Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga? – Bagian 4

0
525

Yesus menampakkan diri kepada Petrus dan murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. Sesudah sarapan bersama, Yesus berdialog dengan Petrus. Percakapan itu membawa kesadaran Petrus akan kasih Kristus yang begitu besar. Kasih-Nya mampu memulihkan pengakuan dan penyangkalannya. Bahkan panggilannya diulang kembali, Ikutlah Aku (Yoh 21:1-23).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              (4). Pertobatan Petrus (Yohanes 21:15-19)

Di pantai Danau Tiberias berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus, dan dua murid-Nya yang lain. Setelah kematian Yesus, Petrus kembali ke pekerjaan lamanya sebagai nelayan. Bersama murid lainnya ia pergi menangkap ikan. Tetapi, malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Petrus tidak mau tampil telanjang, seakan malu akan dosa penyangkalannya. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Yesus sendirilah yang mempersiapkan sarapan untuk para murid-Nya setelah mereka lelah bekerja. Kata Yesus kepada mereka: Marilah dan sarapanlah. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan ikan, memberikannya kepada mereka (secara Ekaristis). Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati (Yoh 21:1-14).

Setelah sarapan Yesus menyapa Petrus dengan nama Simon anak Yohanes. Sapaan Yesus saat pertama kali Simon berjumpa dengan-Nya, dan Yesus memberi nama Kefas (artinya: Petrus) (Yoh 1:42). Yesus berkata: “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU lebih daripada mereka ini?” Yesus meminta Petrus untuk mencintai-Nya lebih daripada murid-murid lain. Petrus menanggapinya, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Pertanyaan yang sama diulang untuk kedua kalinya, dengan menghilangkan kata pembanding (“lebih daripada mereka ini”), lebih dalam dan personal antara Yesus dan Petrus. Dalam dua pertanyaan ini, Yesus bertanya dengan kata: Apakah engkau MENGASIHI (agape) AKU? Namun, Petrus selalu menjawabnya dengan, “Aku mengasihi (phileo) Engkau.” Yesus menuntut cinta agape, tetapi Petrus tidak sampai pada cinta itu. Yesus mengulangi pertanyaan-Nya untuk ketiga kali. Bertanya dengan bahasa kasih yang sama dengan Petrus, “Apakah engkau mengasihi (phileo) Aku?” Sedih hati Petrus, dia sungguh merasakan betapa saat itu dia merasa diri sebagai orang yang sungguh gagal, yang tidak pantas untuk mencintai Yesus. Tetapi, Yesus menurunkan standar kasih (agape), menerima pernyataan kasih(phileo) dari Petrus. Yesus meyakinkan Petrus, bahwa Ia sungguh mencintai Petrus; meskipun ia telah gagal! Bahkan Ia menegaskan kembali panggilan-Nya kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. Kasih Kristus yang begitu besar ini justru memulihkan dan menumbuhkan kasih di dalam hatinya. Kelak di akhir hidupnya, Petrus dapat membuktikan kasih yang besar kepada Kristus dengan kasih yang menyerupai kasih Kristus kepadanya. Petrus rela dihukum mati dengan disalibkan terbalik, demi membela imannya akan Kristus.

Maka, satu kesempatan bagi kita di dalam setiap perayaan Ekaristi, untuk mendengar sapaan Yesus: “Apakah kita mengasihiNya?” Mampukah kita menjawab dengan jujur? Mana tanda yang kuberikan kepada-Nya bahwa aku sungguh mengasihi-Nya? Yesus yang telah lebih dahulu mencintai kita, bahkan menurunkan standar bagi kita agar kita mampu menjawab tantangan kasih Kristus, mencintai-Nya secara pribadi, dan kemudian menyatakan kasih itu dalam kehidupan bersama. Dengan segala kelemahan, kita belajar mengarahkan hidup kepada-Nya. Yesus mengundang kita untuk mengalami cinta-Nya. Segala peristiwa hidup kita, bahkan sekecil apa pun dapat menjadi jalan bagi Yesus untuk mendidik dan membentuk kita semakin mencintai-Nya dan mencintai sesama. Pengalaman Simon Petrus memberikan pelajaran kepada kita, betapa proses menjadi murid-Nya mengalami dinamika suka dan duka. Kita hidup dipanggil untuk melayani sesama (keluarga, lingkungan, masyarakat, dll). Dalam pelayanan, ada saat kita berhasil dan tidak. Pada saat berhasil kita belajar semakin beriman, bahwa itulah karya Allah dalam hidup kita. Sebaliknya, dalam kegagalan, kita diundang menyambut Yesus yang akan menopang dan meneguhkan kita. Dan akhirnya, kita menyadari “Tuhan tetap hadir berkarya dalam diri kita, dengan kemampuan dan kerapuhan kita”. Kita selalu mau dibimbing, dibentuk seturut kehendak-Nya. Dan kita selalu mau menjawab ajakan-Nya: “Ikutlah Aku” dan tidak mundur atau pergi dari situasi: “Apakah kamu tidak mau pergi juga”.

 

Daniel

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY