Mengenal Imam lebih dekat

0
948

KITA mengenal dua pilihan menjadi imam dalam Gereja Katolik. Yakni,  Imam Religius (biarawan, rohaniwan yang merupakan anggota dari suatu ordo/ lembaga religius/serikat/ tarekat/ kongregasi ) dan Imam Diosesan (Imam Praja/Projo/Imam Sekuler, yang berkarya di wilayah sebuah keuskupan di bawah kepemimpinan seorang Uskup).

Identitas seorang Imam Religius dapat dilihat dari penulisan namanya. Ada yang menuliskan dengan tambahan RP di depan namanya.  RP adalah singkatan Reverendus Pater  (bahasa Latin berarti Bapa yang Terhormat). Lalu, di belakang nama ditulis singkatan nama ordonya. Imam Religius dapat berkarya di mana saja ketika mereka diutus oleh Superior atau pemimpin mereka, dan dalam bidang apa pun. Setiap komunitas religius memiliki Karisma atau Karunia Roh Kudus dan membawa Karisma itu ke dalam karya pelayanan mereka. Imam Religius yang diutus berkarya dalam suatu wilayah keuskupan harus mendapat izin oleh Uskup setempat dengan kesepakatan dengan Uskup di wilayah tersebut.

Di antara kita mungkin masih terdapat kebingungan dengan singkatan Pr di belakang nama seorang imam atau juga singkatan RD di depannya. Kata Pr berasal dari dua versi bahasa, yaitu Praja (baca: Projo), kata Jawa turunan bahasa Sansekerta yang artinya kerajaan, wilayah atau negara. Dalam konteks penugasan imam, wilayah ini disebut keuskupan.

Lalu dalam versi bahasa Yunani, Pr singkatan dari Presbyteros yang artinya penatua, pimpinan setempat. Maka, singkatan Pr bisa merujuk dua arti, yakni Praja (wilayah, dunia) atau Prebyster (imam). Sementara RD adalah singkatan dari bahasa Latin, yaitu Reverendus Dominus yang artinya Bapak atau Tuan yang Terhormat (singkatan ini sudah lama dipakai dalam Gereja Katolik untuk menunjuk Imam Sekuler).  Belakangan, ada istilah baru yang muncul, yaitu RD menjadi Romo Diosesan. Gabungan dari Romo (bahasa Jawa yang berarti Bapa) dan Diocesan (baca: Diosesan) berasal dari bahasa Yunani yang berarti menata rumah atau tinggal dekat. Atau di dalam bahasa Inggris mempunyai arti: connected with a district for which a bishop is responsible.  Jadi, penggunaan Pr dan RD sama saja di dalam penulisan nama imam (romo).

Proses menjadi seorang imam dapat dimulai dari Seminari Menengah yang setara SMP dan SMA. Namun, ada juga yang mendapat panggilan menjadi imam pada saat sudah kuliah atau bekerja, sebelum berumur 35 tahun. Keduanya kemudian harus melewati tahapan pendidikan yang sedikit berbeda antara Imam Diosesan dan Imam Religius.

Berikut ini adalah Tahap Pendidikan Imam Diosesan KAJ:

  • Tahap Pertama: Tahun Orientasi Rohani selama satu tahun, di Wisma Puruhita, Klender.
  • Tahap Kedua: Studi Filsafat S1 selama empat tahun, di Sekolah Tinggi Filsafat ( STF ) Driyarkara. Para frater tinggal di Wisma Cempaka Putih Timur.
  • Tahap Ketiga: Tahun Orientasi Pastoral selama satu-dua tahun, di paroki atau institusi kategorial atau diutus ke daerah misi domestika di Borneo atau Papua.
  • Tahap Keempat: Studi Teologi S2 selama tiga tahun, di Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta atau di STF Driyarkara atau diutus studi teologi di Roma.
  • Tahap Kelima: Masa Diakonat selama enam bulan dengan perutusan parokial atau kategorial.
  • Tahap Keenam: Tahap akhir dan awal yang baru adalah tahbisan imamat sebagai Imam Diosesan KAJ dengan perutusan parokial, kategorial atau misi domestik paroki di luar KAJ.

Untuk program pendidikan Imam Religius sedikit berbeda pada masing-masing ordo atau tarekat. Hal ini tidak dapat dijelaskan satu per satu karena jumlah ordo dalam Gereja Katolik sangat banyak. Secara garis besar, istilah yang digunakan jenjang tahapannya dengan sebutan postulat, novisiat, diakonat, dan imamat. Lama pendidikan tiap jenjang berbeda untuk setiap ordo.

 

Janji Yesus dalam Injil Matius 19 : 29

“ Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

 

Venda

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY