Menembus Kehampaan

0
13532

“KETEMU di lobi…,” suara Andre melalui telepon. Nadia melirik jam tangan yang selalu menempel di pergelangan tangan kirinya, pukul 12.10. Rupanya meeting dengan Pak Mario, GM HRD di kedai kopi tadi cukup lama. Setelahnya, ia hanya berdiskusi dengan Sandy. Sebagai penanggung jawab, keduanya mematangkan rencana kick off meeting di Bandung, minggu depan, yang akan dihadiri seluruh Direksi.

“Magda… ayo ke lobi, Andre sudah turun,” Nadia menelepon teman makan siangnya. Mereka tidak satu bagian, jabatan pun berbeda-beda tetapi secara rutin mereka meluangkan waktu untuk bertemu. Awalnya, terjadi saat Misa Jumat Pertama yang diadakan rutin oleh perusahaan. Andre dan Magda adalah pengurusnya, sedang Nadia hanyalah peserta yang datang jika sempat.

Magda membuka bekal makan siang begitu mereka sampai di food court. Andre segera mencari menu makan siang yang banyak tersedia di tempat itu.

“Aku cari makanan dulu ya…,” Nadia menyusul Andre seraya meninggalkan botol minum yang selalu dibawanya.

“Kemarin aku menemani istri mengadakan pengobatan gratis,” Andre membuka percakapan sambil menyantap makan siangnya. “Capek juga, mana panas lagi…,” lanjutnya.

“Sabtu depan lingkunganku ke lapas (lembaga pemasyarakatan). Sebenarnya aku ragu untuk ikut. Kata teman yang sudah sering pelayanan di sana, pemeriksaan sangat ketat,” Magda menimpali.

“Oh ya, kita cari batik Sabtu berikutnya ya, maaf aku lupa jadwal Sabtu ini,” kata Magda kepada Nadia. Nadia mengangguk dalam diam. Ia hanya menjadi pendengar jika kedua temannya itu bercerita tentang kegiatan sosial. Baginya, aneh mengikuti hal semacam itu. Ke gereja seminggu sekali, berbuat baik, dan mendermakan sebagian materi, sudah cukup. “Toh, aku tidak berbuat jahat,” pikirnya.

Nadia membaca sepintas undangan dari lingkungan, Misa 40 hari salah satu warga. Ia segera mandi dan menyiapkan makan malam bagi keluarganya. Tidak lama kemudian, Melani sudah duduk di meja makan.

“Mama, minggu depan sekolah mengadakan retret di Sukabumi, Jumat sampai Minggu,” kata putri tunggalnya yang duduk di bangku SMP.

“Papa ke Batam, berangkat Kamis dan pulang Sabtu pagi,” Bram, suaminya menimpali. Mereka bertiga makan malam bersama. Tidak banyak pembicaraan, hanya sesekali terdengar suara gesekan sendok dengan piring. Selesai makan, masing-masing menyebar menuju tempat favoritnya. Melani ke ruang belajar, suami membuka laptop, dan Nadia menonton TV.

Dalam keheningan malam Nadia terdiam. Ia merasakan hadirnya kehampaan. Rutinitas antara rumah dan kantor seperti membelenggunya. Semua tidak berarti! Padahal di kantor, ia cukup disegani. Prestasi kerjanya bagus, ide-idenya pun gemilang. Usaha suami maju, kurang apalagi? Nadia merasa ada yang kurang. Ia sendiri di antara suami dan anaknya. Siaran TV pun tidak digubrisnya.

“Sekarang, aku punya teman akrab di lingkungan. Minggu depan, kami akan pergi ke toko buku bersama,” kata Magda riang.

“Senang ‘kan memiliki teman di luar kantor?” Andre menimpali.

“Iya, kadang-kadang kami belajar memasak, bahkan saat banjir aku menumpang mandi di rumahnya.”

“Jangan lupakan keluarga,” Andre mengingatkan.

Nggaklah… apa yang kulakukan selalu seijin suami.”

Nadia merasa iri dengan kedua teman makan siangnya. Hidup Andre sederhana, posisi di kantor tidak memungkinkan ia mendapat gaji sebesar dirinya. Kedua anaknya masih balita, sementara istrinya seorang ibu rumah tangga yang sesekali menerima order kue dan jahit baju. Andre tidak pernah mengeluh, keluarganya terlihat damai. Kegiatannya tidak hanya di lingkungan gereja, tetapi juga di RT dan RW di mana ia tinggal.

Sementara Magda menjalani hidup rumah tangga tanpa kehadiran anak. Kondisi ini diterima sebagai kesempatan untuk berbagi dengan orang lain. Keponakannya yang masih duduk di bangku SMA tinggal di rumahnya. Secara rutin, ia memberi uang obat untuk mertua yang mulai sakit-sakitan. “Memberi tidak harus menunggu kalau ada lebih, supaya tidak menyesal di kemudian hari,” prinsipnya. “Toh, memberi tidak harus materi tetapi bisa waktu, tenaga atau pikiran.” Nadia dapat memperkirakan gaji Magda, seorang staf biasa di kantornya. Agar cukup, ia selalu membawa makan siang dari rumah. “Sekalian untuk suami dan anak bengkel,” katanya. Bengkel kecil suaminya adalah sumber pendapatan lain bagi keluarganya.

Hari itu, Nadia sampai di rumah lebih awal. Selesai meeting di luar kantor, ia langsung pulang. Rumah terasa sepi; anak dan suaminya sedang ke luar kota.

“Bu Nadia, nanti Misa di rumah Ibu Theresia ‘kan?” Bu Tania, tetangganya, menyapa ramah.

“Oh…,” Nadia gelagapan. Ia tidak mengingat undangan itu, lagi pula malas datang.

“Nanti saya samperin, jam 18.45 kita jalan,” Bu Tania tidak memberi kesempatan kepada Nadia untuk mengelak.

Merasa asing di antara umat satu lingkungan, Nadia duduk di deretan paling belakang. Seingatnya, inilah pertama kali ia datang. Selama ini, suaminya yang hadir. Beberapa ibu menyapa Nadia terlebih dahulu dan dibalasnya dengan kikuk.

“Ibu Nadia, tolong bacaan pertama ya. Pak Hany mendadak tidak hadir,” kata Pak Bram. Nadia ragu-ragu, tetapi Pak Bram berhasil meyakinkan dan memberi pengarahan terlebih dahulu.

“Andre, Magda, kita makan siang bareng, ada yang ingin aku ceritakan,” Nadia mengirim pesan singkat kepada kedua sahabatnya.

“Aku melakukan kesalahan fatal ketika membaca Kitab Suci di Misa lingkungan,” ceritanya saat mereka sudah di kantin.

“Membaca Kitab Suci ?” Andre keheranan.

“Iya, tetapi aku salah menutupnya dengan ‘Syukur kepada Allah’.”

“Masih dapat dimaklumi,” timpal Magda bijak.

“Kalian tidak merasakan tatapan aneh beberapa umat ke arahku, memalukan.”

“Teruslah melibatkan diri, nanti akan terbiasa. Keterlibatan akan membentuk kita,” kata Andre. “Konon, hidup berkomunitas itu akan menumpulkan duri-duri di dalam diri kita. Aku pernah diminta membawa makan siang untuk acara di panti dan pada hari H aki mobilku soak. Semua terlambat makan siang gara-gara aku,” Andre berbagi pengalaman.

“Aku juga pernah dikritik karena salah kostum saat Misa Arwah ,” Magda menimpali.

“Aku tidak bisa pulang malam terus,” Nadia membela diri.

“Beritahu ketua lingkungan, bahwa kau bisa terlibat pada waktu-waktu tertentu. Pasti beliau mengerti,” Andre memberi saran. Saran yang sama pernah ia berikan kepada Magda, sebelum ia aktif seperti saat ini.

Nadia merenungkan saran kedua sahabatnya. Mampukah ia melibatkan diri dengan segala konsekuensinya? Capek, dikritik, dan menjalankan tugas yang belum tentu siap dijalankan? Sesungguhnya, ada kegembiraan saat ia hadir dalam Misa itu. Kehampaan yang dirasakan selama ini, seolah terisi. Apalagi Bu Tania selalu ramah menyapanya.

 

Oleh Anastasia 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY