Semangat Kerahiman

0
573

Pertanyaan:

Tahun ini adalah Tahun Kerahiman Ilahi. Apa sebenarnya kerahiman yang dimaksud Gereja Katolik? Apakah kerahiman sama dengan cinta kasih?

Jawab:

Terima kasih atas pertanyaan ini. Bicara tentang kerahiman Ilahi yang dicanangkan Gereja Katolik sepanjang tahun 2016, kita dapat memunculkan banyak pertanyaan. Misalnya saja, apa yang menjadi landasan Gereja mencanangkan Tahun Kerahiman Ilahi. Kerahiman ilahi macam apa yang dimaksud? Mengapa baru sekarang dicanangkannya? Dan seabrek pertanyaan lainnya.

Untuk mendapatkan jawaban yang jelas mendalam, kita tentu perlu membaca sendiri Bulla Misericoridae Vultus yang dikeluarkan pada 11 April 2015.

Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari dokumen tersebut. Misalnya, dengan menegaskan bahwa Allah — dalam Perjanjian Lama — digambarkan memiliki sifat “sabar dan penuh kerahiman” (art. 6). Dengan penuh kasih sayang, Ia menciptakan dunia dan segala isinya serta memberi napas kehidupan kepada manusia pertama (Kej 1 dan 2). Sifat penuh kerahiman-Nya ini ditunjukkan secara nyata dalam banyak tindakan-Nya di sepanjang sejarah keselamatan. Kebaikan-Nya menang atas hukuman dan kehancuran.

Mulai saja kita lihat bagaimana Allah bersikap ketika pembunuhan pertama terjadi di dunia ini menurut Kitab Kejadian. Ketika Kain membunuh Habel adiknya, ia mengira akan menjadi orang terkutuk, barangsiapa bertemu dengannya akan membunuhnya (Kej 4:14). Tetapi Allah mengatakan, “Sekali-kali tidak, barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat” (Kej 4:15). Bahkan Allah juga menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh siapapun yang bertemu dengan Dia. Alih-alih menghukum Kain atas perbuatannya, Allah justru menjamin keselamatan Kain dan mengampuninya.

Kepada Nuh, Allah berjanji tidak akan mengutuk bumi karena manusia dan tidak akan membinasakan bumi lagi dengan air bah (Kej 8:21). Kepada Musa, Allah menyatakan diri-Nya sebagai “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6). Juga dalam banyak ayat dalam kitab Mazmur, tindakan Allah yang penuh kerahiman diungkapkan. Inilah kodrat ilahi-Nya, yang ditunjukkan dalam berbagai cara sepanjang sejarah manusia, seperti yang dikisahkan dalam Kitab Suci (art. 1).

Rasul Yohanes dalam 1Yoh 4:16 sangat jelas mendefinisikan siapa Allah itu, “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”.

Allah yang memiliki wajah penuh kerahiman dan kasih itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa. Ketika di Nazaret, Yesus membacakan nas dari Kitab Nabi Yesaya; “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang“ (Luk 4:18). Kegenapan nas ini terjadi pada diri Yesus sebab itulah yang akan menjadi misi-Nya di dunia.

Ada satu teks asli Kitab Yesaya yang tidak diucapkan oleh Yesus yaitu, “…dan pembalasan Allah kita” (Yes 61:2). Yesus mau menegaskan bahwa Allah bukan Allah penghukum, pemusnah, dan pembalas. Pesan yang sama disampaikan dalam Injil Yohanes 3:16-17, Karena kasih-Nya yang begitu besar, Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal ke dunia, bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Madah ini sungguh nyata dan terlaksana ketika di salib Yesus pun mengakhiri tugas perutusan-Nya dengan penuh ketaatan, “Sudah selesai” (Yoh 19:30). Semua orang siapapun dia, diterima dengan penuh kasih sayang oleh Yesus: orang-orang saleh maupun orang berdosa, pemungut cukai, pelacur, pecandu narkoba, penderita HIV-AIDS, dan lain sebagainya. Ia menerima mereka dan makan bersama dengan mereka (Luk 15:2).

Maka, meskipun tanpa adanya pencanangan Tahun Kerahiman Ilahi pun, sifat kerahiman Allah harus selalu menjadi jati diri kristiani, jati diri Gereja, dan jati diri setiap orang yang mengaku percaya kepada Yesus. Kata kerahiman berasal dari kata dasar “rahim”. Kata ini membawa kita ingat kepada rahim seorang ibu, yang melindungi dan menjaga, membungkus, merawat, dan memberi kehidupan. Dengan gambaran ini, diharapkan, kita sebagai orang kristiani sadar memiliki keyakinan dan paham bahwa kita selama ini sebenarnya berada dalam kerahiman kasih Allah. Kita diajak selalu hidup dalam kasih kerahiman ilahi sebagai komunitas dan keluarga yang saling mengasihi dan memberikan pengampunan. Dan tentu, harapannya kerahiman Allah tidak hanya dihadirkan sampai Yubileum Agung ini ditutup pada November 2016 mendatang, tetapi terus menjadi semangat dan keyakinan batin kita bersama sebagai orang beriman kristiani.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY