Tak Kunjung Dikaruniai Anak

2
352
Pemberkatan Ibu Hamil dan Yang Mendambakan Anak dalam perayaan Ekaristi

Dear Merasul,

saya Elisabeth dan suami Elias, warga salah satu lingkungan di paroki ini. Kami sudah berkeluarga selama delapan tahun, namun sampai saat ini kami belum dikaruniai anak. Saya sangat merindukan anak, demikian pula suami. Kami sudah memeriksakan diri ke dokter dan mengikuti anjurannya, namun masih belum membuahkan hasil. Kami juga rajin berdoa, memohon kepada Tuhan agar kami dikaruniai anak.

 

Jawaban:

Pasutri Elisabeth dan Elias yang terkasih, terima kasih Anda telah menyampaikan keresahan dan harapan Anda ingin mempunyai anak kepada kami. Mari kita lihat sebentar dalam Kitab Kejadian 1: 28, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi.”

Di samping itu, mari kita lihat juga Keluarga Kudus dari Nasaret. Maria mendapat kabar gembira dari Malaikat bahwa ia akan mengandung. Awalnya, Maria ragu akan kabar tersebut, apalagi dia belum menikah saat itu. Namun, karena iman dan kepercayaannya kepada Tuhan, ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku seturut perkataanmu.” Maria wanita sederhana, namun ia sungguh percaya apa yang menjadi kehendak Tuhan. Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya, Yesus.

Lihatlah ini; apa yang menjadi kehendak manusia dan apa yang menjadi kehendak Allah. Kadang kala berbeda. Kalian menghendaki anak dan sudah berusaha berbagai cara, tapi sampai saat ini Tuhan belum berkehendak kepada kalian. Padahal Allah telah berfirman, beranak cuculah dan bertambah banyak. Ada sebagian pasangan yang gampang punya anak, ada yang sampai memiliki “kesebelasan”. Tetapi, ada pula yang mencoba mempertahankan diri untuk tidak punya anak.

Pasutri Elisabeth dan Elias yang terberkati. Berkat menjadi kata kunci. Sebelum berfirman, Allah memberkati mereka. Nah, berkat yang menjadi jalan menuju kehendak; kehendak Allah dan kehendak manusia. Coba yakini dan imani bahwa kalian menerima berkat terlebih dahulu, baru berpasrah terjadilah apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Di gereja, ada Pemberkatan Ibu Hamil dan Yang Mendambakan Anak setiap dua bulan sekali. Kembali ini juga soal berkat; berkat yang harus diterima, berkat yang akan disalurkan, berkat yang akan mengalir. Berkat bagi yang sudah hamil, dengan harapan anak yang dikandung tetap sehat dan lahir selamat, berkat pula bagi yang mendambakan anak.

Kalian sudah delapan tahun bersama, berusaha, dan berjuang. Namun, saling percaya dan saling setia juga merupakan berkat tersendiri dalam keluarga kalian. Jika kalian berkenan mengikuti acara Pemberkatan Ibu Hamil dan Yang Mendambakan anak, siapa tahu harapan dan berkat itu bisa terjadi. Bunda Maria juga bisa menjadi teladan, bahwa imannya yang teguh membuat yang ragu menjadi penuh keyakinan, dan akhirnya menjadi berkat keselamatan.

Semoga tanggapan kami ini juga menjadi berkat bagi kalian berdua. Kami akan membantu dalam doa, kerinduan dan harapan kalian berdua. Anak adalah anugerah. Tuhan memberkati.

(Anton)

2 COMMENTS

  1. Dear Merasul,
    Saya Sera yang sudah menikah 8 rahun dan belum dikarunia anak. Segala usaha telah kami lakukan dan belum ada hasil. Sementara dokter telah mengatakan harapan tipis, kami mencoba mencoba membagi cinta kami ke anak dengan mengunjungi panti asuhan. Dan seolah tangan Tuhan mengikuti, seorang anak yang lemah perkembangannya memilih kami. Dari berusaha membuat dia pulih dari keterlambatan perkembangan menjadi sebuah cinta yang belum pernah kami miliki. Cinta orang tua ke anak. Namun pihak panti belum mengijinkan kami membaea pulang si kecil. Dan hal tersebur membuat kami kalut saat si kecil tak mau lepas ppelukannya saat jam berkunjung telah habis. Dan seolah kami terbanting pada saat kami tak bisa menemuinya dengan alasan yang tidak dijelaskan. Sekarang bukan lagi tentang kami, tapi tentang si kecil yang mungkin merasa kehilangan kami. Kami ingin minta bantuan ke mana untuk dapat membawa pulang anak yang sudah seperti anak sendiri. Bingung, dan menjari jalan namun tak mengerti harus ke arah mana.
    Mohon saran. Terima kasih
    Salam – Sera

LEAVE A REPLY