Menjelajah Makassar, Toraja dan Taman Kenangan Bersama Friends Of CICM

0
1378
Foto bersama di Kate Kesu, Toraja

Oleh : Venda & Sinta

Suatu kebahagiaan tersendiri ketika kami berdua diajak untuk ikut tour yang diadakan oleh Friends Of CICM ( FOC ). Terlebih lagi karena tour ini mengunjungi Makassar, Toraja dan Taman Kenangan di Gowa, Sulawesi Selatan yang juga merupakan tempat makam Pastor Gilbert dan Pastor Ipong beserta rohaniwan lainnya. Merupakan kebiasaan umat di Makassar memanggil imam dengan sebutan Pastor dan bukan Romo.

Sabtu tanggal 30 Juli 2016 pukul 3 dini hari, kami berkumpul di Bandara Soekarno Hatta Terminal 1 B, dengan jadwal keberangkatan pukul 5 dini hari menggunakan Sriwijaya Air.Kami berkenalan dengan Regina Hamdani sebagai Tour Leadernya, dengan pastor Derikson Alverius Ternip, CICM pastor paroki yang kini bertugas di gereja Salvator, serta  ketua FOC Iljas Ridwan dan bersama peserta tour lainnya. Peserta yang ikut jumlahnya 20 orang. Ada yang berasal dari gereja Sathora, Santa Bernadeth dan dari gereja Salvator.

Foto bersama para pastor CICM di Kare, Makassar
Foto bersama para pastor CICM di Kare, Makassar

Kami tiba kira-kira pukul 8 waktu Makassar, karena ada perbedaan waktu 1 jam lebih cepat dari jam di Jakarta. Waktu penerbangan dari Jakarta ke Makassar kurang lebih 2 jam. Kami check in di Hotel Gapura yang menghadap ke pantai Losari, untuk sarapan dan beristirahat. Sore pukul 4 kami berkumpul untuk segera berangkat dengan bus menuju gereja Maria Ratu Rosari, paroki Kare. Karena pukul 5 sore para anggota FOC akan menghadiri Perayaan Ekaristi pentahbisan dua imam baru CICM. Daerah Kare berada agak di luar kota Makassar, pada saat tiba gereja tampak berdiri megah, di halaman dipenuhi warna putih jubah para imam dan para frater yang akan bertugas……sungguh pemandangan yang sangat menggetarkan hati. Kami semua disambut hangat oleh para pastor CICM yang bertugas di Makassar maupun pastor yang tengah bertugas di Jakarta pun terlihat turut hadir merayakan acara pentahbisan ini. Misa pentahbisan berlangsung khidmat dipimpin oleh Uskup Agung Mgr.John Liku Ada, Pr.

Segera malam setelah selesai misa, rombongan langsung berangkat menuju Tana Toraja menggunakan bus. Perkiraan dari Makassar sampai Toraja membutuhkan waktu kira-kira 8 jam perjalanan. Untuk menghemat waktu, kami menikmati makan malam di dalam bus. Suasana hangat, penuh tawa mewarnai perjalanan kami, lintas usia. Karena di dalam rombongan kami ada anak-anak yang masih muda, ada yang sudah oma dan selebihnya berusia sekitar limapuluhan.

Di depan kuburan Londa, Toraja
Di depan kuburan Londa, Toraja

Diantara rasa kantuk yang masih berat sekitar subuh, sampailah kami di hotel Marante, Toraja. Setelah cukup beristirahat sebentar dan mandi, kami sarapan pagi bersama. Hari Minggu pukul 10 pagi, semua terlihat tidak sabar untuk memulai hari mengikuti City Tour di Toraja. Kami ditemani oleh tour guide lokal bernama Fransiska.

Kunjungan pertama dimulai ke KETE KESU ( rumah Raja ) yang terdiri dari rumah adat Toraja yang berjejer yang terbuat dari kayu URU ( kayu pohon nangka ). Bangunan-bangunan bersejarah tersebut dipakai kini hanya pada saat ada perayaan atau pemakaman adat saja. Karena hari ini adalah hari Minggu, maka tidak ada upacara adat, sebab mayoritas penduduk di Toraja memeluk agama kristen dan katolik, sehingga hari Minggu adalah hari untuk mereka beribadat. Kemudian kami mengunjungi kuburan LONDA yang terkenal dengan mayat-mayatnya dimasukkan ke dalam lubang-lubang di tebing. Sebuah pemandangan unik ketika masuk di dalam gua, dimana terlihat tengkorak dan tulang belulang berserakan di sana-sini. Tidak ada rasa takut sama sekali, mungkin karena agak ramai oleh turis dari manca negara dan turis lokal seperti kami.

img_3565Perjalanan dilanjutkan dengan wisata rohani ke PATUNG SALIB Singki – Toraja Utara, Rantepao. Beberapa dari kami memutuskan tidak ikut menaiki ratusan anak tangga ke puncak bukit, namun sebagian besar merasa tertantang untuk mulai berjalan menapaki anak tangga demi anak tangga. Sungguh ketika sampai di atas…terbentang pemandangan yang sangat indah sejauh mata memandang. Sayang bangunan di bagian bawah salib belum kelihatan rampung pembangunannya.

Pastor Derikson, CICM di bawah Patung Yesus di Bukit Burake, Makale - Toraja
Pastor Derikson, CICM di bawah Patung Yesus di Bukit Burake, Makale – Toraja

Setelah makan siang, kami diajak mampir ke sebuah toko cinderamata khas Toraja, selain menjual kain tenun dan pernak-pernik, kami juga dapat menyaksikan bagaimana cara memintal kapas menjadi benang, lalu dari benang ditenun menjadi selembar kain. Setelah puas membeli oleh-oleh, perjalanan dilanjutkan ke PATUNG YESUS di bukit Burake, kecamatan Makale kabupaten Tana Toraja. Konon patung Yesus ini tertinggi di dunia mengalahkan Patung Yesus di Rio de Jenerio, Brasil. Tinggi patung 23 meter, tinggi landasan 17 meter, total 40 meter dan berada di ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut.  Selesai dibangun sekitar tahun 2015 dan menelan dana kurang lebih 30 milliar. Patung Yesus dan bagian kakinya terbuat dari bahan perunggu yang dicor. Merupakan karya pematung Niel El Fuadi asal Padang, patung dibuat di Yogyakarta dalam bentuk kepingan-kepingan kemudian dikirim ke Toraja lalu dirakit. Perjalanan ke atas patung lumayan jauh karena bus kami tidak bisa melewati jalan menanjak penuh dengan bebatuan, sehingga kami harus berjalan kaki. Kata penduduk setempat, kami harus menempuh jarak kira-kira 600 meter mendekati area bawah patung. Saat itu kami mulai berpikir keras menerka-nerka kekuatan kami. Akhirnya beberapa dari kami mulai berjalan perlahan, apa yang terjadi ? Jalannya jauh dan menanjak terus, penuh dengan bebatuan. Ah…sambil berjalan penulis mulai menghibur diri dengan napas yang mulai tersengal-sengal, bahwa seperti inilah perjalanan hidup yang kadang harus dilewati dengan penuh tantangan, melewati jalan yang terjal dan godaan. Eh…bener saja ketika keringat membasahi seluruh badan dan lutut mulai gemetar, godaan lewat di depan mata….beberapa teman menyewa ojek untuk sampai ke kaki bukit. Penulis sempat tergoda sesaat, tapi kemudian berusaha tetap fokus. Dalam perjalanan mendaki, sambil bertanya ke beberapa anak muda yang lewat ;: “ De…apakah masih jauh ? “. Jawaban mereka hampir mematahkan tekad. Katanya : “ Iya masih jauh sekali..” Lalu sambil meneruskan perjalanan, penulis bertemu dengan sebuah keluarga kecil terdiri dari seorang bapak yang berumur kira-kira hampir seusia ayah saya sekitar 70 tahunan, bersama istri dan anak gadisnya. Penulis menyapa dan bertanya. Jawaban bapak itu sangat menghibur, begini katanya : “ jalan saja pelan-pelan, nanti juga pasti  akan sampai. “

Di kampung Berua, Ramang-ramang, Maros
Di kampung Berua, Ramang-ramang, Maros

Setelah melewati tangga-tangga yang sangat banyak, akhirnya kami mencapai bawah kaki patung Yesus. Kami beristirahat sejenak di warung, minum kopi panas dan menikmati pisang goreng, sambil berfoto ria. Pemandangan sangat indah, lebih indah daripada pemandangan di Patung Salib tadi. Sebagian besar dari kami naik ke bawah landasan kaki bawah patung, menuruni bukit ke relung tebing untuk berdoa di goa Maria. Perjalanan turun menuju ke bus sangat melelahkan dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang harus berjalan di medan bebatuan tadi, ditambah langit yang mulai gelap. Dalam perjalanan bus kembali ke hotel, kami sempat mampir di sebuah warung kopi yang menjual kopi asli Toraja.

Menyusuri sungai Pute, Ramang-ramang - Maros
Menyusuri sungai Pute, Ramang-ramang – Maros

Keesokan paginya senin tanggal 1 Agustus 2016, kami mengadakan misa bersama di hotel yang dipimpin oleh Pastor Derikson, sebelum pulang ke Makassar. Kami melewati dan kemudian memutuskan untuk mampir yang sebenarnya diluar rencana ke gereja Hati Maria Tak Bernoda, paroki Makale di Tana Toraja yang merupakan jejak karya CICM di Toraja, namun kini sudah diserahkan ke gereja lokal sesuai misi CICM. Setelah itu kami meneruskan perjalanan ke kota Makassar. Seharian di hari Senin itu kami menghabiskan waktu di bus, terlelap karena kecapaian dan kaki pegal-pegal, namun hati senang. Tidak lupa kami mampir di beberapa tempat mencicipi berbagai makanan khas Makassar yang ada. Malamnya menikmati makan malam seafood sebelum kembali ke hotel Gapura di Makassar. Ternyata semua merasa sayang untuk melewati malam di kamar. Kesempatan buat teman-teman yang lain belanja oleh-oleh di sepanjang jalan sumba opu di depan hotel serta makan pisang epek di sepanjang pantai Losari.

Makam Pastor Gilbert Kiersblick, CICM di Taman Kenangan, Pakatto
Makam Pastor Gilbert Kiersblick, CICM di Taman Kenangan, Pakatto

Selasa tanggal 2 Agustus, pagi hari kami menuju RAMANG-RAMANG di daerah Maros. Adalah merupakan  gugusan gunung-gunung karst yang tengahnya dialirin sungai, mirip dengan yang ada di Cina dan Vietnam. Kami menyewa dua buah perahu untuk melewati sungai Pute yang banyak ditumbuhi pohon Nipah, menuju kampung Berua yang terletak di samping sungai dengan hamparan sawahnya yang sedang menguning. Sungguh indah dan mempesona.

Makam pastor Ipong, CICM di Taman Kenangan, Pakatto
Makam pastor Ipong, CICM di Taman Kenangan, Pakatto

Kemudian kami makan siang di kota Makassar di restoran Surya yang terkenal dengan masakan kepitingnya. Perjalanan terakhir di kota Makassar mengunjungi TAMAN KENANGAN di Pakatto, Gowa yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para rohaniwan, termasuk pastor Gilbert dan pastor Ipong. Taman yang luas dan tertata sederhana dan rapih, di depan kami terlihat patung malaikat putih di bawah kakinya merupakan prasasti dari batu granit hitam tentang taman tersebut dan tanda tangan peresmian uskup Makassar.Sebelah kanan kami terdiri dari jejeran nisan berbentuk salib yang tertera nama para rohaniwan,  tanggal kelahiran dan kematiannya. Kami menaburkan bunga di makam Pastor Gilbert dan pastor Ipong yang makamnya masih baru. Tampak kehilangan, kesedihan dan duka masih dirasakan oleh kami semua dalam suasana keheningan siang hari itu. Di sebelah kiri kami terlihat aula terbuka, di satu sisi dinding kayu digantung berjejer foto-foto para rohaniwan tersebut.

Menjelang sore kami menuju bandara Sultan Hasanuddin Makassar untuk kembali ke Jakarta menggunakan Batik Air. Perjalanan yang sangat mengesankan dan sarat dengan pengalaman indah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY