Teladan Doa Yesus di Getsemani

0
474

Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah bertetesan ke tanah (Luk 22:44). Getsemani yang mencekam, menjadi saksi dari suatu peristiwa yang menyakitkan. Kerelaan untuk menerima penderitaan dan menjalankannya merupakan suatu teladan doa-Nya. “Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Ptr 2:21).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        SETELAH makan dalam perjamuan terakhir, malam itu Yesus bersama sebelas murid-murid-Nya pergi ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Yudas yang berkhianat telah memisahkan diri. Yesus menyuruh mereka untuk menunggu, sementara Ia pergi memisahkan diri untuk berdoa. Dan saat itu hatinya mulai merasa sedih dan gentar. Apa yang akan dihadapi-Nya begitu menakutkan. Yesus pun mengajak tiga rasul yang paling dekat dengan-Nya untuk masuk lebih dalam. Mereka adalah Petrus dan kedua anak Zebedeus, yakni Yakobus dan Yohanes. Mereka bertiga yang pernah menyaksikan kemuliaan-Nya (Mat 17:1-13). Kini ketiga murid menyaksikan kesengsaraan-Nya.  Dengan rasa takut dan sedih yang ada di hati-Nya Yesus pun berkata kepada mereka, “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Yesus meninggalkan ketiga murid itu. Ia sendiri masuk lebih ke dalam lagi untuk berdoa seorang diri. Ia pun sujud dan berdoa kepada Bapa-Nya, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Meminum isi cawan itu berarti menerima penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib (Mat 26:27-28). Dalam doa yang pertama ini Yesus masih mohon dibebaskan dari penderitaan-Nya, meskipun berserah kepada Bapa-Nya. Setelah berdoa pertama, Yesus kembali kepada murid-murid-Nya dan menegur Petrus karena mereka tertidur.

Dalam ketakutan-Nya menghadapi penderitaan-Nya, Yesus membutuhkan mereka untuk meneguhkan hati-Nya. Kemudian Yesus meninggalkan mereka untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya:“Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Ada perubahan pada doa kedua. Yesus sudah lebih pasrah dalam menerima nasib yang ditentukan Bapa-Nya. Ketika Yesus kembali lagi kepada para murid, ternyata mereka masih tidur juga. Mereka tidak memenuhi permintaan Yesus untuk berjaga dan berdoa bersama Dia, meskipun kali ini ada penjelasan “sebab mata mereka sudah berat”. Yesus tidak menegur mereka, Ia membiarkan mereka, sikap-Nya berbeda ketika Ia mulai pasrah. Lalu Yesus pergi berdoa untuk ketiga kalinya, di sini Ia menegaskan kepasrahan-Nya. Ia tidak mundur dari keputusan-Nya untuk memenuhi kehendak Bapa-Nya. Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, “Tidurlah sekarang dan istirahatlah”. Yesus lebih mantap meminum cawan penderitaan-Nya, setelah mendapat kekuatan dari Bapa-Nya.

Kegagalan, masalah, dan penderitaan dapat terjadi dalam hidup yang kita jalani. Bisa saja kita sedang diabaikan oleh orang-orang yang dikasihi, seperti orang tua yang tidak peduli pada kehidupan anak-anaknya, pasangan suami-istri yang saling menyakiti, penderitaan karena sakit penyakit, ketakutan akibat peristiwa masa lalu, kesepian, sakit hati, dikhianati oleh sahabat, dan masih banyak lagi. Kita bisa menjadikan semua kondisi ini untuk mengintrospeksi diri, mungkin ada maksud Tuhan di balik semuanya. Atau sebaliknya, kita protes apakah Tuhan itu ada?,  apakah Tuhan mengasihi saya? Yesus memberikan teladan-Nya, semua masalah bukanlah untuk dihindari, tetapi untuk diselesaikan. Yesus mohon kekuatan dari Bapa-Nya. Dia berdoa! Doa merupakan bagian hidup Yesus yang tidak dapat dipisahkan. Ia maju sedikit untuk berdoa seorang diri, sujud, dan berdoa kepada Bapa-Nya. Ia berdoa tidak hanya satu kali tetapi sampai tiga kali dan makin bersungguh-sungguh. Ia mohon dibebaskan dari penderitaan yang mengancam-Nya. Tetapi, yang menentukan bukanlah keinginan Dia, melainkan kehendak Bapa-Nya.

Kita pun harus berani dan berusaha secara pribadi untuk melakukan doa dengan sungguh-sungguh, dengan menyadari diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dikasihi-Nya. Yang oleh Kerahiman-Nya mau menerima, merawat, mencintai, menumbuhkan dan memberi kehidupan kepada kita. Melalui setiap masalah dan penderitaan yang kita alami, Tuhan berbicara kepada kita dan menyatakan kebesaran-Nya dalam hidup kita. Tuhan justru ingin menarik kita untuk lebih mendekat kepada-Nya dan mengandalkan kuasa-Nya untuk menolong dan memberi kekuatan. Dengan penyerahan diri dan ketaatan kita kepada Tuhan untuk mau menerima setiap situasi dan persoalan yang ada, maka kita akan mampu melihat segala kebaikan yang akan terjadi di balik penderitaan itu. Seperti halnya dengan penderitaan yang dialami oleh Yesus, karena kepasrahan dan ketaatan-Nya untuk menerima dan melalui semua itu, maka manusia memperoleh keselamatan. Dengan kepasrahan dan ketaatan Yesus, maka belenggu dosa dikalahkan. Semoga kita semua dikuatkan dengan teladan doa Yesus di Getsemani.

Daniel

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY