Ayo, Menyuci Hati pada Tahun Suci

0
386

“PHILO, bila  kamu  melewati detik-detik menjelang Tahun Baru 2016, apa yang pertama kali kamu pikirkan?”   Pertanyaan Opa Ben yang tak terduga membuat Philo, cucunya, gelagapan.

“Hmm… ngantuk Opa terus langsung tidur.”

Opa  kecewa.  “Ah… kamu sih cuma memikirkan  diri sendiri saja.”

Philo bingung.  “Habis, mikir apa lagi, Opa?”

Opa menjawab,  “Tuhan!  Sadarkah kamu, kalau bukan karena anugerah Tuhan,   mana mungkin keluarga kita sehat sejahtera sepanjang tahun.  Bisnis Papimu lancar. Kamu dikaruniai otak encer sehingga naik kelas. Adikmu Polly bisa montok begitu. Dan…   Opamu ini masih bisa terus begini gantengnya.”

Philo mengikik.    “Hihihi, Opaku keren kayak selebriti!”

Opa Ben  melanjutkan,  “Jadi kalau kita tidak bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya kebangetan namanya. Hebatnya Tuhan itu  Maharahim. ”

Philo bingung.  “Maharahim itu apa sih, Opa?”

Opa berpikir sebentar.  ” Philo, seandainya ada  teman  menuduh kamu mencuri,  lalu dia menghina kamu di depan teman-teman lain. Terus dia memukul kamu dan merusak sepedamu, apakah kamu masih mau berteman dengannya?”

Philo gregetan.   “Enak saja! Akan kupukul dia lalu kurusak sepedanya!.”

Opa Ben terbahak.   ” Haha!  Itu namanya adil ‘kan? Tapi Allah tidak begitu.  Sebab Dia bukan saja Mahaadil tapi juga mempunyai sifat yang lebih tinggi lagi,  yaitu Maharahim. Bukannya membenci atau mendendam. Allah justru mengampuni tanpa pamrih dan mau menerima kembali pendosa berat yang bertobat. Kasih Allah sulit dipahami.  Rahmat itu diberikan bukan karena kita pantas menerimanya. Tanpa kasih, keadilan  menjadi tidak  berarti.  Nah, Tuhan Yesus   adalah  wajah kerahiman Allah, kata Paus Fransiskus.  Itu benar karena  Dia  mengampuni pendosa berat, seperti pemungut cukai,  perempuan berdosa,  penjahat yang disalib, dan  bahkan Petrus yang menyangkal  Yesus.   Puncak kerahiman-Nya ketika Tuhan Yesus mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya. Eh Philo! Kamu  dengar nggak?”

Philo meringis.   “Iya, sampai kupingku dower nih, he he…. ”

Sambung Opa,   “Jaman sekarang kejahatan manusia sudah merajalela kelewat batas.    Maka, Paus Fransiskus mencanangkan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah sekarang ini.”

Philo bertanya,  “Tahun apaan itu, Opa?”

“Itu adalah Tahun Suci untuk mengingatkan  kita akan belas kasih dan kerahiman Allah yang telah kita lupakan.  Gereja membuka kesempatan untuk kita menyucikan diri melalui Sakramen Tobat.  Jadi, kita punya harapan untuk bertobat dan diampuni maka martabat kita sebagai anak Allah dipulihkan kembali. Kamu tahu tidak, setiap Tahun Suci, Paus membuka Pintu Suci atau Porta Sancta di Basilika St. Petrus,  Vatikan,  yang biasanya ditutup dari dalam dengan tembok sebagai simbol bahwa Tuhan Yesus adalah pintu menuju keselamatan kekal,” jabar si Opa.

“Buat apa sih Pintu Suci itu dibuka, Opa?”  Philo menyela.

“Itu sebagai simbol bila orang masuk melaluinya, ia meninggalkan keduniawian dan masuk ke dalam hadirat Allah dengan pertobatan hati yang mendalam, memasuki hidup baru kemudian mendapatkan indulgensi atau penghapusan dosa. Jadi, ada peralihan dari dosa ke rahmat. Pembukaan Pintu Suci simbol dari disingkirkannya penghalang-penghalang  untuk bersatu dengan Allah.”

Philo berdecak kagum akan kekayaan makna peristiwa itu.

“Kita yang sudah mengalami kerahiman Allah wajib mensyukuri, mewartakan, lalu mewujudkannya sebagai duta untuk berbagi kerahiman. Pesan Paus Fransiskus dalam menapaki tahun 2016 ini ialah berbagi kerahiman dapat dimulai dalam keluarga kita sendiri dengan memberikan perhatian, waktu, cinta yang tidak bisa digantikan dengan uang. Lalu, kepedulian terhadap yang  menderita dan membutuhkan pertolongan. Mengekang  nafsu dan keinginan yang berlebihan. Jangan berbuat negatif,  menggosip dan berkata buruk.  Jalinlah kasih dan selalu mengampuni sesama sekalipun mereka tidak sejalan dengan kita.  Berbahagialah  dan bersyukur selalu, bersemangat, dan tekun bekerja.  Juga  peduli  terhadap lingkungan hidup, Rumah Kita Bersama dan menjaga kelestarian Ibu Bumi kita.  Itu dinamakan Pertobatan Ekologis.”

“Wah  wah!  Susah ya Opa jadi orang benar,” celetuk Philo.

Ember. Tapi bukannya tidak mungkin, Philo. Seandainya saja di dunia ini semakin banyak orang yang berhati bersih,  pasti  dunia akan lebih damai.”

Pikiran Opa Ben menerawang.

“Okelah Opa, mari kita bareng menyuci hati,”  sambut Philo penuh semangat.

Ekatanaya

SHARE
Previous articleDemam Virus Zika
Next articleSpion dan Baju

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY