MARIA MERASUL

0
492

Daniel Julianto, sie Kerasulan Kitab Suci Sathora

Mendengarkan dan memelihara firman  Allah, bersama Bunda Maria.

Siapa yang berbahagia ? Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya:  “Berbahagialah ibu yang  telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”. Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”. Ukuran kebahagian dari sudut pandang dunia dan sudut pandang Tuhan itu sangat jauh berbeda (Luk 11:27-28).

Jika ditanya, “Apakah saat ini sedang bahagia?”,  apa jawaban kita? Mungkin ada diantara kita yang menjawab, “maaf, saat ini saya sedang banyak permasalahan”. Tetapi biasanya banyak juga yang menjawab, “Ya, tentu saya bahagia”. Lalu jika diteruskan dengan pertanyaan, ”Mengapa kamu berbahagia ?”. Boleh jadi banyak dari antara kita mulai berpikir, ”Iya ya, mengapa saya saat ini berbahagia ? Apa alasan saya berbahagia ?. Hal yang ini mengigatkan kita pada peristiwa Yesus pada bacaan di atas, pada suatu kesempatan tiba-tiba berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak kepada Yesus, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”(27). Kenapa tiba-tiba perempuan itu bisa berseru seperti itu, apa sebabnya ? Padahal Yesus tidaks edang membicarakan Ibu-Nya. Apa karena ia melihat Yesus melakukan banyak mujizat, mengusir setan, dan mengajar dengan penuh kuasa. Sehingga perempuan itu berpikir;  alangkah bahagia Bunda Maria, mempunyai seorang anak yang hebat dan terkenal. Kita pun seringkali melihat kebahagiaan hanya dari keluarga tempat kita dilahirkan dan dibesarkan, siapa ayah dan ibu kita, lalu apakah anak kita menjadi anak yang berprestasi dan sukses. Hal ini menunjukkan kesuksesan diukur dengan jabatan dan materi yang  kita miliki. Tetapi Yesus berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (28). Memelihara adalah suatu pekerjaan atau tindakkan yang tidak mudah. Ada berbagai kiat yang  dibutuhkan; kesabaran, ketekunan, kasih sayang dalam menjaga, merawat, membesarkan dan menghidupi apa yang kita pelihara. Kita semua merasakan hal ini, baik kepada anak, orang tua, saudara dan sesama.Yesus ingin menyatakan hal tersebut, kebahagian Bunda Maria bukan hanya karena anaknya yang sukses dan terkenal, tetapi karena Bunda Maria telah mendengar dan memelihara firman Allah. Dalam peristiwa inkarnasi,  Maria menerima salam “Salam bahagia/sukacita” dari Allah sendiri yang disampaikan Malaikat Gabriel, hal ini membuatnya terkejut. Maria bertanya dalam hatinya, apa makna kabar suka cita ini. Selanjutnya, oleh karena keterbukaan hati membuat Maria mampu mengerti, dan ia mendapat kasih karunia serta penyertaan Allah.  Dan mendorong Maria mengucapkan jawaban, ya, atas kabar sukacita itu,  “Sesungguhnya aku ini adalah hambaTuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Jawaban yang sederhana ini mengandung iman, pengharapan, kerendahan hati, keberanian, ketaatan dan kasih Maria. Maria percaya Tuhan menyertainya,  jawaban “Ya” Maria yang bebas itu memungkinkan Anak Allah hadir di dunia untuk menyelamatkan manusia. Dengan kata lain Maria mendengarkan firman Allah dan mau memberi jawaban positif. Jawaban bebas dari manusia juga penting, komunikasi rahmat dan jawaban manusia mutlak diperlukan. Penebusan adalah karya Allah, namun di dalamnya manusia perlu bekerjasama dengan Allah. Selanjutnya, Maria tidak saja mendengarkan firman Allah dan memberi jawaban “ya”,  Maria bahkan memeliharanya, terutama ketika firman yang oleh kuasa Roh Kudus menjadi manusia dalam kandungannya, berlanjut dalam peristiwa kelahiran-Nya, dalam karya Putranya dan sampai di bawah kayu Salib. Dan dalam setiap perkara yang tidak dimengertinya, Maria selalu menyimpan perkara tersebut dan merenungkan dalam hatinya. “….Perawansuci  Maria maju dalam ziarah iman, dan mempertahankan dengan setia kesatuannya dengan Putera sampai di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat besama dengan Puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia meggabungkan diri dengan korban-Nya, dan penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya” (LG 58).

Dalam bulan Mei ini, kita diajak untuk semakin berbahagia dengan mendengar dan memelihara firmanTuhan bersama Bunda Maria,  sekaligus mengamalkan gerakan “Amalkan Pancasila” dalam Rosario Merah Putih.

SHARE
Previous articleSemangat Kerahiman
Next articleCowok Berkalung Salib

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY