Sumber dan Puncak Hidup Kristiani

0
924

Pertanyaan:

HARI Natal dan Paskah adalah inti spiritual kristiani. Ada orang-orang yang berpendapat, mengikuti Misa pada saat Natal dan Paskah (NaPas) adalah wajib, selebihnya pada hari Minggu dan perayaan lain cukup mengikutinya di internet, radio atau media elektronik. Bagaimana pendapat Romo terhadap masalah ini?

 

Jawaban:

Terima kasih atas pertanyaan tersebut di atas. Saya berpendapat, sebetulnya sederhana. Mari kita renungkan saja apa makna perayaan Ekaristi bagi kita sampai saat ini. Sikap merelativir Ekaristi seperti itu (wajib saat NaPas – yang lain fakultatif) mungkin saja berangkat dari pemahaman yang belum mendalam tentang Ekaristi. Bisa jadi Ekaristi hanya dianggap sebagai pengisi waktu luang atau bahkan sebuah kewajiban saja, lebih karena menuruti peraturan. Bukan karena lahir dari sebuah kesadaran dan kerinduan yang mendalam untuk mengalami persekutuan cinta kasih dengan Allah Tritunggal.

Gereja mengajarkan dan menegaskan bahwa perayaan Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup kristiani. Dalam Ekaristi, seluruh umat dipimpin oleh imam mempersembahkan diri dan korban Anak Domba Ilahi bersama Kristus kepada Allah (Lumen Gentium art. 11). Ekaristi menjadi sumber kehidupan kita karena dari sanalah mengalir kekuatan, peneguhan, semangat iman kita untuk menjalani kehidupan. Ekaristi menjadi puncak karena dalam Ekaristilah kita mempersembahkan kembali dengan syukur segala usaha kehidupan, pelayanan, pekerjaan entah yang sukses maupun yang gagal kepada Allah.

Inilah pemahaman tentang Ekaristi yang perlu dimiliki oleh setiap umat beriman Katolik. Selama pemahamannya belum sampai ke arah ini, wajar saja kalau ada umat yang berpendapat cukuplah menghadiri Misa pada saat yang diwajibkan saja, yaitu Natal dan Paskah.

Mungkin Anda masih ingat contoh yang pernah saya berikan dalam Rubrik Tanya Jawab majalah MeRasul beberapa edisi yang lalu. Sepasang kekasih yang saling mencintai akan selalu mengusahakan perjumpaan sesering mungkin. Kalau sedang jauh, mereka selalu berusaha mencari waktu kapan bisa bertemu, ngobrol, bertukar cerita, nonton, makan, dan jalan bareng. Aneh, jika pasangan sudah tidak memiliki kerinduan untuk saling bertemu. Aneh juga, jika pasangan lebih nyaman menjalin komunikasi lewat media daripada bertemu langsung. Perjumpaan antarpribadi tidak pernah bisa digantikan oleh media apa pun.

Nah, Ekaristi adalah undangan cinta Allah untuk berjumpa dengan kita (lih. Mat 22:1-14). Dalam Ekaristi, Allah mau “ngobrol-ngobrol” dengan kita melalui sabda-Nya. Allah mau mengajak kita “makan bersama” dan bahkan mau bersatu dengan kita dalam Komuni Kudus. Nah, kalau demikian, apakah bertemu dengan Allah cukup melalui sambungan internet, radio atau media elektronik? Apakah cukup menghadiri Ekaristi hanya dua kali setahun saat Natal dan Paskah? Silakan direnungkan jawabannya. Tuhan memberkati.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY