Tidak Diputus oleh Kematian

0
856

oleh : RD F.X. Suherman

Pertanyaan 1:

Umat Katolik dan umat Kristen Protestan punya pandangan berbeda dalam menyikapi dan memperlakukan seseorang yang meninggal. Apa dasar yang dipakai oleh Gereja Katolik dalam hal ini? Awalnya Gereja Katolik dan Kristen adalah satu, mengapa dan kapan perbedaan ini mulai terjadi?

Pertanyaan 2:

Umat Katolik suka mengadakan Misa dan acara untuk memperingati keluarga dekat yang meninggal pada hari ke-7, 40, 100 maupun 1.000. Bagaimana Gereja Katolik menyikapi kebiasaan ini?

 

Jawaban:             

Banyak pemahaman dan tradisi yang berlangsung dalam Gereja Katolik sejak Reformasi Protestan mulai disingkirkan. Gereja Katolik memahami hidup dan cinta sesama manusia tidak berhenti sesudah kematian. Bahkan kehidupan sesudah kematian merupakan lanjutan dari seluruh kehidupan yang sudah kita hidupi di dunia ini. Terutama bagi mereka yang sudah meninggal, kita yang masih berziarah di dunia ini masih dapat menyampaikan ungkapan kasih.

Ungkapan kasih yang masih berguna bagi mereka yang sudah meninggal bukan lagi hal-hal yang bersifat materi, seperti memberi banyak bunga atau membuat makam yang mewah. Semua yang bersifat materi hanya sebatas ungkapan kasih saja, sedangkan ungkapan kasih yang bermanfaat langsung bagi mereka yang sudah meninggal adalah doa-doa kita. Doa-doa orang hiduplah yang akan membantu dan membawa rahmat terang bagi mereka yang didoakan untuk masuk api penyucian.

Ajaran mengenai api penyucian sesungguhnya berasal dari Perjanjian Lama. Kitab kedua Makabe (12:39-45) mengisahkan suatu peristiwa ketika Yudas Makabe menemukan jimat-jimat kafir pada tubuh tentara-tentara Yahudi yang gugur… suatu tanda bahwa mereka sudah berdosa karena melakukan penyembahan berhala. Maka, Yudas “mengumpulkan uang di tengah-tengah pasukannya…. Yang ia kirim ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban penghapusan dosa…. Demikianlah, ia mengadakan kurban penghapus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka”. Dan perikop ini diakhiri dengan penegasan: “Sungguh suatu pemikiran yang mursyid dan saleh untuk mendoakan orang yang sudah meninggal”.

Dalam Yudaisme, doa untuk orang meninggal sangat umum pada jaman Yesus di dunia. Kebiasaan itu bertahan sampai hari ini dalam doa-doa yang dikenal sebagai doa-doa orang berkabung, yang dipanjatkan sesudah kematian anggota keluarga. Kalau sekarang kita memahami adanya hari ke-7, 40, 100 maupun 1.000, kiranya itu juga merupakan bagian dari tradisi budaya setempat dalam mengerti makna perjalanan orang yang meninggal maupun juga untuk penghiburan keluarga. Seharusnya kita menyadari kalau ini sebuah doa permohonan tentu tidak mengikuti lompatan waktu melainkan berkesinambungan, sekurangnya didoakan selama 40 hari berturut-turut oleh anggota keluarga.

Melanjutkan kebiasaan itu, Perjanjian Baru masih berbicara mengenai api penyucian, meskipun tidak secara eksplisit. Dalam Injil Matius, Yesus berkata bahwa “Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak” (Mat 12:32). Demikianlah, secara tersirat Yesus mengatakan bahwa pada jaman yang akan datang masih ada jalan untuk pengampunan. Tradisi berlanjut, Gereja dengan penuh keyakinan memanjatkan doa-doa kerahiman bagi mereka yang sudah meninggal (LG No. 50). Gereja juga menetapkan adanya hari mendoakan arwah setiap 2 November.

Katakombe dan tempat-tempat pemakaman kristiani kuno yang lain memberikan kesaksian mengenai kepedulian Gereja awal bagi jiwa orang-orang yang sudah meninggal: “marilah kita mengingat dan mendoakan mereka”. Inilah iman Gereja Katolik. Dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru, dari para Bapa Rasuli sampai para skolastik abad pertengahan terus berlangsung sebagai tradisi iman. Hanya di kalangan Reformasi Protestan hal ini disingkirkan karena orang meninggal dianggap sama sekali tidak ada hubungan lagi dengan orang yang masih hidup di dunia. Semua orang meninggal hanya berurusan dengan Tuhan sendiri, tidak ada yang bisa berubah.

Inti ritus doa bagi orang meninggal berisi penyerahan jiwa orang yang meninggal ke dalam Terang Kerahiman Allah, sumber kehidupan kekal. Kita tidak bisa berandai-andai betapa hebatnya iman kita membiarkan orang meninggal tanpa penyertaan doa. Secara pribadi, saya katakan bahwa sungguh tragis orang yang meninggal tanpa penyertaan doa, apalagi keluarga ingin mengungkapkan kasih secara luar biasa. Tapi, kalau tidak didoakan maka keluarga sesungguhnya tidak memberi apa-apa yang berguna bagi mereka yang meninggal.

Saya, yang secara pribadi banyak pengalaman berhadapan dengan kasus orang yang mengalami gangguan bersentuhan dengan dunia “roh”, memberi kesaksian bahwa selalu saja dijumpai situasi kemalangan karena kegelapan hidup arwah yang belum kembali kepada Tuhan. Mereka tak berdaya, sangat membutuhkan doa kita karena mengalami “kegelapan hidup” di alam sana, dan berharap mendapat jalan terang. Apa yang dimaksud atau seperti apa istilah “situasi gelap” yang selalu dikatakan arwah yang belum kembali kepada Tuhan itu, sulit dimengerti. Yang pasti, mereka butuh doa orang hidup untuk “mendapat terang” kembali kepada Tuhan.

Lepas dari segala penjelasan tentang mendoakan arwah, banyak pengalaman yang saya alami secara langsung memberi kesaksian: mendoakan arwah adalah sebuah keharusan. Oleh sebab itu, mereka yang mengerti situasi ini bukan hanya terpanggil mendoakan arwah keluarganya melainkan juga mendoakan semua arwah yang dilupakan atau tidak didoakan keluarganya.

Kita tidak membiarkan mereka yang meninggal berjalan sendiri, melainkan cinta kita menghantar mereka yang meninggal memasuki “terang Tuhan”. Meski kita sangat yakin hidup orang baik pasti akan masuk dalam terang Tuhan, namun sebuah doa tidak pernah sia-sia manfaatnya. Ingatlah, mereka yang didoakan tahu bahwa kita mendoakan mereka dengan hati yang tulus. Cinta kita di dunia tidak diputus oleh kematian.

SHARE
Previous articlePengakuan
Next articleKitab Suci Bukan Satpam

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY