Jejak Awal Gereja Santo Thomas Rasul

0
1559

Hanya dengan tujuh lingkungan dan sekitar 1.000 umat, Wilayah Bojong Indah hendak menjadi paroki tersendiri, lepas dari Paroki Trinitas Cengkareng.

PADA suatu waktu penulis dipanggil oleh Kepala Paroki St. Thomas Rasul Bojong Indah, Romo Gilbert. Apa yang disampaikan adalah suatu pesan sekaligus permintaan untuk mewawancarai para tokoh yang ikut merintis berdirinya Gereja Bojong Indah Paroki St. Thomas Rasul pada waktu awal pembangunan gedung gereja pertama kali. Bahkan pada saat sebelum gereja (bedeng), yang merupakan embrio lahirnya Paroki St. Thomas Rasul di wilayah Jakarta Barat.

Hal ini yang membuat MeRasul ingin menghadirkan kembali tulisan mengenai sejarah awal Paroki St. Thomas Rasul pada era tahun ‘80-an. Tulisan sejarah yang disampaikan oleh para tokoh dan pelaku sejarah, serta penulis masa silam, yang lalu dirangkai menjadi sebuah cerita yang dituang dalam lembaran sejarah Gereja.

Dari berbagai narasumber, akhirnya bisa diketahui bagaimana umat Gereja ini lahir, berjuang, dan eksis hingga saat ini. Terungkap fakta dari peristiwa yang terjadi; bagaimanapun para tokoh Gereja ini sudah berani memulai dan menata Gereja hingga dapat dimanfaatkan umat sebagai sarana menggereja yang baik pada saat ini.

Pada suatu waktu, Uskup Agung Jakarta (Alm.) Mgr. Leo Soekoto SJ berkunjung ke Paroki Trinitas Cengkareng. Beliau sempat berbicara dengan dua tokoh dari wilayah tengah, yaitu Thamrin dan Njauw Po On, bersama dua tokoh lainnya dari Perumahan Bojong Indah, Petrus Mudjio dan Joseph Tolu.

Dalam dialog itu, Mgr. Leo Soekoto menanyakan kepada para tokoh ini, apakah daerah Bojong Indah memiliki potensi untuk pengembangan umat Katolik? Dengan serempak mereka menjawab, ”Kami punya potensi, Bapa Uskup.”

Kemudian mereka melontarkan pertanyaan, “Tapi, apakah Bapa Uskup bersedia meninjau daerah Perumahan Bojong Indah?” Mgr. Leo menjawab dengan tegas, “Pasti saya akan datang.”

Pada kesempatan berikutnya, Mgr. Leo langsung meninjau daerah Perumahan Bojong Indah. Beliau segera melihat bahwa daerah itu memang punya potensi dikembangkan menjadi sebuah paroki. Kendala muncul tatkala pada saat yang sama Paroki Trinitas, yang waktu itu menjadi induk dari wilayah Perumahan Bojong Indah, belum memiliki gedung yang permanen. Namun, Uskup Leo memberikan jawaban yang menenangkan, “Kalian tidak usah takut, bila kalian percaya semuanya akan mampu dikerjakan.”

Sejak Mgr. Leo memberikan dukungan, Petrus Mudjio bersama umat Bojong lainnya, memiliki tekad dan semangat yang sama untuk mewujudkan berdirinya sebuah gereja. Didasari motivasi yang tinggi, mereka segera bergerak dan bekerjasama. Mereka memiliki satu tekad; ingin memenuhi harapan Gereja sebagaimana disampaikan oleh Mgr. Leo Soekoto.

Pada tahun 1981, tanggal 27 Agustus, terbitlah Surat Keputusan Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ dengan No.: 874/3.27.35/81 tentang Pendirian Paroki Santo Thomas Rasul Gereja Bojong Indah Jakarta Barat. Penamaan pelindung Santo Thomas Rasul diberikan oleh beliau.

Pada saat yang sama, Mgr. Leo juga secara resmi membentuk Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik (PGDP) Paroki Santo Thomas Rasul. Pastor Peter John McLaughlin OMI sebagai ketua dan B. Prasodjo sebagai wakil ketua, Andreas Luzar SH sebagai sekretaris, Andi Kuswandi sebagai bendahara, Lummy dan F.V. Datubara sebagai anggota.

Wilayah Bojong Indah merupakan salah satu wilayah di Paroki Trinitas Cengkareng, yang saat itu sudah menjadi tujuh lingkungan dengan umat sekitar 1.000 orang.

Petrus Mudjio, dengan dorongan kawan-kawannya, berani mengusulkan Wilayah Bojong untuk dikembangkan menjadi sebuah paroki tersendiri. Pada saat itu, keputusan ini tentu sangat mengejutkan pihak paroki. Hanya dengan tujuh lingkungan saja, mereka sudah mau menjadi paroki.

Dengan 1.000 umat dan tempat yang terbatas, penyelenggaraan Misa langsung menggunakan fasilitas Sekolah Trinitas dengan daya tampung 150-200 orang. Bahkan ketika dirasa masih kurang tempat, inisiatif menambah Misa pada hari Sabtu dilakukan di rumah Hendra Susanto, yang lokasinya hook jalan Taman Jeruk II/21-23. Hal itu berlangsung selama sekitar satu-dua tahun.

Maket Gereja
Maket Gereja

Pada tahun 1983, setelah aktivitas Gereja berlangsung selama dua tahun, untuk pertama kalinya dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja (PPG), yang diketuai pertama kali oleh Theodorus Wirawan, dengan pendamping Pastor Paroki Peter John McLaughlin OMI, dibantu Pastor James OMI. Bersamaan dengan itu pula dibuatlah sistem dan struktur organisasi paroki.

Masa bakti PPG I ini pendek, berakhir pada tahun 1984. Namun, dari masa bakti yang hanya setahun ini, paroki memperoleh sumbangan sebidang tanah dari Agustinus Mangkuorahardjo seluas lebih kurang 5.800 meter persegi, berlokasi di daerah Klingkit, Bojong Indah. Dan pada tahun yang sama, PPG yang kedua dibentuk. Susunan PPG II ini, antara lain Andi Suwandi (ketua), Ignatius Aryana (sekretaris), Kurniawan Lasmono (bendahara I), Eko Lesmana (bendahara II), dan Ny. Agus Setiawan (seksi dana).

PPG II berhasil membeli rumah seluas 370 meter persegi di Jalan Kacang Panjang Raya No. 2 seharga Rp. 23.000 000. Tanah ini langsung difungsikan sebagai pastoran sekaligus sebagai sekretariat panitia. Sumber dana waktu itu dibantu dari KAJ sebesar Rp. 15.000.000. Sisanya diusahakan sendiri oleh PPG II.

Peletakan Batu Pertama oleh Uskup Agung Leo Sukoto, SJ.
Peletakan Batu Pertama oleh Uskup Agung Leo Sukoto, SJ.

Pada tahun 1985, Paroki Santo Thomas Rasul memiliki seorang pastor tetap. L.B.S. Wiryowardoyo Pr merupakan pastor resmi pertama yang memimpin Gereja Bojong Indah, pasca lepas dari Paroki Trinitas Cengkareng. Dan pada Februari 1985 dilakukan serah terima pelayanan penggembalaan umat Bojong Indah dari Pastor John O’Doherty OMI kepada Pastor L.B.S. Wiryowardoyo Pr. (Romo Wiryo, begitu sapaannya) sebagai Kepala Paroki Bojong Indah dengan wakilnya, F.A. Soeripto.

Pada awalnya, Paroki Santo Thomas Rasul sudah menjadi tiga wilayah dengan jumlah umat 2.050 orang. Perayaan Ekaristi pun dilakukan di tiga tempat yang berbeda dengan jadwal masing-masing; Sabtu pukul 18.00 di Sekolah Trinitas, di Sekolah Lamaholot pada hari Minggu pukul 08.00, dan di Taman Kota pada pukul 18.00.

Pada tahun 1985 pula Pengurus Dewan Paroki (DP Paroki) bersama dengan Panitia Pembangunan Gereja (PPG) merencanakan pembangunan gedung gereja. Tanah yang sudah dimiiki di daerah Klingkit, ternyata tidak memungkinkan untuk dibangun gereja. Penyebabnya, karena surat tanah belum tuntas, faktor lingkungan yang kurang mendukung, serta sosialisasi yang sulit dengan umat sekitar.

Maka, dicari solusi baru. Agustinus Mangkuorahardjo bersama Romo Wiryo menjumpai Budi Brasali dari PT Metropolitan Development. Alhasil, didapatlah tanah seluas 5.680 meter2 di lokasi Jalan Pakis Raya G5/20 (lokasi gereja sekarang) seharga Rp. 100.000.000. Untuk membayar tanah tersebut diadakan penjualan kupon berhadiah seharga Rp 5.000 per kupon yang dijual di seluruh gereja di Keuskupan Agung Jakarta, bahkan sampai ke Bandung dan Cirebon. Dari penjualan kupon tersebut terkumpul dana Rp. 90.000.000. Sisa yang dibutuhkan Rp. 10.000.000 mendapat bantuan dari Keuskupan Agung Jakarta.

Proses Pembangunan Gereja
Proses Pembangunan Gereja

Pada tahun 1986, jumlah umat yang mencapai 2.050 orang, ditampung dalam Misa di tiga tempat yang berbeda. Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah mendapatkan lahan seluas 5.534 m persegi melalui PT. Metropolitan Development, di tanah ini sudah direncanakan dibangun sebuah “bedeng” berukuran 18 m x 30 m untuk tempat beribadat. Seiring dengan itu, proses pembangunan gereja permanen tetap dilakukan.

Tahun 1987, di atas tanah yang sudah dibeli, dibangunlah bedeng. Ukuran bedeng yang semula 18 x 18 meter bertambah menjadi 18 x 30 meter. Bangunan ini didirikan dengan biaya yang sangat minim, menggunakan kayu bekas bongkaran Universitas Tarumanegara, dengan bantuan Dr. Arry Ramba, dosen universitas tersebut. Lokasi bekas bedeng tersebut seperti areal yang dipakai sebagai tempat parkir saat ini.

Pada 9 Oktober 1988, peletakan batu pertama dilakukan oleh Uskup Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ. Akan tetapi pembangunan tidak langsung dilaksanakan karena menunggu pembangunan gedung Gereja Trinitas selesai. Sebagai upaya agar pembangunan tetap dapat berjalan maka gua Maria dengan patung Pieta terlebih dahulu dibangun di halaman belakang gereja.

Tahun 1989, jumlah umat Paroki Thomas Rasul sudah mencapai 3.707 jiwa. Jumlah tersebut meningkat menjadi 5.753 pada tahun 1992. Romo Wiryo mendapat rekan baru, Romo Hadi Suryono Pr yang baru ditahbiskan menjadi imam. Johan Gunawan, seorang arsitek, menerima tugas untuk merancang gedung Gereja Santo Thomas Rasul. Penyelesaian dan persetujuan desain gambar fisik gereja membutuhkan waktu setahun dengan terus-menerus berkomunikasi dengan pihak Keuskupan.

Pada tahun 1990, dimulailah pembangunan gereja dengan arsitek Johan Gunawan dan Irene Gunawan. Perhitungan struktur dilakukan oleh Santi dan Budiono Subekti bertindak sebagai pengawas. Pembangunan konstruksi dan pondasi dipercayakan kepada kontraktor PT Dimensi Development. Setelah pembangunan fisik selesai, dilanjutkan ke tahap akhir yang dikerjakan oleh Busman.

Mgr. Leo Soekoto SJ sempat meninjau dan memberikan pengarahan di lokasi selama hampir dua jam. Akhirnya, pada April 1992 bangunan fisik gereja ini selesai.

Selama masa pembangunan gereja, tim PPG II banyak mengalami kendala, baik dalam segi dana maupun sosialisasi. Tetapi, berkat keyakinan dan rahmat Tuhan, khususnya melalui doa Novena Hati Kudus Yesus selama sembilan kali Jumat Pertama berturut-turut, maka semua kendala dapat teratasi. Akhirnya, gedung Gereja Paroki St. Thomas Rasul seluas 1.200 meter persegi berdiri megah, dengan daya tampung sekitar 1.000 orang. Dan untuk pertama kali, gedung gereja ini dipakai untuk Misa saat Minggu Palma, April 1992.

Pada 23 Agustus 1992, Gereja Santo Thomas Rasul Bojong Indah diresmikan dan diberkati oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto SJ.

Demikian tulisan sampai diresmikannya Gereja St. Thomas Rasul. MeRasul menghadirkan beberapa pelaku sejarah yang terlibat dan membidani berdirinya Gereja di Paroki Bojong Indah ini.

 

Hendra Susanto: Sumbanglah dengan Sebutir Pasir…

Sajian Utama 10 - Berto + Anton - ft - Hendra - MHpHENDRA Susanto mulai tinggal di Bojong Indah pada tahun 1979. Rumahnya pernah digunakan untuk perayaan Ekaristi umat Wilayah Bojong Indah, sebelum Gereja St. Thomas Rasul berdiri. Setiap Sabtu pukul 18.00, umat selalu memenuhi rumahnya yang berlokasi di hook Jl. Taman Jeruk II/21-23. Kediaman Hendra mampu menampung sekitar 150-200 orang.

Suatu hari, Hendra sekeluarga berencana keluar rumah. Josef Tolu mencegat Hendra supaya jangan pergi. “Uskup Agung Mgr. Leo Soekoto mau datang,” kata Tolu. Mgr. Leo dengan mobil VW kodoknya mampir ke rumahnya. Hendra berkisah, “ Saya tidak tahu siapa itu Mgr. Leo Soekoto.”

Dalam perbincangan, Uskup Leo mengatakan, “Kalau mau bangun gereja, diperlukan tanah seluas 5.000 meter persegi.” Kalimat itu didengar oleh semua yang hadir dalam pertemuan tesebut.

Hendra mengungkapkan, bahwa Misa berlangsung di rumahnya sekitar satu tahun. Pastor OMI dari Paroki Trinitas yang mempersembahkan Misa. Sesudah di rumah Hendra, kemudian Misa berpindah ke Sekolah Trinitas dan Sekolah Lamaholot.

Hendra ikut membantu mencari dana, walaupun namanya tidak masuk dalam struktur PPG ataupun DP. Saat gereja memerlukan dana, Hendra juga ikut memikirkan bagaimana dana bisa didapat untuk kebutuhan pembangunan gereja pada saat itu.

Hendra semakin bergairah melayani semenjak Romo Wiryo datang sebagai Pastor Paroki resmi pertama pada tahun 1985. Waktu itu, Romo Wiryo tinggal di pastoran sederhana. Hendra pun semakin giat membantu aktivitas pembangunan gereja.

“Pada saat ada bedeng rasa memiliki umat terhadap gereja cukup tinggi. Sense of belonging umat tinggi, gedung kecil pintunya satu…,” ungkap Hendra.

Rasa persaudaraan umat yang tinggi, dirasakan pada saat Natal di pastoran. Mereka membuat bubur dan dimakan bersama-sama. Keinginan memiliki gereja sangat besar, mereka berjuang bersama untuk membangun gereja, menjadi tekad bulat yang mengakrabkan di antara mereka. Pada saat gereja membutuhkan dana, akhirnya dana diperoleh juga.

Menurut Hendra, kedekatannya dengan Romo Wiryo sudah seperti ‘asisten pribadi’ Romo Wiryo. Ia berusaha memenuhi kebutuhan gereja dengan apa yang dia bisa. Hendra selalu mengikuti perkembangan gereja. Pada saat pembangunan berlangsung, Hendra tahu PPG butuh dana. Dengan jaminan dirinya, Hendra bisa mencari dana dengan meminjam dari salah satu bank swasta. Dana pun dapat dimanfaatkan untuk pembangunan gereja.

Kondisi umat dulu terbatas, berbeda dengan sekarang; banyak umat tersebar di mana-mana, semakin banyak lokasi yang membuat umat tidak bertemu langsung di satu tempat. Hendra yang berbicara –seolah mewakili para perintis gereja awal– berharap agar para perintis ini diperhatikan pada acara-acara gerejani, seperti ulang tahun paroki. Mereka bisa diundang ; dengan demikian mereka dapat merasakan sukacita. “Sekalipun tempat tinggal sudah di luar paroki , tapi jika diundang setahun sekali akan memunculkan memori dan juga sense of belonging,” katanya.

Ia teringat pada pesan Mgr. Leo, “Jangan sampai kamu menyesal karena tidak pernah menyumbang sebutir pasir pun untuk pembangunan gereja”. Siapapun yang ikut andil dan seberapa pun besarnya andil dalam segala hal, dimaknai sebagai bentuk kepedulian dan partisipasi umat.

Hendra juga aktif di luar paroki, bahkan di beberapa keuskupan. Baginya, melayani di mana pun itu sama… karena masing-masing ‘kan punya talenta.

Ia sungguh menghargai imam, terlebih pada saat di altar. “Begitu turun dari altar, you are my friend. Di mata Tuhan, kita sama, karya kita saja yang beda,” tegas Hendra.

Satu hal yang menarik adalah salib yang dibuat pada awal pembangunan Gereja Sathora. Salib seharga Rp. 15 juta itu dibuat di Ancol. Hendra sempat melihat pengerjaannya. Salib sumbangan umat yang masih melekat di dinding gereja hingga saat ini, memiliki makna sejarah yang nyaris akan diganti pada saat renovasi gereja. Syukurlah, salib ini bertahan dan masih bergantung kokoh di dinding gereja.

Maka, selagi mampu, sumbanglah pembangunan gereja dengan sebutir pasir. Siapapun yang berkarya untuk Gereja, entah punya uang atau tidak... , pasti Tuhan akan memberikan berkat-Nya. Itulah iman kepercayaan kita. Berto

 

Bernardus Priyo Handono Kristanto: Banyak Belajar dan Tekun Mempersiapkan

Sajian Utama 10 - Berto - Bernardus Priyo - ft - Bu PriyoBERNARDUS Priyo Handono Kristanto, demikian nama lengkap Priyo. Sosok ini pernah menjadi aktivis Paroki Bojong. Pada tahun 1978, Priyo menghuni Perumahan Bojong. Pada masa itu baru ada satu lingkungan di Bojong. Titus Njauw Po On menjadi ketua lingkungan.

Priyo bersama Njauw Po On dan Budi Widagdo secara rutin bergerilya mencari orang yang tersebar di perumahan untuk diajak bergabung. Dan hanya dalam tempo satu bulan, begitu cerita Priyo, Lingkungan sudah pecah dan berkembang menjadi dua. Aktivitas yang tiada henti dilakukan Priyo dan kawan-kawan setiap malam; mencari umat. Ternyata, orang-orang Katolik yang terdata waktu itu cukup banyak untuk ukuran lingkungan perumahan. Pembagian tugas dilakukan, Budi Widagdo dan Njauw Po On di perumahan sektor 1, Priyo di perumahan sektor 2.

Ketua lingkungan pun berganti, Budi Widagdo menjadi Ketua Lingkungan 1 dan Priyo menjadi Ketua Lingkungan 2. Di kemudian hari, Lingkungan berkembang lagi, Joseph Tolu menjadi Ketua Lingkungan Bojong Kampung, yang terus berkembang menjadi lima lingkungan, dan menjadi wilayah. Akhirnya, mereka ingin menjadi paroki tersendiri, keluar dari Paroki Trinitas. Maksud untuk menjadi paroki disampaikan kepada Pastor John. Pastor John diam saja karena melihat kemampuan Wilayah Bojong pada waktu itu.

Dalam struktur, Priyo menjabat sebagai Ketua Seksi Liturgi pertama. Segala urusan perlengkapan yang diperlukan dalam Misa menjadi tanggung jawabnya. Rumahnya menjadi tempat penyimpanan peralatan Misa, sejak dari tempat Misa pertama di rumah Hendra Soesanto, Sekolah Trinitas hingga Sekolah Lamaholot.

Sejak ditunjuk menjadi pengurus Seksi Liturgi, Priyo banyak belajar dari satu paroki ke paroki lain; dari Paroki Trinitas, Paroki Kristoforus hingga Paroki Salvator.

Ada pengalaman yang tidak terlupakan. Setiap Mgr. Leo Soekoto akan datang memimpin Misa, Priyo selalu mempersiapkannya dengan saksama agar tidak terjadi kesalahan sekecil apa pun.

Priyo mengikuti beberapa kali Misa saat Mgr. Leo berkunjung ke Bojong Indah. Priyo berusaha jangan sampai Uskup Leo kecewa saat memimpin misa di Bojong. “Liturgi yang bagus membuat Uskup suka,” ucap Priyo bangga.

Kunjungan Uskup Leo dilakukan minimal setahun tahun sekali, berselang dengan Misa Krisma. Priyo selalu tekun mempersiapkannya, dengan selalu mengikuti jadwal kunjungan Uskup di paroki lain.

Dalam suatu kesempatan, Uskup Leo melontarkan pujian. “Bojong Indah itu belum ada parokinya tapi liturginya paling rapi.” Hal ini membuat Priyo bersemangat. Priyo memang punya sederet pengalaman rohani; saat kecil ia menjadi misdinar di kota Semarang. Saat SD, ia ikut Legio Maria hingga menjadi ketuanya, dan akhirnya membentuk 40 presidium. Ia pernah menjadi Wakil Ketua PMKRI di Solo. Pengalaman-pengalaman itu membuat Priyo mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Priyo mengemukakan bahwa angkatan pertama katekese, seperti Maringka, Budi Widagdo, Ibu Sunni, yang membantunya dalam Seksi Liturgi. Sementara Azis, anak Ibu Sunni, menjadi ketua misdinar pada waktu itu. Menurut Priyo, sangat banyak orang yang terlibat untuk membangun Gereja St. Thomas Rasul.

Ratnawati, istri Priyo, ikut mendirikan Sekolah Minggu pertama, yang berlangsung di rumahnya. Perkumpulan Oma-oma dn Opa-opa pun dibentuk saat itu. Namun, pada saat gereja akan dibangun, Priyo memutuskan untuk pindah dari Bojong. Saat ini, sudah 25 tahun ia tidak berada di Bojong lagi. Meski demikian, sejarah Gereja St. Thomas Rasul masih segar dalam ingatannya. Berto

 

Clemens Sumartono: Fokus Memberikan kepada Gereja…

Sajian Utama 10 - Berto - Clemens Sumartono - ft - ErdinalMartono, begitu sapaan Clemens Sumartono, berkisah saat pertama kali ia mempersiapkan koor untuk Tugas Natal. Ia bekerjasama dengan Seksi Liturgi yang dipimpin Priyo. Untuk pertama kali, kelompok koor ini bertugas pada Misa Natal yang berlangsung di Sekolah Lamaholot. “Ini adalah koor satu-satunya,” kenang Martono. Koor ini bertugas pada setiap Misa Natal dan Paskah. Koor pimpinan Martono ini kelak menjadi cikal-bakal koor yang ada di wilayah dan koor gereja.

Kemudian nama koor tersebut berubah menjadi Koor Gregorius Agung.

Bekerjasama dengan Edy Kencana, Martono membentuk koor dengan sekitar 10 anggota. Pada awalnya, latihan koor dilakukan secara accapela. Kemudian salah satu anak dari anggota bernama ibu Anwar, mengiringi dengan mengguakan porta sound. Latihan koor belangsung di rumah Martono.

Pada saat Wilayah Bojong menjadi bagian dari Paroki Trinitas, umat Bojong tidak banyak mengikuti Misa ke Gereja Trinitas. Mereka mengikuti Misa sendiri, dan koor ini bertugas untuk Wilayah Bojong sendiri, tidak pernah bertugas di Gereja Trinitas. Kemudian latihan koor dilakukan di pastoran, di mana saat itu sudah dibangun kantor Johan Gunawan.

Saat koor ini sudah menjadi menjadi koor paroki, romo menghendaki ada kelompok koor di setiap wilayah. Waktu itu, sudah ada delapan wilayah. Sesuatu yang menarik dan mengesankan menurut Martono, “Walaupun bukan penyanyi, mereka suka menyanyi dan fokus memberikan kepada Gereja, suasana misa bisa menjadi lebih bagus.”

Kelompok koor ini pun mengalami perubahan nama; berawal dari koor tanpa nama, kemudian Koor St. Thomas Rasul, St. Greorius Agung, dan terakhir Exsultet. Hingga sekarang, dalam tugas-tugas Misa, PS. Exsultet masih menunjukkan eksistensinya sebagai kelompok koor terlama yang masih berkiprah di Gereja.

Yang menjadi kebanggaan kelompok koor (St. Gregorius Agung) ini pada waktu itu , yaitu memiliki kelompok pasio, dan saat bertugas selama lima kali Misa Jum’at Agung selalu dinyanyikan. Pasio selalu dinyanyikan dengan organ. Dan saat pasio tidak boleh menggunakan organ, pasio ini sudah tidak diperdengarkan lagi. Berto

 

Johannes Maria Johan Gunawan: Tantangan Berat Berkarya di Kebun Anggur

Sajian Utama 10 - Berto - Johan - ft - DitoBERTEMPAT di kantornya, Johan berkisah bagaimana perjuangan masa lalu saat masa pembangunan Gereja St. Thomas Rasul Bojong Indah. “Diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk dapat mewujudkannya,” kenangnya.

Saat Tim PPG I dibentuk dan bekerja, Pastor belum fokus mengerjakannya karena berpijak pada dua tempat; Paroki Trinitas berencana membangun gereja bersamaan dengan Gereja Bojong. Tim PPG I selesai, berumur pendek.

Dilanjutkan PPG II. Pada saat Romo Wiryo sebagai Romo Paroki St. Thomas Rasul, sudah tinggal di Bojong, energi membangun gereja baru semakin besar. Relasi yang baik antara Tim PPG dengan Romo Wiryo memudahkan kerja tim. Seiring berjalannya waktu, Tim PPG berkomitmen untuk menyelesaikan pembangunan gedung gereja sampai selesai.

Waktu itu, Johan Gunawan diberi tanggung jawab sebagai arsitek pembangunan gereja.

Johan mendapatkan kesan yang mendalam, saat rencana desain bangunan gereja ini langsung diasistensi sendiri oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto.

Setiap bulan, Johan selalu melakukan konsultasi dan diskusi ke Keuskupan (Katedral). Saat itu, Vikjen KAJ masih orang Belanda (Johan lupa menyebutkan nama).

Ia harus melewati birokrasi. Sebelum menghadap Mgr. Leo, Johan harus membuat janji dulu dengan Vikjen.

Dibutuhkan kerja keras agar Uskup dapat mengerti maksud desain gereja yang dibuat oleh Johan. Kunjungan awal dengan membawa desain yang sudah jadi, Johan berusaha keras untuk dapat menjelaskan maksud dan tujuan gambar yang dibuatnya.

Sekali, dua kali, tiga kali, seperti orang mengajukan sebuah proposal. Tidak mudah untuk langsung mendapatkan persetujuan, seolah selalu tidak berkenan. Tapi, Johan tidak mudah putus asa. Dengan sabar, Johan memindahkan gambar ke dalam maket tiga dimensi agar mudah menjelaskannya kepada Uskup.

Malam Natal, 24 Desember 1987, adalah tanggal yang diingat betul oleh Johan. Pada hari itu, proposal desain bangunan Gereja St. Thomas Rasul berhasil disetujui dan mendapatkan tanda tangan dari Mgr. Leo Soekoto. Waktu yang dibutuhkan hingga dibubuhkannya tanda tangan, terhitung cukup lama, dari Januari hingga Desember 1987 (12 bulan).

Untuk mengenang proses pengajuan desain ini, Johan menandainya dengan memberikan nama Leo kepada anaknya yang lahir pada 6 November 1987. Nama Uskup Leo sangat diingatnya karena memiliki kesan yang mendalam.

Rencana anggaran untuk pembangunan ini bernilai Rp. 1,3 miliar pada waktu itu. “Memberi benih iman dari tidak ada menjadi apa-apa,” kata Johan. “Ada kesan di mata Tuhan semuanya tidak ada yang mustahil, dan itu terjadi.”

Johan menekankan keyakinannya bahwa,“Ini menjadi satu pengalaman yang memberi kekuatan, di mana-mana bikin itu tenang saja… bagaimana caranya jadi saja.”

Proses perijinan membutuhkan waktu tiga tahun. Johan bersama Romo Wiryo dibantu dengan saudara Romo Wiryo, berperan untuk menyelesaikan perijinan. Tim Perijinan waktu itu bertemu dengan Wagub DKI, Basofi Sudirman, akhirnya didapatkan Ijin Prinsip. Bagi Johan, ini merupakan sebuah perjalanan iman.

Waktu pertama kali gereja mulai dibangun pada tahun 1990, banyak orang berpartisipasi. Budi Brasali mau membantu menjadi penasihat dalam kepanitiaan. “Semua berjalan tanpa ada yang berkeluh-kesah, tanpa ada yang merasa terbebani. Semua berjalan seperti air mengalir,” lanjut Johan. Pembangunan memerlukan waktu selama kurang lebih dua tahun. Untuk struktur utama ditangani oleh PT Dimensi, untuk penyelesaian dipegang oleh Busman, sembari jalan mencari dana dari umat. Dana. Rp 1,3 miliar akhirnya tercapai.

“Satu hal yang misinya bisa dijadikan motivasi oleh anak muda, bahwa mengikuti Tuhan akhirnya bisa memberi, … dan melewati hidup tanpa ragu lagi, tanpa takut lagi. Kalau bekerja harus tuntas, jangan pernah putus asa,” tandas Johan bersemangat.

Johan didukung istrinya, Irene, dalam mengerjakan proyek ini. Ia merasa mendapatkan anugerah memperoleh kesempatan membangun desain gereja.

Di akhir perbincangan dengan MeRasul, Johan berujar, “Kalau kita berkarya di kebun anggur, tantangannya memang berat.”

Berto

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY