oleh Yosephin Nila, S. Sos

MENJADI seorang ibu merupakan hal yang sangat luar biasa. Mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan seorang anak bahkan lebih merupakan hal yang tidak akan terlupakan. Tangisan, tawa, hingga tubuhnya yang mungil membuat kita tertegun akan kebesaran Tuhan pada makhluk itu.

Tetapi, apa yang terjadi ketika makhluk mungil tersebut tumbuh menjadi besar? Usia anak-anak terus bertambah. Otak mereka pun berkembang. Dan perlahan-lahan kita sebagai orang tua sudah mulai mendidik mereka dengan cara masing-masing.

Apakah hal ini bisa diterima oleh anak balita kita secara mentah-mentah? Ketika ada penolakan dari orang tua, anak mulai berulah. Ya, kadang menurut, kadang membangkang. Bahkan emosi seorang ibu pun bisa memuncak.

Kesabaran terhadap anak juga pasti ada batasnya, apalagi sekarang menghukum dengan cara memukul atau kekerasan sudah tidak menjadi trend. Akhirnya, keributan sering terjadi dan relasi antara anak dengan orang tua menjadi tidak baik.

Akankah selalu terjadi keributan di rumah ketika anak tidak menurut? Kita sebagai ibu selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak kita. Teriakan selalu terdengar ketika batas kesabaran kita sudah habis. Tetapi, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal itu semua?
Salah satunya adalah berkata BOLEH. Ya, kadang anak bertanya “Boleh nggak Mah?” Kita seringkali berkata TIDAK dan itulah penyebab utama pertengkaran mulut yang bisa berakibat tidak menentu.

Kata BOLEH bukan semata-mata meng-IYA-kan sesuatu yang diinginkan anak. Kita perlu lebih kreatif dalam berkata BOLEH untuk melarang anak kita. Kata TAPI berperan dalam hal ini. Yang kita lakukan adalah memperbolehkan mereka melakukan apa yang mereka mau dengan memberikan penjelasan mengenai alasan dan akibatnya ketika anak kita melakukan hal yang kita larang.

Mudah? Tentu saja tidak! Terkadang kita sebagai orang tua lelah menghadapi perjalanan ini. Dan percaya saja, sampai anak kita tumbuh pun, hal seperti ini akan terus terjadi.

Maka dari itu, di dalam keluarga harus ada seseorang yang berperan untuk bernegosiasi dengan anak. Ayah atau ibu punya batas kesabaran masing-masing. Tetapi, jika kita bisa saling bekerjasama, peran menjadi negosiator bisa diatur.

Ya, memang sudah banyak artikel mengenai hal ini. Cuma untuk mempraktikkannya kadang suka lupa diri. Begitulah manusia. Mengaplikasikan teori sangatlah sulit untuk kehidupan sehari-hari. Tetapi, untuk anak, yang penting niat baik agar memberikan pendidikan terbaik.

Apakah saya bisa mendidik anak saya dengan hal di atas? Masih dalam proses. Cara yang saya sampaikan belum tentu cocok dengan anak-anak Anda semua, tetapi siapa tahu bisa mujarab. Saya juga masih belajar.

 

I’m a housewife with an active kid and never stop learning to be a good mom