Kesetiaan pada Alasan yang Kita Ciptakan Sendiri

0
646
Linked hands on a white background symbolizing teamwork and friendship

Oleh Daud Khesar

Begitu banyak kisah mengenai keberhasilan atau perjuangan seseorang yang begitu luar biasa. Sebut saja seorang tokoh yang tidak lulus sekolah namun sekarang perusahaannya menjadi salah satu yang terbesar di dunia, atau seorang tokoh wanita yang begitu muda namun begitu beraninya mendukung kesetaraan gender dan perdamaian dunia, dan masih banyak lainnya.

Kisah-kisah keberhasilan itu mungkin bagi sebagian orang membantunya menjadi lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya, mungkin juga bagi sebagian orang lain benar-benar membantu hidupnya berubah, dan mungkin juga sebagian orang  yanga lainnya menganggap kisah-kisah itu “terlalu jauh” dari dirinya. Bisa saja karena merasa latar belakangnya berbeda, atau situasinya berbeda, atau merasa kisah itu dibuat-buat, atau alas an lainnya.

Sama atau tidak latar belakang  atau pun situasinya, dibuat-buat atau pun tidak, kisah tersebut  ada 2 fakta yang terjadi. Fakta pertama, ada orang yang hidupnya jelas-jelas terbantu setelah membaca salah satu kisah tersebut dan fakta kedua, ada orang yang hidupnya jelas-jelas tidak berubah setelah membaca semua kisah tersebut.

Kedua fakta tersebut terjadi juga dalam setiap perusahaan baik skala kecil maupun skala international. Strategi keberhasilan suatu posisi dalam perusahaan pasti sudah dijelaskan. Seperti cara pelayanan yang terbaik kepada customer, cara berjualan yang efektif, mengelola tim dengan maximal, hinggamemimpin sebuah perusahaan.

Walaupun strategi-strategi tersebut sudah diberikan pasti akan selalu ada yang belajar dan menjadi lebih baik lagi, dan ada yang tidak mengubah cara lamanya dan tentu hasilnya akan sama saja. Karena itu si sama saja akan terus berlari di tempat dan bingung kenapa si berhasil bisa semakin jauh berhasil.

Sebenarnya, apa yang membedakan s iberhasil dan si sama saja bukanlah terletak di cara bekerjanya saja, namunsebelum itu perlu dipahami apa yang menjadi alasan orang tersebut menjalankan cara kerjanya. Setiap orang pasti memiliki alasan yang ia ciptakan sendiri kenapa ia memilih cara kerja tertentu. Mengapa seseorang bias bekerja 12 jam sehari tanpa lelah sedangkan ada yang bias bekerja 2 jam sehari saja sudah lelah.

Seorang karyawan pernah bercerita bahwa selama 2 jam ia bekerja sungguh melelahkan karena merasa pekerjaannya sangat tidak penting, padahal sebenarnya penting untuk perusahaan. Seorang pemimpin perusahaan pernah bercerita ia biasa bekerja selama 12 jam setiap hari karena merasa dia hanya bermain dengan hobby-nya. Dengan alasan seperti itu sangat dapat dipahami, sepenting apapun nilai pekerjaan itu kepada perusahaan, siapa pun pasti akan lelah melakukan pekerjaan yang ia rasa “ga penting banget deh”, di sisi lain sekecil apapun nilai pekerjaan itu kepada perusahaan, siapapun tidak akan pernah ngerasa pada saat ia merasa melakukan hobby-nya. Di luar jam kerja yang disediakan kepada masing-masing pekerjaan, tentu dapat dibayangkan siapa yang akan menjalankan tugasnya dengan lebih.

Sebut saja si karyawan sebagai si sama saja dan pemimpin perusahaan sebagai si berhasil, si sama saja akan terus berjalan di tempat selama ia terus membuat alas an kenapa begitu tidak pentingnya pekerjaannya. Sedangkan si berhasil akan semakin berhasil selama ia terus membuat alas an kenapa pekerjaannya begitu menyenangkan, alas an kenapa pekerjaannya begitu penting. Saat sakit, si berhasil akan memiliki segudang alas an kenapa ia harus terus tetap bekerja walau sakit, seperti “saya harus menyelesaikannya karena berpengaruh kepada seluruh elemen perusahaan. Namun si sama saja, selama ia tidak dapat menemukan alasan yang kuat, ia pasti tidak akan melanjutkan pekerjaannya.

Alasan pada dasarnya kitalah yang menciptakannya sendiri, setiap orang berhasil di dunia, para penemu nomor satu di dunia, para pemimpin dunia, menciptakan dahulu sebuah atau segudang alasan mengapa penemuannya, produknya, bahkan tidak jarang, dirinya begitu penting untuk dunia, baru kemudian dunia menerima bahwa alas an itu benar adanya. Bahkan saat anda mau membeli smartphone terbarupun anda mungkin membuat segudang alas an kenapa smartphone itu harus anda beli. Pada dasarnya jika ingin lebih baik lagi dalam posisi apapun, cukup dengan sebuah alasan yang kuat dan tetap dipegang teguh maka seseorang akan siap menghadapi tantangan apapun dan berhasil.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY