Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga? – Bagian 2

0
483

Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan siapapun bahwa Ia Mesias. (Mat 16:20). Ayat ini bisa menjadi pertanyaan dari pembaca ketika membaca Matius 16:13-23, mengapa Yesus justru melarang para murid-Nya memberitahukan bahwa Ia Mesias! Persoalannya dari pertanyaan siapa Yesus, lalu menjadi siapa Petrus? Tapi, siapa Petrus kemudian malah menyingkapkan sebenarnya siapa dirinya; sisi lain dari tokoh Petrus.

(2). Pengakuan Petrus (Matius 16: 13-23)

Setelah murid-murid melihat banyak mukjizat, Yesus membawa mereka ke kota Kaisarea Filipi. Kota itu dibangun Herodes Filipus, anak dari Raja Herodes Agung, di daerah Gunung Hermon, di mana mayoritas penduduknya bukan orang Yahudi. Kota Banias (Yunani:Paneas) dengan kuil dewa Pan sembahan orang kafir. Di sini Yesus seakan-akan melakukan evaluasi kepada murid-murid-Nya.

Ia bertanya kepada mereka, Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Murid-murid sudah mengerti ungkapan Anak Manusia adalah Mesias (Dan 7:13-14). Mereka menjawab: “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Jawaban mereka menyatakan tokoh atau nabi pada masa lalu. Meskipun mereka sudah mengalami berbagai hal bersama Anak Manusia, ternyata murid-murid sendiri belum yakin siapakah Anak Manusia itu.

Yesus kembali mengajukan pertanyaan yang lebih pribadi, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Sebuah jawaban dari Simon Petrus mewakili murid lainnya, memberikan pengakuan percaya yang luar biasa: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”[16]. Identitas Yesus mampu diungkapkannya, karena hubungan pribadinya. Bukan hanya mengetahui, mendengar siapa Yesus dari orang lain. Tetapi, sesuatu yang bekerja di dalam hati atau dirinya dalam hubungan sekian lama bersama Yesus, yang mungkin Petrus sendiri tidak menyadarinya. Yesus membenarkan pengakuan tentang ke-Ilahian-Nya, bukan karena itu berasal dari diri Petrus, melainkan karena Bapa berkenan menyatakan kebenaran itu kepadanya. Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga“[17]. Petrus telah menjadi sarana perwahyuan Allah tentang Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal.

Kita pun tidak bisa meniru saja apa yang dikatakan orang tentang Yesus, kita harus bisa menemukan, merangkum, dan menyimpulkan apa yang kita rasakan siapa Yesus bagi diriku! Tanggapan pribadi memang penting, namun harus diingat bahwa keyakinan tidak datang hanya dari dalam diri kita sendiri, rahmat Allah senantiasa menguatkan agar kita semakin mengenal Putra-Nya. Karenanya, penting bagi iman dan relasi kita dengan Kristus, setiap hari membuat pengakuan sederhana seperti pengakuan Petrus. Baru dari sana, kita akan mendengar nama, engkau adalah (…). Seperti Petrus mengatakan Engkau adalah Mesias [16], dan Yesus pun berkata: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan harus menanggung penderitaan, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Yesus mulai menyatakan diri-Nya seperti dalam ayat 17. Apakah Petrus sungguh mengerti pernyataan iman yang baru saja dikatakannya? Inilah reaksinya, dan Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, katanya: ”Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tak akan menimpa Engkau.” Jika demikian, Petrus mengerti Mesias adalah Raja yang harus dibela, seolah-olah dirinya yang harus membela Tuhan. Harusnya Tuhan-lah yang membela kita manusia. Yesus menjawab dengan keras kepada Petrus, “Enyahlah Iblis!” Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Dari pengalaman, sampai pada satu titik kita bisa bertanya siapa Yesus bagi kita, lalu kita mulai menyingkapkan siapa diri kita di hadapan Yesus. Kadang kita berpikir sudah sampai pada satu pemahaman tentang iman kita, pemahaman tentang Yesus. Tapi, ternyata waktu kita melihat salib adalah sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang harus dijauhi. Meskipun kita sudah jauh mengenal Yesus, aktif dalam segala kegiatan pelayanan, bukan orang asing bagi Gereja. Tapi, di hadapan salib yang kita sendiri tidak bisa bayangkan penderitaan atau sesuatu di hadapan kita, belum tentu kita siap menunjukkan kepasrahan. Kita juga protes ketika salib hadir pada diri kita. Di sini Petrus seakan-akan mempunyai dua wajah; satu wajah pemimpin para murid yang seperti batu karang sekaligus mempunyai wajah lain sebagai batu sandungan. Pemahaman Mesias; bukan yang jaya tapi yang kalah. Di dalam pengakuan Petrus, dia ditantang untuk melihat salib Yesus sejak dari awal, tapi di sini pun Petrus masih belum mengerti!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY