Salib Itu Telah Berganti “Profesi”

0
428

“PHILO, selamat ya!  Kamu naik  kelas lima  dan sekaligus kamu sudah layak menerima Komuni Pertama.”

Opa Ben berdiri seraya mengangkat gelas jus sirsaknya seperti hendak melakukan toast.  Mereka duduk di pojok ruangan sebuah restoran bakmi.

Opa Ben melanjutkan orasinya, “Sekarang mari  bersyukur kepada Tuhan dalam doa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin….”

Seusai seremoni singkat itu, Philo mulai melahap kwetiauw favoritnya sedangkan Opa Ben cukup menikmati nasi tim. Tiba-tiba, Opa Ben bertanya kepada cucunya, “Philo, tata gerak manakah dalam tradisi Gereja kita yang paling kudus?”

Philo menjawab dengan kesal. “Ah, Opa curang!  Philo ‘kan baru saja menerima Komuni Pertama sedangkan Opa mantan prodiakon. Tentu saja Opa tahu.”

Opa Ben mesem bangga.  “Oke. Itu adalah Tanda Salib yang mengungkapkan iman dasar Kristiani. Salib yang umumnya menjadi lambang, penderitaan, perendahan dan kehinaan, oleh Yesus  diganti menjadi simbol kemenangan, penebusan, kekuatan, keselamatan, kebangkitan, dan kemuliaan. Sekarang Salib Kristus bukan lagi salib si penjahat tapi Salib Suci.”

“Opa, jadi salib penjahat telah  ganti ‘profesi’  ya?” sela Philo.

“Ha ha ha!  Ya semacam itulah!  Maka, untuk membedakannya pada salib hiasan dilekatkan patung Yesus atau Corpus. Membuat Tanda Salib berarti kita mengimani Tritunggal Mahakudus, merasakan sengsara Yesus serta kasih-Nya yang menyucikan dan menguduskan kita di atas kayu salib. Jadi, membuat Tanda Salib merupakan gerak kudus yang mewujudkan suatu penghormatan. Philo, tadi Opa lihat kamu membuat Tanda Salib asal-asalan. Tangan mengambang  nggak jelas.   Cepat-cepat  kayak orang mengusir nyamuk saja.  Ha ha ha…’’     Philo tersipu-sipu.

“Philo, kalau kamu  malu membuat Tanda Salib berarti kamu malu punya Tuhan Yesus. Harus dengan hormat dan sopan melakukannya.  Tidak terburu-buru dengan memakai kelima jari terbuka sebagai lambang kelima luka Kristus di kayu salib.”

“Okelah Opa, Philo gak gitu lagi” Philo angkat janji.

“Philo, kalau kamu membuat Tanda Salib ketika masuk gereja, itu mengingatkan akan  pembaptisan kamu.  Kamu dikuduskan sebagai Anak Allah maka sikap dan tingkah laku kamu di dalam gereja harus mencerminkan sikap seorang Anak Allah. Jangan neko-neko.”

Opa Ben sejenak menyeruput sisa jus  sirsaknya. Lanjutnya, “Philo, demikian agungnya Salib Kristus sehingga unsur terpenting dari Perayaan Jumat Agung adalah penghormatan salib. Ketika mencium Salib Kristus, kita berlutut tanda merendahkan diri. Pusatkan hati pada Salib Kristus sebagai sumber kebahagiaan dan ucapkan dalam hati bahwa kamu mencintai Yesus. Philo, tak cukup hanya menghormat saja, lalu kita cuekin, tak menghargai pengorbanan Kristus. Sedikitnya harus kita renungkan atau meditasikan sengsara dan wafat-Nya secara mendalam melalui  Devosi Jalan Salib sebagai ungkapan tobat dalam sikap doa. Kita diajak masuk ke dalam peristiwa-peristiwa yang dialami Kristus di jalan salib-Nya atau Via Dolorosa. Kemudian bersyukur dan mencoba untuk merefleksikan peristiwa dalam setiap perhentian serta mengambil pelajaran darinya. Kalau kita memandang Salib Kristus sepantasnya kita insyaf, bertobat, dan berubah. Pada Perayaan Paskah hendaknya pribadi kita yang lama mati di salib dan bersama Kristus yang bangkit, kita bangkit pula menjadi manusia baru.”

Philo melihat wajah Opa Ben makin lama semakin meringis. Apa kelelahan karena banyak nyerocos? “Opa sakit?” tanya Philo cemas.

Jawab Opa, “Mmm… anu… Opa ke toilet sebentar ya!”  Lalu, Opa ngacir ke WC.

Philo  tersenyum lega. Ketika Opa Ben kembali, ia tercengang melihat gerak tangan Philo yang duduk membelakanginya. Dengan gemas,  dihampirinya cucunya.

“Philo! Lagi-lagi kamu membuat Tanda Salib serampangan.”  Tapi Philo menjawab tenang,

“Bukan Tanda Salib, Opa. Philo sedang mengusir lalat betulan yang mau  hinggap di ujung  sedotan jus Opa.”

Duo pasangan “Kolot- Kencur” itu tertawa geli.

Ekatanaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY