Merdeka dalam Bekerja

0
882

HARI Raya Kemerdekaan ke-70 RI baru saja kita rayakan dengan penuh syukur dan kegembiraan di seluruh pelosok negeri. Diselenggarakannya berbagai acara, doa dan hening, serta lomba-lomba khusus mencerminkan budaya bangsa kita. Selayaknya berlangsung pesta meriah yang telah kita tunggu dan nantikan.

Tujuh puluh tahun sudah kita hidup sebagai bangsa merdeka. Seyogianya kita berbangga atas hasil yang telah diraih negeri tercinta. Saya teringat kembali masa kecil di desa dulu di mana kami selalu menyambut momen tersebut dengan penuh antusiasme dan heroisme untuk memperingatinya dengan berbagai lomba yang ada. Apa hal tersebut masih ada?

Namun, seiring waktu, ternyata perayaan tersebut menjadi biasa-biasa dan tidak ada hal yang istimewa seperti pada waktu saya kecil. Pertanyaan pun muncul dalam permenungan memaknai kemerdekaan; apakah benar sesuatu yang biasa dialami oleh kita semua dalam memaknai “merdeka” dirasakan tanpa makna dan kesan saat ini?

Belum juga pertanyaan tersebut terungkap, di kantor saya berjumpa dengan seorang pemuda. Katakan namanya, Aris. Ia baru bekerja tiga tahun lamanya. Saya mencoba untuk bertanya, apa makna “merdeka” bagi kamu? Mendengar pertanyaan spontan tersebut, Aris pun termenung dan terlihat bingung untuk menjawab. Sambil menghela napas panjang, akhirnya terlontar suatu jawaban bahwa “merdeka” merupakan kebebasan dalam melakukan improvement/pengembangan.

Jawaban yang sangat jujur dan menarik untuk diuraikan lebih lanjut, bagi anak muda yang memulai karir memaknai “merdeka” dengan sudut pandang dan biasanya diartikan “bebas” segalanya tanpa batasan. Bisa melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya dan lain hal sebagai bentuk bebas tanpa hambatan.

Aris memberikan ungkapan yang menarik dalam arti bebas berpendapat dan berusaha, namun tetap dalam koridor kewajaran, etika, dan hukum yang berlaku.

Merdeka bukan sekadar bebas dalam berbuat namun juga merdeka yang selalu proaktif, merdeka dalam kepedulian, merdeka untuk mencegah ketidakadilan, merdeka untuk tidak melakukan hal yang bertentangan dengan etika dan hukum. Artinya, segala sesuatu yang berasal dari hati nurani dan bukan pemenuhan hasrat hidup saja. Contohnya, saya bebas untuk mengusulkan sesuatu dan bahkan minta kenaikan upah namun bukan berarti selalu meminta upah tiap kali mengusulkan suatu hal. Artinya, tetap ada batasan ketentuan yang mengatur dan disepakati bersama.

Bagaimana Aris bersikap dengan teman-teman kantor yang berasal dari multi nasional dan begitu kuat pendiriannya dalam memperjuangkan kebenaran dalam berbagai sharing yang dilakukannya.

Luar biasa pengalaman saya hari ini sudah bertemu dengan pemuda merdeka yang menjanjikan generasi penerus yang penuh semangat merdeka yang sebenarnya.

Memang saat ini kita tidak lagi berjuang dengan senjata. Segera saya disadarkan oleh cerita Aris bahwa saat ini pun kita hendaknya tetap berjuang melalui kemerdekaan masing-masing, di manapun kita ditempatkan dan berkarya. Bekerja dengan penuh tanggung jawab dan profesional, peduli pada sesama dan situasi merupakan wujud dari makna penuh suatu kemerdekaan.

Mari kita semua merdeka dari keluhan, merdeka dari masalah dan kesulitan, yang merupakan tangga menuju sukses. Apabila kita bisa lalui dan hadapi maka kita pun menjadi merdeka.

Selamat menaiki tangga kehidupan bagi kita semua yang sedang meniti karir. Ayo merdeka dari keluhan dan sambut kemerdekaan dalam bekerja dan peduli.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY