Gereja Katedral Bogor

0
1332

DALAM rubrik Ziarah edisi ini, awak MeRasul membawa Pembaca untuk mampir dan mengenal lebih jauh gereja yang terletak di wilayah Keuskupan Bogor. Di kota ini berdiri kokoh sebuah gereja tua berumur lebih dari satu abad, yakni Gereja Katedral Bogor. Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis) adalah nama pelindung gereja ini.

Gereja Katedral merupakan salah satu dari gereja bersejarah peninggalan jaman penjajahan Belanda, yang hingga  saat ini masih berdiri kokoh. Gereja Katedral Bogor dibangun sejak tahun 1889. Keberadaan Katedral ini tidak lepas dari peran penting Mgr. A.C. Claessens, Pr dan Pastor M.Y.D. Claessens, Pr, sebagai penancap tonggak sejarah berdirinya gereja.

Pada tahun 1881, Mgr. AC. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks gereja, pastoran, seminari, sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Semula tempat itu digunakan sebagai tempat peristirahatan dan Misa Kudus bagi tamu yang berasal dari Jakarta.

Dimilikinya rumah tersebut, menjadi awal umat Katolik memisahkan diri dari penggunaan gereja simultan/ekumene sebelumnya. Pada tahun itu pula pastor M.Y.D. Claessens mulai menetap di Bogor.

Ziarah 14 -  Berto - ft01 - Katedral 1 (ori) - CHMKemudian, tahun 1886, M.Y.D. Claessen membangun panti asuhan untuk anak-anak. Panti asuhan ini terus berkembang menjadi Yayasan Vincentius, tahun 1887. Tahun 1888, yayasan ini mendapat pengakuan dari pemerintahan Hindia Belanda. Pada tahun 1889, pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi stasi misi tetap Batavia. Tahun berdirinya gereja inilah yang dipakai sebagai tahun lahirnya Gereja Katedral Bogor.

Tahun 1896, M.Y.D. Claessens membangun gedung gereja yang saat ini menjadi cikal bakal gedung Gereja Katedral. Tahun 1957, Paroki Bogor dipisah dari Vikariat Apostolik Batavia dan digabungkan dengan Prefektur Apostolik Sukabumi. Pada tahun 1961, status Prefektur Apostolik Sukabumi ditingkatkan menjadi keuskupan dengan nama Keuskupan Bogor. Nama gereja Paroki Bogor inilah yang dijadikan sebagai Gereja Katedral Keuskupan Bogor. Nama pun berubah dari Paroki Bogor menjadi Paroki Katedral Bogor.

Pada Desember 1998, jumlah umat Paroki Katedral mencapai 12.300 orang. Sebagai antisipasi membludaknya umat gereja ini, sudah disiapkan tanah atau lokasi yang nantinya untuk mendirikan gereja stasi, bagian dari Paroki Katedral Bogor.

Di dalam lingkungan Katedral terdapat tiga komunitas pastoran, yaitu Komunitas Pastoran Katedral, Komunitas Seminari Stella Maris, dan Komunitas Wisma Keuskupan Bogor.

Ziarah 14 -  Berto - ft02 - Katedral 2 (ori) - CHMBertambahnya umat, juga karena meningkatnya kapasitas umat ke gereja, diikuti dengan didirikannya kapel sebagai pendukung Gereja Katedral Bogor dalam menggembalakan umatnya. Beberapa bangunan yang didirikan sebagai kapel antara lain:

Kapel St. Yohanes Rasul Ciampea sebagai kapel pertama pada tahun 1974, dan bangunan renovasi kapel ini diresmikan oleh Mgr. Ign. Harsono, Pr pada tahun 1992.

Kapel Ekumenis di Semplak sebagai kapel kedua. Kapel ini berdiri atas usaha Peter G.W.J. Ruijs, OFM, pada tahun 1976, sebagai kapel bersama antara umat Protestan dan Katolik, dibangun di kompleks AURI atas sumbangan dari komandan AURI dan swadaya umat.

Kapel Pondok Rumput sebagai kapel ketiga, berdiri tahun 1978 atas swadaya umat. Dan kapel dengan menggunakan gedung serba guna Kedung Badak Baru, yang didirikan pada tahun 1987, sebagai kapel keempat.

Dalam pelayanannya, para romo di Gereja Katedral Bogor dibantu oleh para bruder Budi Mulia, para suster Tarekat FMM, para suster Tarekat RGS, para suster Rosa Mistika dan ALMA. Mereka dibantu oleh para prodiakon, para pamong wilayah/stasi/lingkungan/rukun, dan para pengurus organisasi/lembaga.

Berto,  dari berbagai sumber

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY