Ia Harus Makin Besar…

0
402

Setiap 24 Juni, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Mari kita mengenal tokoh ini. Yesus mengungkapkan identitas Yohanes: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang nabi yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis”. Ini pernyataan Yesus yang mengejutkan bukan? Apakah dia melebihi Abraham, Ishak, dan Yakub? Apakah dia melebihi Musa yang telah menyelamatkan umat Israel dari perbudakan di Mesir?  Atau nabi-nabi lain dalam Perjanjian Lama? Dari sini kita mulai bertanya, hal apa yang membuat Yohanes Pembaptis besar? (Mat 11:7-11)

 

Dari keempat Injil, dikisahkan Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan. Banyak sekali orang yang bertobat mulai dari Yerusalem, seluruh Yudea, dan seluruh daerah sekitar Yordan. Termasuk pemuka agama, pemungut cukai, dan prajurit. Mungkin tiap hari ratusan orang bertobat dan dibaptis, sehingga  pekerjaan ini “sukses besar” dan namanya menjadi sangat terkenal dengan sebutan Yohanes Si Pembaptis. Bahkan banyak pula yang menjadi pengikut dan muridnya, di antaranya Andreas. Ia pula yang membaptis Yesus di Sungai Yordan. Tetapi, kebesaran namanya tidak membuat ia lupa akan perutusannya. Pada saat orang-orang bertanya, “Apakah kamu Mesias? Apakah kamu Elia? Apakah kamu nabi besar? Lalu siapakah kamu?” Yohanes Pembaptis menjawab, “Tidak, aku bukanlah Mesias. Aku bahkan tidak layak untuk membuka tali kasut Mesias” (Yoh 1:19-28).

Membuka tali kasut adalah pekerjaan yang rendah pada saat itu. Hanya  seorang hamba yang akan melakukan pekerjaan itu kepada tuannya. Dan Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa ia tidak layak melakukan itu terhadap Yesus. Untuk menjadi hamba bagi Yesus pun ia tidak layak. Kerendahan hatinya luar biasa. (Kerendahan hati yang begitu tinggi dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada para murid-Nya, tidak hanya membuka tali kasut murid-muridNya, tetapi malah membasuh kaki mereka). Yohanes Pembaptis hanya minta supaya orang-orang mengingatnya sebagai orang yang berseru-seru di padang gurun. Tidak perlu gelar, tidak perlu status jabatan atau nama besar. Luar biasa bukan? Apalagi bila kita tahu siapa Yohanes Pembaptis. Dia berasal dari keluarga yang sangat hebat di Israel; ayahnya Zakharia seorang imam dan ibunya Elisabet juga keturunan imam besar Harun. Kelahirannya diberitakan oleh Malaikat Gabriel, utusan Allah yang paling tinggi. Ia adalah bayi spesial; ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak di dalam rahim ibunya, dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan (Luk 1:5-24). Ia menjadi pembicaraan di seluruh Pegunungan Yudea, menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertainya (Luk 1:65-66). Tetapi, Yohanes Pembaptis hanya ingin dikenal sebagai “suara yang berseru-seru”, kerendahan hati yang bernilai jauh lebih besar.

Kita mungkin telah melayani begitu banyak orang dalam kehidupan sehari-hari, melalui waktu, uang, pikiran, tenaga, dll. Semuanya itu baik dan memang itulah yang harus kita lakukan sebagai murid Kristus. Tetapi, kita sering lupa akan tugas perutusan dan lebih membutuhkan status yang menyatakan itu semua, apalagi didukung latar belakang  hidup, keluarga, prestasi, pendidikan, dll. Dapatkah kita hanya menjadi “suara-suara”, suara yang memberi pengharapan, penghiburan, kasih bagi orang-orang yang berada di dalam kesulitan, dan membawa pertobatan bagi banyak orang untuk datang kepada Yesus?

Selanjutnya, dalam kesempatan yang lain, beberapa muridnya mendatangi Yohanes Pembaptis dan berkata, “Tahukah kamu? Yesus dan murid-murid-Nya juga membaptis, dan  sekarang semua orang pergi kepada-Nya. Ia melakukan banyak mukjizat; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan Yesus semakin terkenal. Dulu kamu sangat berhasil, sukses besar, dan segenap orang Israel datang kepadamu, tetapi sekarang mereka pergi kepada Yesus dan murid-murid-Nya.”

Apa jawaban Yohanes Pembaptis? Dia berkata, “Aku bersukacita akan hal itu. Sama halnya dengan sahabat mempelai laki-laki, aku bersukacita demi dia.” Ia tidak merasa tersaingi, apalagi iri di dalam hatinya. Ia sadar hanya seorang sahabat dari Yesus sang mempelai laki-laki. Meskipun pada akhir hidupnya ia kesepian di dalam penjara, ia telah menjalankan tugas perutusan dengan setia. Namun, satu hal yang luar biasa, ia melanjutkan ucapan dengan kalimat yang terkenal: Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh 3: 29-30). Mungkin kita dapat bertanya kepada diri sendiri, untuk siapakah pelayananku? Jika untuk Tuhan, “yes”, jawaban sudah benar. Pertanyaan selanjutnya, sejauh ini bagaimana aku memposisikan diri? Jika saat ini posisiku ternyata lebih besar dari Tuhan, maka marilah kita belajar dengan kerendahan hati untuk mengubah; Tuhanlah yang lebih besar dan biarkan aku menjadi semakin kecil, sehingga aku selalu dapat bersukacita bersama-Nya di dalam karya dan pelayanan.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY