Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga? – Bagian 1

0
576

Latar belakang: Ada fenomena yang sering terjadi di dalam pelayanan. Ketika bersinggungan dan tidak harmonis dengan sesama, lalu mundur atau pergi! Yesus berkata kepada 12 murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus: ”Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal”(Yoh 6:67-68).

Kalau kita selalu punya jawaban ini, maka motivasi pelayanan akan beda. Empat edisi Merasul ke depan, akan saya isi dengan tulisan dari tokoh Santo Petrus (panggilan, pengakuan, penyangkalan, pertobatan). Bagaimana ia yang tidak sempurna justru dipilih Tuhan; menjadi Paus pertama, wakil Kristus di tengah-tengah kita. (Rekoleksi Sie KKS bersama Romo Vitus Rubianto, SX)

 

(1). Panggilan Petrus (Lukas 5:1-11)

Suasana pagi di pantai Danau Genesaret/Galilea selalu ramai. Orang-orang datang ingin membeli ikan segar hasil tangkapan para nelayan. Pagi ini (itu) berbeda, tidak ada ikan. Nelayan-nelayan telah turun dari perahu dan membasuh jalanya. Melihat Yesus berdiri di pantai, banyak orang mulai mengerumuni-Nya, hendak mendengarkan Firman Allah. Sebagai pewarta, Yesus tahu bagaimana mengatasi kerumunan banyak orang yang ingin mendengar pengajaran-Nya. Ia melihat dua perahu di tepi pantai, memilih perahu Simon, naik dan menyuruh supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu, Yesus duduk dan mengajar dari atas perahu. Dari awal, Yesus telah memilih Simon. Perahu adalah simbol Gereja.

Setelah selesai memberi pengajaran, Yesus berkata kepada Simon: “Bertolaklah ketempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Sebagai nelayan sejati dan disegani karena keahliannya, tentu ia tahu kapan dan di mana tempat yang tepat untuk menangkap ikan. Dan ia telah melakukannya semalaman tanpa hasil. Menanggapi perkataan Yesus, dengan frustrasi, Simon menjawab: Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Kata Yunani “kerja” adalah “kopiao”; artinya bekerja keras, bersusah-payah, menjadi letih. Ini pengalaman kita semua; kadang pelayanan yang kita lakukan dengan usaha keras tidak sesuai hasilnya.

Tetapi, karena Engkau menyuruhnya, (karena perkataan-Mu) aku akan menebarkan jala juga. Ada pengorbanan ketika Simon melaksanakan permintaan Yesus untuk menebarkan jalanya. Pada saat ia masih sangat lelah karena bekerja semalaman tanpa hasil, jala-jala pun belum selesai dirapikan. Belum lagi risiko menanggung malu pada nelayan-nelayan lain dan banyak orang; menebarkan jala pada siang hari untuk menangkap ikan. Lazimnya menangkap ikan pada malam hari. Pada siang hari yang panas, ikan berada di kedalaman. Suatu hal yang mustahil menangkap ikan pada siang hari!. Hanya karena Petrus percaya, mungkin karena mendengarkan Firman Allah yang disampaikan Yesus. Demikian juga kita, sering ada pengorbanan yang harus diterima dan dihadapi dalam pelayanan. Risiko malu karena hasil tidak sempurna, teguran, dll.

Dan setelah melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan sehingga jala mereka mulai koyak. Dua perahu diisi penuh dengan ikan hingga hampir tenggelam! Simon dan semua orang takjub melihat hal itu, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Di hadapan seorang Guru yang sederhana, yang ikut serta bersamanya di atas perahu, yang dia pikir tidak mengerti apa-apa tentang pekerjaan nelayan. Saat takjub, seketika disadarinya kedosaan dan kelemahannya. Petrus sadar dan melihat Yesus sebagai yang Kudus dan Ilahi, dari Allah dan Allah. Petrus sadar akan dosa, kelemahan, dan betapa kecilnya ia di hadapan Yesus. Seketika ia tersungkur di depan Yesus dan berkata, ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Kiranya perasaan ini pula yang mendorong Simon untuk mengganti sebutan Yesus dari Guru menjadi Tuhan.

Hal yang sama terjadi dengan kita. Pengenalan akan Tuhan dapat terjadi melalui peristiwa hidup kita sehari-hari. Kita percaya akan penyertaan Allah dalam hidup kita. Ada penyelenggaraan Ilahi atas hidup kita dan butuh respons dan tanggapan kita.

Menanggapi reaksi Simon dan semua orang di situ, Yesus berkata kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Dalam setiap panggilan, ada proses untuk naik kelas. Yesus meneguhkan Simon untuk tidak takut menyaksikan Kemurahan Kasih Allah yang mengagumkan. Dikatakan “menjala manusia”, karena seperti jala yang berlubang, ikan dapat pula lolos. Demikian juga manusia, di sini ada unsur kebebasan. Panggilan Yesus berdampak juga kepada teman-temannya. Mata mereka terbuka karena kata-kata Yesus menjadi kata yang hidup. Jika begitu yang terpenting bukan ikan lagi. Mereka menghela perahu-perahunya ke darat, meninggalkan ikan-ikannya bagi banyak orang yang seharusnya dapat dijual, lalu mengikuti Yesus. Apakah kita sudah naik kelas dari panggilan menjadi mengikuti-Nya? Berani melepas segala jaminan akan rasa aman, nyaman, dan mempercayakannya kepada Tuhan. Karena setiap pelayanan bukan milik kita. Tetapi, setiap pelayanan yang dipercayakan kepada kita adalah milik Tuhan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY