Pendidikan dalam Keluarga

0
542

Yoh1:4

Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran

Keluarga adalah gereja kecil, dan anak-anak adalah generasi penerus masa depan sebuah keluarga; jadi mendidik anak dengan benar sesuai dengan kehendak Allah adalah hal yang sangat penting di dalam keluarga.

Apakah impian orangtua dari pendidikan anak-anaknya? Apakah kita puas dan bahagia ketika melihat mereka memiliki banyak gelar, sukses dalam karir, menjadi kaya? Tentu kita senang melihat anak-anak berhasil. Tetapi kalau hanya berhasil dari segi duniawi saja, dan kita melihat hati mereka tidak melekat pada Tuhan; ini adalah masalah yang serius. Sekarang ini banyak anak-anak yang tidak mau ke gereja lagi pada hari Minggu, atau ke gereja hanya sebagai rutinitas, atau karena dipaksa. Tentunya hal ini membuat orangtua sedih dan kuatir. Sebagai orangtua tentunya kita senang sekali kalau anak-anak memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan, karena kita mengerti kalau tidak demikian, ketika dia menghadapi masalah, akan mudah menjadi depresi, dan sering memilih jalan keluar yang salah. Banyak yang akhirnya terjerumus pergaulan bebas, narkoba, bahkan terjerat kuasa kegelapan.

Setiap orangtua pasti ingin melihat anaknya berhasil di dalam segala aspek kehidupannya, tentunya ini tidak terjadi dengan sendirinya; dibutuhkan proses, pengorbanan, komitmen orangtua; anak-anak sangat membutuhkan bantuan orangtuanya. Maukah kita sungguh-sungguh membantu mereka? Hal pertama yang dibutuhkan adalah kesepakatan orangtua dalam mendidik anak, karena kalau orangtua tidak sepakat, hal ini akan membingungkan anak.

Anak akan bersama dengan orangtuanya sejak dari dalam kandungan sampai nanti mereka dewasa; menikah, atau hidup mandiri. Ternyata waktu yang terpenting dalam mendidik anak adalah justru dalam usia sedini mungkin, bahkan dari sejak dalam kandungan. Usia 0-12bln-4th yang disebut usia keemasan adalah usia yang sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan yang terbaik.

Bahkan nanti waktu anak merayakan ulang tahun ke 8, apapun yang anak pelajari sesudah itu adalah berdasarkan dari jalur-jalur yang sudah terbentuk dari 0-8th. Jadi, sesungguhnya, orangtua hanya memiliki waktu yang singkat untuk membangun fondasi pendidikan yang terbaik untuk anak. Seperti membangun gedung yang tinggi, semakin tinggi gedung yang akan dibangun, tentunya semakin kuat fondasi yang harus disiapkan.

 

Apakah yang harus diajarkan oleh orangtua?

Mengingat usia keemasan tadi, banyak sekali yang ditawarkan dunia, bahkan sudah banyak sekolah untuk bayi-bayi. Yang ingin saya bicarakan adalah apa yang harus orangtua berikan kalau kita melihat dari kehendak Allah?, ternyata ada tugas yang Allah inginkan untuk diajarkan kepada anak-anak, yaitu mengasihi Allah melebihi segala sesuatu. (Hilda Liem)

Baca Ul 6:6-9 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Bagaimana kita sebagai orangtua dapat mengajarkan untuk mengasihi Allah seperti yang Allah inginkan, kalau diri kita sendiri belum mengasihi Allah seperti itu? Karena anak-anak tidak bisa hanya diberikan perintah saja. Bayangkan kalau kita perintahkan anak untuk melakukan sesuatu, dan kita sendiri tidak melakukannya, apa yang terjadi? Orangtua akan kehilangan respek dari anak-anak, dan apa yang kita perintahkan sudah kehilangan kekuatannya untuk membuat anak-anak melakukan perintah kita.

Mari kita renungkan beberapa hal ini:

  1. Apakah kita sungguh percaya bahwa Allah Yang Mahakuasa itu ada? Allah yang hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, yang bisa melakukan apa saja. Karena pada kenyataannya, masih banyak orang yang tidak percaya adanya Allah, bahkan ada film dengan judul “God’s not dead”. Dan, menyedihkannya, banyak anak-anak muda jaman sekarang ini yang tidak percaya adanya Allah, mereka tidak peduli sama sekali… Bagaimana kalau itu terjadi pada anak kita yang sudah remaja? Akan sulit sekali perjuangan kita untuk meyakinkan mereka. Tetapi, kita tidak bisa menyalahkan mereka: mereka sebenanya menjadi demikian karena kesalahan orangtuanya. Karena itu kita harus memperkenalkan Allah sejak sedini mungkin — bahkan dari sejak anak di dalam kandungan, bacakan Kitab Suci setiap hari. Lanjutkan sesudah bayi dilahirkan, dan pada waktu anak sudah dapat berbicara, ajak dia untuk ikut berdoa. Dalam kehidupan sehari-hari, ajak anak untuk memuji kebesaran Allah dengan mengagumi ciptaan-Nya: udara yang dihirup, bunga-bunga yang indah, buah-buahan, hewan, langit, pantai… banyak hal di sekelilingnya yang dapat dikagumi. Sehingga, dari kecil, anak mengenal Allah yang luar biasa yang patut dikaguminya.

 

  1. Apakah kita mengenal Allah? Dituliskan dalam Yer 9:23-24 Mengenal Allah adalah kebahagiaan manusia. Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

 

 

Bagaimana caranya agar kita lebih mengenal Allah?

Dalam injil Yoh1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

 

Jadi sebenarnya waktu kita membaca Kitab Suci, Firman itu adalah Allah sendiri. Jadi dengan setiap hari membaca Firman, kita akan mengenal Allah lebih dan lebih lagi. Masalahnya tidak semua orang suka membaca Kitab Suci. Dalam setiap rekoleksi baptisan bayi, saya selalu lontarkan pertanyaan kepada para orangtua, “Siapa yang suka baca Kitab Suci?”– jarang sekali yang mengangkat tangan.

 

Jadi pertanyaan saya ubah, “Apakah ingin nanti anak-anaknya senang membaca Kitab Suci?”– mulai banyak yang mengangkat tangan; sampai saya katakan kalau tidak angkat tangan, saya tidak kasih tahu rahasianya agar anak- anak nanti suka dengan Kitab Suci, barulah semua angkat tangan.

 

Di USA dikatakan pangkuan ibu adalah Universitas Pangkuan; jadi waktu bayi dipangku ibunya, mendengar suara ibunya, bayi akan merasa sangat nyaman. Jadi kesempatan ini harus digunakan sebaik-baiknya, misalnya membacakan Kitab Suci, sebentar saja karena bayi masih memiliki konsentrasi yang singkat. Tujuan kita adalah membuat bayi memiliki rasa nyaman terhadap Kitab Suci. Untuk mencapainya harus dibacakan setiap hari supaya menjadi kebiasaan. Menjaga suasana hati bayi saat sedang dibacakan sangatlah penting agar ia senang pada saat dibacakan. Jadi rasa senang itu yang harus dijaga setiap hari.

 

Nanti anda akan terkejut dan senang jika pada suatu hari anda melihat anak anda sedang membaca Kitab Suci tanpa disuruh. Bagaimana bisa demikian? Hal tersebut menjadi mungkin karena anda sudah membentuk rasa nyaman terhadap Kitab Suci pada anak anda semenjak bayi; maka, saat ia memegang Kitab Suci, ada perasaan nyaman mengalir di hatinya – perasaan suka akan Kitab Suci yang mungkin ia juga tidak dapat mengerti.

 

Itulah mengapa sering sekali kita melihat turis-turis selalu membawa buku dan membaca. Rupanya rasa nyamannya terhadap buku sudah diberikan oleh orangtuanya sejak mereka masih bayi.

 

  1. Apakah kita sungguh menyadari bahwa Allah sangat mengasihi kita? Kasih-Nya yang sempurna telah dinyatakan dengan memberikan Putra-Nya yang tunggal untuk menanggung semua dosa-dosa kita.

 

Karena sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, manusia berada dalam kuasa si jahat.

Luk 4:6-7: “Kata Iblis kepada-Nya: ‘Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.’”

 

Karena manusialah yang berdosa, korban penebusan dosapun haruslah manusia. Namun korban penebus dosa itu haruslah yang tidak berdosa dan tidak bercacat cela. Akan tetapi karena semua manusia telah berdosa, cacat dan tidak layak, maka Allah harus “menghadirkan” manusia yang layak untuk penebusan itu.

 

Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”

Waktu Yesus wafat di salib, apakah Dia memberikan syarat bahwa setiap orang harus percaya kepada-Nya? Tidak sama sekali. Cinta-Nya tanpa pamrih. Sebelum Yesus wafat, manusia tidak mempunyai pilihan, hanya kematian kekal. Tetapi dengan wafat-Nya, manusia memiliki pilihan: percaya kepada-Nya atau tidak. Dan tentunya bagi yang percaya kepada-Nya akan beroleh hidup yang kekal. Betapa baiknya Tuhan, walaupun mengetahui ada manusia yang masih tidak akan percaya, Dia tetap memilih wafat bagi semua manusia agar relasi kita dengan Allah Bapa dapat dipulihkan.

Saya harap sampai di sini kita sudah memiliki alasan yang kuat untuk mengasihi Allah. Bahkan Dialah yang paling patut dikasihi. Jika kita mengasihi seseorang, tentu kita senang berbicara dengannya, membicarakannya, memikirkannya, dan memberikan waktu untuk bersamanya. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari bersama dengan anak, hadirkanlah Allah setiap saat agar anak merasa dekat dengan Allah – agar anak merasa bahwa Allah adalah bagian dari hidupnya; agar mereka tahu bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup, yang selalu mengasihi mereka, dan yang selalu dapat diandalkan untuk menolong mereka dalam setiap kesulitan. Ajarkanlah juga anak untuk menguduskan hari Tuhan dengan mengikuti Misa hari Minggu/Sabtu. Anggaplah setiap Misa Kudus adalah kunjungan kepada Keluarga Surgawi: mengunjungi Allah Bapa, Tuhan Yesus, Allah Roh Kudus, Bunda Maria, para Malaikat kudus, dan para Kudus. Biasakanlah setiap masuk gereja sudah dengan sikap hormat, mengambil air suci, membuat tanda salib; sebelum duduk, ingatkanlah untuk berlutut sambil memandang Tabernakel dan membuat tanda salib dengan kesadaran penuh kepada Siapakah sembah dan hormat diberikan: Allah dan Tuhan kita, Yesus Kristus.

Kis 2:17 Akan terjadi pada hari-hari terakhir demikianlah firman Allah bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Saya sangat bersyukur karena sekarang ini ternyata banyak sekali orang-orang yang mendapatkan karunia penglihatan; hal ini membantu saya untuk bisa lebih membayangkan kehadiran suasana Surga. Saya percaya Allah memberikan karunia ini karena sungguh mengasihi manusia dan ingin memenangkan sebanyak-banyaknya jiwa agar percaya kepada-Nya.

Tidak semua anak bisa duduk manis selama misa: di sini butuh kesabaran orangtua untuk terus menerus mengingatkan anak untuk diam dan tenang. Terkadang ada orangtua yang malah mengajak bercanda anaknya, atau memberikan snacks, mainkan handphone, Ipad; atau anak dibiarkan lari-lari, berteriak… hal-hal yang menganggu kekhusukan Misa. Sebaiknya dan sebisanya janganlah dibiarkan demikian, karena ini juga bagian dari mendidik anak. Ingatkan bahwa ini adalah kunjungan ke Rumah Bapa Surgawi, di mana anak-anak harus memiliki sikap sopan karena mereka juga adalah ahli waris Kerajaan Surga: ceritakanlah kepada anak-anak bagaimana para putri dan pangeran dididik di Istana agar mereka memiliki sikap dan pembawaan yang sesuai. Galatia 4:7, “Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.”

Selain itu, ada baiknya juga anak-anak yang belum dapat duduk tenang di dalam Misa, dapat diikut sertakan dalam Bina Iman Anak selama Misa berlangsung, kegiatan ini dapat lebih membantu menumbuhkan iman dan hidup bersosialisasi dengan teman seusianya dibandingkan mereka bercanda atau berlari-lari di dalam gereja.

Orangtua dapat mempercayakan pendidikan iman anak-anak pada kegiatan-kegiatan yang sudah disediakan oleh gereja sesuai dengan usia mereka. Misalnya sesudah Bina Iman Anak sampai kelas 3 SD, ada Persiapan Komuni Pertama pada usia kelas 4 – 6 SD, dilanjutkan dengan Bina Iman Remaja, Mudika.

Sebelum anak menerima Komuni Pertama, selain mendapatkan pelajaran dari para Katekis, sebagai orangtua, kita juga harus ikut membantu menceritakan lebih banyak tentang Ekaristi Kudus: bacakan buku tentang Mukjizat Ekaristi, yang isinya banyak tentang kesaksian-kesaksian ajaib tentang Ekaristi, sehingga membuat anak sungguh menghormati Hosti dan Anggur Kudus sebagai Tubuh dan Darah Tuhan Yesus sendiri, sehingga, pada waktu mereka menerima Hosti dan/atau Anggur, mereka akan menerima dengan hormat dan cinta — merasakan persatuan dengan Tuhan Yesus sendiri. Ajarkanlah juga mereka untuk berdoa dengan tenang dan hormat selama Hosti berada dalam mulut mereka, bukan hanya doa dengan cepat-cepat. Sebaiknya juga, diajarkan untuk menerima Hosti langsung dengan mulut, kalau memungkinkan dengan berlutut, karena ini adalah sikap yang lebih hormat.

Tidak selamanya anak-anak berada bersama kita; contohnya, pada waktu mereka meneruskan sekolah ke luar kota/negeri, kita tidak bertemu dengan mereka setiap hari. Kalau relasi mereka dekat dengan Tuhan, mereka tahu ke mana mereka mendapatkan pertolongan saat menghadapi masalah. Mereka akan menjadi pribadi yang tahan banting dan tidak mudah depresi.

Ajarkan juga anak untuk tidak berkompromi dengan dosa, sekecil apapun dosa tersebut. Menganggap remeh dosa adalah sama seperti memberikan celah kepada si jahat yang perlahan-lahan akan melilit dan menghancurkan anak. Biarlah anak-anak tahu kalau Iblis itu sungguh ada agar mereka menjadi waspada. Ingatlah bahwa tipuan Iblis yang utama dan terbesar ialah membuat kita menganggap bahwa mereka tidak ada. 1Ptr 5: Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Biasakan mengaku dosa minimal dua kali dalam setahun. Kalau berbuat dosa berat, sebaiknya langsung meminta Imam sebagai wakil Allah yang sudah diberikan kuasa untuk menerimakan Pengakuan Dosa kita. Karena dosalah yang menciptakan jarak antara kita dengan Allah Yang Mahakudus. Yoh 20:22-23: “Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus, jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.’” Jadi, ajarkanlah anak untuk tidak malu mengaku dosa: selama kita masih terdiri dari daging dan darah, kita memang mudah jatuh ke dalam dosa karena kerapuhan dan kelemahan kita sebagai manusia. Hal tersebut menjadi alasan lebih untuk kita mengaku dosa; dan sebenarnya juga, Yesus Sendirilah yang hadir di dalam ruang Pengakuan Dosa. Sesudah kita mengaku dosa, hubungan kita dengan Allah langsung dipulihkan, sehingga kita menutup celah kepada si jahat.

Selain mengasihi Allah dengan segenap hati, kita juga mengajarkan anak untuk mengasihi sesama. Yohanes 15:12, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Kasih adalah yang utama karena di atas dasar inilah, karakter-karakter baik dapat dibangun. Misalnya, anak yang mengasihi akan dapat mengampuni kesalahan orang lain; anak yang mengasihi akan memiliki kerendahan hati untuk mengulurkan tangan lebih dulu untuk berbaikkan kepada teman yang bersalah. Mat11:29, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Alangkah baiknya jika orangtua selalu mengusahakan waktu untuk berdoa bersama; misalnya doa Rosario atau Koronka, jadi sejak masih di dalam kandungan, bayi sudah biasa mendengarkan doa sehingga nanti akan lebih mudah mengajarkannya. Untuk lebih mengetahui tentang Rosario dan Koronka. Bukalah link ini tentang Rahasia Rosario Suci http://kasih-damai.blogspot.com/2011/02/rahasia-rosario.html. Dan untuk doa Koronka http://yesusengkaulahandalanku.blogspot.com/2012/08/sejarah-koronka.html

Nanti waktu anak sudah mulai lancar berbicara, mulai ajarkan untuk hafalkan Doa Bapa Kami, Salam Maria, dll. Cara yang paling mudah adalah dengan mengajarkan anak menyanyikannya. Biasakan untuk hidup di dalam doa, misalnya di dalam perjalanan juga dapat melakukan doa bersama.

Sebagai penutup; ingatlah agar setiap pagi, kita mengenakan perlengkapan senjata Allah. Jangan tinggalkan rumah sebelum berdoa dan membaca firman walaupun sebentar; ingatlah untuk selalu memberkati pasangan dan anak-anak setiap sebelum mereka pergi kerja, sekolah, dan sebagainya agar doa kita dan perlindungan Tuhan selalu menyertai mereka. Efesus 6:10-18: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah,  melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.

Dari sejak 2000 tahun lalu, ayat tersebut sudah dituliskan karena Allah tahu apa yang kita hadapi nanti, ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar kita waspada dan Allah sudah mempersenjatai kita..jadi setiap kali kita bacakan firman kepada bayi/anak kita, kita membantu mempersiapkan pedang Roh mereka agar dapat digunakan pada waktunya.

Akhirnya, marilah kita bersama-sama berjuang dalam mendidik anak-anak di dalam kebenaran dan kiranya keluarga kita semua selalu di dalam perlindungan Allah. Tuhan Yesus memberkati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY