Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga? – Bagian 3

0
563

Penyangkalan Petrus dalam kisah penangkapan Yesus. Teks Yoh 18:1-12, tampil tiga tokoh; Yudas (1-3) yang mengkhianati dengan kekerasan, Petrus(10-12) yang membela dengan kekerasan dan Yesus (4-9) tampil mengungkapkan identitas diri-Nya, membela murid-murid-Nya, menyerahkan diri dan anti kekerasan. Lalu nubuat Kayafas (13), dan teks (15-28) Hanas menginterograsi Yesus tentang ajaran-Nya dan penyangkalan Petrus tiga kali sebelum ayam berkokok.

(3). Penyangkalan Petrus (Yohanes 18:1-28)

Yesus dan murid-murid-Nya pergi ke seberang Sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama murid-murid-Nya. Yudas tahu taman itu, di mana Yesus sering berkumpul dengan murid-murid-Nya. Ia datang dengan sepasukan prajurit Roma (sekitar 600 prajurit) dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, lengkap dengan lentera, suluh, dan senjata untuk menangkap Yesus. Situasinya seperti perang, dengan banyak pasukan prajurit bersenjata. Perang dua kekuatan, yakni antara terang sejati Yesus yang datang dengan membawa damai dengan Yudas terang palsu yang membawa kekerasan. Yudas bukan saja menyangkal dirinya sebagai murid, tetapi bahkan mengkhianati Gurunya. Terang Yesus tidak tampak, waktu hati orang itu dalam kegelapan. Taman disebut berulang kali seakan menunjukkan dosa diulang kembali dalam sejarah, pengkhianatan pertama di Taman Eden diulang kembali di Taman Getsemani.

Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dengan berkata kepada mereka: ”Siapakah yang kamu cari?” Di hadapan sepasukan prajurit dengan senjata lengkap, Yesus penuh wibawa, keberanian, dan kuasa mengungkapkan identitas diri-Nya, bukan saja sebagai orang Nazaret. Tetapi, “Akulah Dia” (sebanyak tiga kali). Seperti yang didengar Musa waktu dia bertanya kepada Tuhan di semak belukar. Yesus sebagai Yang Kudus dan Ilahi, dari Allah dan Allah. Ketika Yesus berkata kepada mereka “Akulah Dia”, mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Tetapi mereka tetap tidak mengenal yang Ilahi, mereka tetap mengenalnya sebagai Yesus dari Nazaret. Yesus pun menegaskan: jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi. Demikianlah Yesus menegaskan perkataan-Nya sebagai Gembala yang Baik. Yang tidak akan meninggalkan domba-domba-Nya. “Karena dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa.”

Simon Petrus yang membawa pedang telah siap menjadi pahlawan yang akan membela Gurunya. Seperti yang dikatakan dalam perjamuan malam sebelumnya, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu.” Dengan kekerasan, ia menghunuskan pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Namun, Yesus justru menegur untuk menyarungkan pedangnya. Yesus mau menggenapi kehendak Bapa-Nya, membiarkan pasukan prajurit menangkap dan membelenggunya.

Meskipun kecewa, Simon Petrus tidak lari. Dalam kebingungannya Petrus tinggal di luar dekat pintu halaman istana Imam Besar. Murid lain yang mengenal Imam Besar, kembali keluar membawa Petrus masuk. Tetapi, tanpa diduga hamba penjaga pintu itu mengenal identitas Petrus, katanya: “Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus:”Bukan!” Di dalam, Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan ajaran-Nya. Yesus menjawab: ”Aku berbicara terus terang kepada dunia, mengajar di rumah-rumah Ibadat dan Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyalah kepada murid-murid-Ku, sungguh mereka tahu semuanya. Sementara itu, hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah memasang api unggun karena hawa dingin. Petrus juga berdiri di situ bersama-sama dengan mereka. Karena cahaya api, identitas Petrus dikenali oleh mereka. “Bukankah engkau juga seorang murid-Nya? Petrus menyangkal: “Bukan!” Sekali lagi identitas Petrus dikenali oleh seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong, katanya: ”Bukankah engkau kulihat di taman bersama-sama dengan Dia?” Maka, Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam. Petrus menyangkal identitasnya sebagai murid-Nya, yang lebih fatal menyangkal dirinya sendiri! Karena takut menyerahkan diri, maka ia membohongi dirinya sendiri. Bandingkan dengan pernyataan Yesus saat dikepung oleh prajurit yang akan menangkap-Nya. Yesus maju ke depan menyatakan diri-Nya, menyerahkan diri-Nya “Akulah Dia” sebanyak tiga kali. Di sini Petrus mundur, menyangkal dirinya “Bukan” sebanyak tiga kali.

Kita pun dapat menyangkal siapa diri kita! Pertanyaan siapa Yesus bagi kita? Kalau kita tidak bisa menemukan di dalam perjalanan panggilan hidup dan panggilan pelayanan kita, suatu saat kita dapat menyangkal diri kita. Justru karena situasinya tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Saat di mana kita ditantang, semuanya bisa terjadi. Apalagi ketika kita bingung dengan nilai-nilai, saya pikir begini! tapi ternyata jadi begitu!, rencana-rencana yang tidak sesuai dengan harapan. Pernyataan telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa! Kita selalu seolah-olah yang punya rencana, padahal sebenarnya Tuhanlah yang punya rencana. Di sini yang fatal, jika bertahan dengan rencana itu, Yudas yang mengkhianati dan Petrus yang menyangkal.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY