Bukan Pamer Iman

0
611

PHILO tidak berani menatap mata opanya. Wajah Opa Ben tampak sangat angker kayak Goliath. Mulutnya terkatup rapat dan tatapan matanya itu… wooow… menusuk sekali. Itu terjadi sejak mereka selesai menghadiri Misa Minggu pagi. Philo yang polos menduga hal itu disebabkan karena ulahnya. Maka, ia memberanikan diri berkata kepada Opa, “O… Opa… maafkan Philo tadi menabrak Opa waktu berdoa.”

Aneh, wajah Opa seketika berubah ramah kembali. Katanya, “Kamu kira Opa marah sama kamu ya? Bukan, Opa cuma sedang kesal dan geregetan sama ibu yang menerima Komuni tadi. Kok ia berjalan santai ke tempat duduknya, sambil tangannya berlenggang kangkung, tidak dikatupkan. Dan ironisnya, ibu tadi petugas tata tertib. Sadar nggak sih kalau komuni itu adalah saat yang paling kudus, paling sakral, dan merupakan puncak dan pusat perayaan Ekaristi? Perilakunya itu malah seolah-olah ia tidak mendapatkan apa-apa, padahal sedang bersama Yesus. Sudah selayaknya ia menaruh hormat dengan laku yang pantas.

“Begini ya, Opa?” Philo mengatupkan kedua telapak tangannya. Opa Ben menggelengkan kepalanya. “Bukan. Kamu sebentar lagi ‘kan akan menyambut Komuni Pertama, jadi harus benar. Telapak tanganmu itu, yang nunduk ke arah bawah kayak paruh burung pelatuk seharusnya tegak tertuju kepada Yang Mahatinggi. Kedua telapak tangan yang terkatup melambangkan bersatunya Allah dengan umat-Nya.”

Philo nyengir tersipu-sipu. Opa Ben melanjutkan, “Nah, waktu pemakluman Tubuh dan Darah Kristus oleh Pastor kepada umat, dan setiap kali Pastor mengangkat hosti atau cawan, kita tanggapi dengan pernyataan hormat dan sembah sujud, yaitu telapak tangan dikatupkan dan diangkat dalam posisi berlutut sebagai sikap kerendahan hati, pandangan dan tangan harus terarah lurus pada Tubuh dan Darah Kristus, bukan pada tembok di depan kita, lho,” kakek dan cucu itu tertawa.

Lalu, sambung Opa Ben, “Khusus untuk ibadat Komuni, ketika Pastor berkata ‘Inilah tubuh-Ku’ atau ‘Inilah darah-Ku’ kita menyembah sambil berdoa di dalam hati: ‘Ya Tuhanku dan Allahku,’ seperti pengakuan St. Thomas Rasul, lalu membungkuk hormat. Philo, nanti sebelum kamu menerima Hosti Kudus di tanganmu, kamu harus membungkuk merendahkan diri. Setelah itu, jika kamu sudah menerimanya, jawablah: ‘Amin,’ yang artinya kamu mengimani dan mengamini bahwa itu benar-benar Tubuh Kristus. Kalau kamu diam saja, seakan-akan kamu meragukannya.”

Tiba-tiba, wajah Opa berseri, katanya, “Wah, Opa senang karena beberapa ibu membersihkan tangan dahulu sebelum menerima Hosti Kudus. Itu bagus sekali. Pastor juga mencuci tangan dahulu sebelum mempersembahkan Komuni sebagai tanda kemurnian batin. Ini disebut lavabo.”

“Apalagi kalau tangan kita baru saja pegang duit buat kolekte ya, Opa?” celetuk cucunya. Opa terkekeh, lanjutnya, “Oh ya Philo, kita berlutut menghormati Sakramen Mahakudus dalam tabernakel bukan hanya ketika mau duduk, tapi setiap kali kita melintasi depan tabernakel. Jangan jalan nyelonong saja, berpura-pura nggak ada apa-apa. Gereja menjadi kudus oleh Sakramen Mahakudus itu.

“Opa, kenapa sih kita berdiri kalau berdoa?”

Opa Ben berpikir sebentar, jawabnya: “Berdiri artinya kesiapsediaan untuk bertemu Tuhan atau Sabda-Nya dengan sikap hormat. Hal itu merupakan tradisi kuno. Anehnya, ada beberapa umat tidak menunjukkan sikap berdoa saat berdoa. Ada umat yang menggendong tangan di belakang, melipat kedua lengan di depan dada ala Superman, bercekak pinggang, kedua tangan masuk ke kantong celana, ya macam-macamlah. Terlalu…” Opa kelihatan mulai berang kembali.

Melihat gelagat itu, Philo buru-buru bertanya, “Opa, kita berdiri juga ‘kan waktu Syahadat?”

Opa Ben lupa akan ke-bete-annya dan menjawab, “Betul. Berdiri ketika Syahadat menyiratkan bahwa kita siap untuk mengamalkan iman dalam praktik tentang pesan dari Sabda Allah yang baru saja kita dengar. Dan… ini yang kadang-kadang kita lupa, ketika Pastor mendaraskan “…yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria…” kita harus membungkuk sejenak guna menghormati misteri Allah menjadi manusia, mengingat akan kasih Allah, dan mengucap syukur atasnya.”

Philo mencerna dengan saksama. “Jadi Philo, sikap tubuh mengungkapkan sikap hati. Setiap tata gerak liturgi ada filosofinya, bukan buat pamer iman atau gaya-gayaan,” Opa menyimpulkan.

“Apalagi ada yang sampai terlalu lebay ya, Opa. Hehehe,” goda Philo.

Ekatanaya

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY