik art. 1674; 1679).

Katekismus Gereja Katolik menyebut beberapa ulah kesalehan yang muncul menyertai kehidupan Gereja, seperti penghormatan relikwi, kunjungan ke tempat-tempat kudus, ziarah dan prosesi, jalan salib, tarian-tarian religius, rosario, dan medali. Devosi berkembang sepanjang sejarah manusia dan Gereja Katolik menerima itu semua sebagai kekayaan dalam tradisinya.

 

Kedua, maka batasan devosi menjadi jelas. Devosi yang bisa dilakukan oleh umat adalah devosi yang memang mengantar kita semakin mengembangkan pengetahuan mengenai misteri Kristus. Devosi yang malah menjauhkan relasi kita dengan Allah dan Kristus serta Gereja-Nya merupakan devosi yang tidak benar sama sekali. Oleh karena itu, perayaannya haruslah berada di bawah pengawasan dan keputusan para Uskup dan sesuai dengan hukum dan norma-norma Gereja (SC 13, bdk. Katekismus Gereja Katolik art. 1676).

 

Ketiga, kehidupan iman Kristiani Liturgi, khususnya Ekaristi menjadi sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani (LG 11). Meski begitu, liturgi sendiri bukanlah satu-satunya kegiatan Gereja. Ada yang kita kenal dengan bertapa, meditasi, sakramen-sakramen, katekese, dan salah satunya adalah devosi. Maka, liturgi khususnya Ekaristi menjadi yang terutama, sedangkan kegiatan rohani lainnya, termasuk devosi melanjutkan kehidupan liturgi Gereja. Ia menambah namun tidak menggantikan.

 

Analogi di atas bisa dibuat seperti ini: Ekaristi adalah makanan utama kita empat sehat lima sempurna. Devosi adalah suplemen makanan, entah dalam bentuk pil vitamin atau multivitamin. Suplemen menambah gizi yang dibutuhkan tubuh tapi tidak pernah bisa menggantikan makanan utama. Oleh karena itu, lebih memilih berdoa rosario semalam suntuk daripada menghadiri perayaan Ekaristi pada waktu yang sama adalah sebuah kekeliruan. Kekeliruan semakin menjadi jika kita berdoa rosario atau devosi lainnya ketika perayaan Ekaristi sedang berlangsung.

 

Di Paroki kita ada juga contoh praktik devosi yang sudah benar. Misalnya, pada setiap Jumat pertama devosi Adorasi Sakramen Mahakudus dilakukan setelah perayaan Ekaristi. Devosi mencium relikwi St. Peregrinus juga dilakukan setelah perayaan Ekaristi. Pada Bulan Maria, doa rosario selalu dilakukan sebelum atau sesudah perayaan Ekaristi.

Maka, saya menganjurkan agar kita memiliki minimal satu devosi yang betul-betul cocok bagi perkembangan hidup rohani kita. Karena melalui devosi, kita mengungkapkan iman pribadi kita kepada Allah lewat cara-cara yang sangat personal dan menyentuh.

 

Keterangan singkatan:

LG: Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja – Konsili Vatikan II

SC: Sacrosanctum Consilium, Konstitusi Dogmatis tentang Liturgi Suci – Konsili Vatikan II

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY