Sahabat Sejati

0
638

Oleh Penny Susilo

 

​ARMAN dan Yanto adalah murid kelas 6 SD di Sekolah “Kasih Bapa”. Mereka bersahabat sejak keduanya duduk di bangku sekolah dasar yang sama.

​Arman adalah anak tunggal. Orang tua Armand bekerja sebagai pengusaha batik dan cukup terpandang. Setiap pagi, Arman diantar ke sekolah oleh sopir dengan sebuah mobil mewah.

Sementara Yanto adalah anak sulung yang memiliki dua adik yang masih kecil-kecil.  Orang tua Yanto bekerja sebagai penjahit pakaian. Penghasilan mereka sangat terbatas.  Berbeda dengan Arman, Yanto pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda tua pemberian kakeknya.

Namun, persahabatan Arman dan Yanto tidak melihat siapa kaya dan siapa miskin. Keduanya saling tolong-menolong di kala salah satu mengalami kesulitan. Yanto dengan senang hati mengajarkan matematika kepada Arman. Sebaliknya, Yanto tidak sungkan untuk bertanya kepada Arman tentang pelajaran bahasa Inggris. Teman-teman di kelas senang bergaul dengan Arman dan Yanto karena keduanya adalah murid teladan.

Sampai suatu hari ketika jam istirahat berbunyi, Arman menghampiri sahabatnya yang tampak murung. “Hai Yanto, kok tumben pagi-pagi cemberut begitu?” tanya Arman.  “Yaah… habis aku lagi kesal. Uang untuk karya wisata bulan depan dipakai ibu untuk biaya berobat adikku. Kalau begini, aku terpaksa tidak ikut karyawisata ke Yogyakarta,” jawab Yanto kecewa.

“Oh begitu… aku pikir ada apa. Jangan khawatir, nanti aku akan minta Ayahku untuk membiayai uang karya wisatamu. Kau harus ikut, ini ‘kan acara perpisahan sekolah,” ucap Arman kepada sahabatnya.

“Wah, jangan begitu, Man. Aku sungkan. Bagaimana pun ayah-ibuku tidak pernah mengajari kami anak-anaknya untuk berhutang,” jawab Yanto. Arman terdiam. Dia mengerti penjelasan sahabatnya. “Sudah, jangan dipikirkan dulu. ‘Kan masih satu bulan lagi. Nanti kita sama-sama memikirkan solusinya,” hibur Arman.

Esok harinya sepulang sekolah, Arman berkunjung ke rumah Yanto. Ia membawa karung besar berisi kain-kain perca. “Yanto, aku dapat ide bagus nih! Ini aku bawakan kain-kain perca dari toko batik kami. Ayah ibumu ‘kan pandai menjahit, dari kain sisa ini kita bisa membuat boneka dan kerajinan tangan unik untuk dijual. Menurutmu, bagaimana? Aku bisa membantumu untuk menjualnya kepada teman-teman kita,” kata Arman antusias.

Yanto sangat senang mendengar ide sahabatnya itu. Ayah-ibu Yanto tentu turut gembira karena anak mereka memiliki sahabat yang suka menolong seperti Arman. Hasil kerajinan tangan dari kain-kain perca batik itu benar-benar bagus dan semuanya laris terjual. Uang hasil penjualannya lebih banyak dari uang yang dibutuhkan untuk karya wisata sekolah.

“Man, karena kau telah membantuku… bagaimana kalau sekali-sekali kau kutraktir makan bakso di kantin sekolah?” ajak Yanto. “Wah… kalau bakso sih aku tidak bisa menolak. Dua mangkok yaa!” “Bereeees!!!”  Kedua sahabat itu tertawa bersama.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY