Kitab Suci Bukan Satpam

0
853

BERKALI-kali Opa Ben melirik ke arah Philo yang sedang berbincang seru bersama kawan-kawannya di halaman belakang gereja. Mulut Opa merat-merot menandakan kekesalannya. Tak sabar lagi, akhirnya sambil mengetuk-ketukkan jam tangan jadul-nya, ia berteriak, “Philo! Lihat sudah jam berapa? Hayo kita masuk gereja!”

Balas cucunya, “Ah Opa! ‘ Kan masih lama, kenapa sih buru-buru?”

“Kenapa?” tanya Opa. “Opa mau baca Kitab Suci dulu. Opa mau mempersiapkan diri, memeriksa batin membuka hati dan budi, lalu berdoa mohon bimbingan agar pantas hadir di hadapan Tuhan, ngerti?”

“Oke, oke, Opa, hayo kawan-kawan kita masuk.” ajak Philo.

“Hei, hei!” seru Opa. “Ingat ya, di dalam gereja tidak boleh ngobrol karena kita akan bertemu Tuhan, apalagi ngobrolnya melalui perantaraan ‘santa’ Nokia, ya!”

Pulang dari gereja, Philo tak sabar ingin bertanya, ” Opa, tidak biasanya ada Kitab Suci besar diarak kemudian ditaruh di mimbar. Ada apa sih?”

Opa Ben terkikik. “September ‘kan Bulan Kitab Suci Nasional. Maka, Kitab Suci dihadirkan dalam Misa. Kitab Suci itu sumber kekuatan iman kita. Dia merintis jalan menuju Tuhan Yesus. Isinya merupakan kesaksian orang-orang beriman untuk kepentingan iman kita. Malah Injil Yohanes menyebutkan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri dan telah menjadi manusia Yesus Kristus . Jadi, kalau Pastor membacakan Firman Tuhan sebenarnya adalah Tuhan Yesus yang bersabda melalui perkataan pastor. Berkat karya Roh Kudus, pastor sendiri disebut “in persona Christi” atau wakil Kristus sepenuhnya.”

Opa Ben berhenti sejenak. Philo membatin, Opa ini serba tahu, tak percuma dulu menjadi prodiakon. Lalu Opa mulai lagi, “Bagian dari Kitab Suci yang disebut Injil itu adalah puncak dan pusat dari Kitab Suci. Injil menjadi spesial karena berisi Kabar Gembira yang diajarkan langsung oleh Tuhan Yesus sendiri, kemudian ditulis oleh Para Rasul. Kabar Gembira berupa Sabda Tuhan Yesus mengungkapkan rahasia penyelamatan umat manusia. Jadi, sepantasnyalah kita berdiri pada saat Injil dimaklumkan oleh pastor untuk menghormati Sang Sabda dalam kesiapan menyambut-Nya. Kalau kita duduk mendengarkan bacaan pertama, kedua dan homili, jangan duduk santai seenaknya! Melainkan bersikaplah serius mendengarkan penuh konsentrasi sambil menatap si pembicara. Jangan ikut membaca seakan-akan kehadiran-Nya kita cuekin, sibuk sendiri. Waktu untuk membaca Kitab Suci adalah sebelum Misa atau di rumah.”

Philo kembali menguji Opanya, “Opa, apa maksudnya kita membuat tanda Salib kecil sebelum Injil dibacakan?”

Opa menjawab ringan, ” Tanda Salib kecil dengan ibu jari itu bukan Tanda Salib Trinitas yang biasa. Tanda Salib pada dahi, maksudnya kita berdoa: Sabda-Mu ya Tuhan, kami pikirkan dan renungkan. Salib pada mulut berarti kami wartakan. Dan Salib pada dada bermakna kami resapkan dalam hati. Jadi, ketika kita mendengarkan homili, pesannya harus kita resapi dan renungkan. Lalu, kita terapkan dalam hidup kita sebagai pewartaan. Oh ya, sebelum dan sesudah homili kita tak perlu membuat tanda Salib karena homili bukan doa. Philo, Kitab Suci itu adalah surat cinta Tuhan kepada kita. Alangkah sayangnya bila surat itu tidak kita baca, cinta Tuhan itu kita tolak. Cinta Tuhan terungkap dalam isi Kitab Suci yang dapat menuntun ke jalan yang benar, memberi pengharapan, penguatan, penghiburan, dan penyembuhan dalam kesesakan. Jadi, Philo, setiap kali kita membuka Kitab Suci kita seperti memutar nomor telepon Tuhan. Lalu Dia menyapa kita “syalom“. Setelah Tuhan bersabda, kita berikan tanggapan dengan berdoa dan berniat melaksanakan Sabda-Nya.”

Philo manggut-manggut. Tiba-tiba, Opa Ben berseru, “Eh Philo, jangan manggut-manggut melulu. Ambil tuh Kitab Suci di dalam lemari. Memangnya Kitab Suci itu penjaga lemari buku?”

Philo beranjak sambil nyeletuk, “He he, kayak satpam saja, ya Opa?”

Ekatanaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY