Grup Para Pejuang Iman

0
605

OPA Ben celingukan. Kepalanya yang  bulat plontos berputar ke kiri dan kanan seperti kipas angin. Ia bicara seorang diri bagaikan drama monolog, “Ampun deh! Kabur ke negeri mana sih si kucing kecil itu? Waktu di gerai tanaman hidroponik tadi dia masih ada. Sekarang, dicari di gerai makanan minuman tidak ada. Pergi periksa di toilet, cuma ketemu si Nyuknyuk doang.  Aduuuh… dengkul ini rasanya sudah mau copot!”

Dengan wajah memelas, Opa bersandar kelelahan pada pagar halaman  gereja. Tiba-tiba, ia terlonjak. Mulutnya sudah siap melontarkan “peluru” kepada bocah yang sedang jalan berlenggang masuk ke halaman gereja. Tapi segera urung, karena di belakang bocah itu muncul seorang bocah lain yang sebaya.

Philo, cucunya, berkata tanpa merasa bersalah, “Opa, ini Yunus, teman sekolah Philo. Tadi kita bertemu di luar.”

Yunus memperkenalkan diri lalu berkata, “Wah Opa, ramai sekali bazar pesta ulang tahun paroki ini. Tapi, kenapa ya nama paroki kok selalu memakai nama Santo atau Santa?”

Opa Ben senang pada anak yang kritis ini.  Jawabnya, ” Yunus, itu karena Gereja sangat menghargai para Santo dan Santa. Mereka adalah pejuang iman yang berani. Banyak yang rela mengorbankan jiwanya sebagai martir demi mempertahankan iman dan mewartakan Injil Kristus. Maka, mereka wajib dikenang dan dihormati seperti  para pejuang kemerdekaan kita.

Pahlawan-pahlawan Kristus  lain yang disebut Pengaku Iman atau Confessors gigih melawan ajaran-ajaran sesat atau bidaah, mempertobatkan orang berdosa, membela ketidakadilan dan kelaliman walaupun mereka ditindas dan disiksa.

Ada juga yang berjuang lewat amal kasih, melayani orang miskin, sakit, terlantar atau orang hukuman. Selain itu, masih ada pula pujangga Gereja yaitu para penulis dan sastrawan yang berjuang menyebarkan kebenaran ajaran Kristus.”

Philo berdecak, “Ck, ck, itu baru yang disebut Pahlawan Kristus sejati! Iman mereka tak tergoyahkan biarpun ditindas atau diiming-imingi yang enak-enak!”

Opa Ben menepuk pundak Philo cukup keras saking senangnya, sampai Philo sempoyongan. Ujar Opa, “Betul!  Pengorbanan Kristus membuahkan pejuang-pejuang iman tersebut. Mereka telah mencapai puncak prestasi dalam menampakkan wajah dan citra Yesus. Jadi, pantaslah bila mereka dimuliakan dan disucikan oleh Allah karena mereka telah mencapai kekudusan dan kesempurnaan. Untuk menghormati mereka, Gereja mengabadikan nama mereka pada nama paroki atau lainnya sebagai pelindungnya. Kalian ‘kan juga punya Santo pelindung sebagai nama baptis? Nama orang kudus itu bukan untuk gagah-gagahan, lho!  Melainkan agar kalian dapat meneladani beliau. Jadi, jangan segan-segan memohon kepada Santo pelindung kalian agar mendoakan kalian kepada Allah bila kalian mengalami masalah.”

 

Philo angkat jari. “Interupsi Opa. Santo dan Santa itu ‘kan berada di Surga sedangkan kita ada di dunia, apa bisa komunikasi kita tersambung?”

Opa terkekeh. “Eh Philo, waktu mamamu masih tinggal di Yogya ‘kan punya grup chatting ibu-ibu?”

Philo terkikik. “Hihihi, yang namanya Grup Mbok Eman itu ya?”

“Betul. Nah, setelah kita pindah ke Jakarta, apa dia sudah tidak menjadi anggota grup itu lagi?”

Philo tertawa,  “Ya nggaklah. Malah mama semakin getol chattingnya.”

“Nah! Sama! Sesudah dibaptis otomatis kita menjadi keluarga Gereja Yesus Kristus atau Tubuh Mistik Kristus. Tuhan Yesus sebagai kepalanya dan kita adalah anggota-anggota tubuhnya. Ikatan itu terus terjalin dan tidak terpisahkan oleh kematian. Walaupun sudah meninggal, mereka  masih tetap menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus seperti kita. Justru kita dipersatukan menjadi lebih erat oleh mereka dengan persekutuan dalam Kristus. Kasih persaudaraan tak akan pupus antara kita dengan Persekutuan Para Kudus di Sorga. Orang-orang kudus itu malah semakin peduli kepada kita karena telah diliputi oleh kehadiran kasih Allah sehingga rindu untuk mendoakan kita kepada Allah.

St. Yohanes Paulus II mengharapkan agar kita jangan takut menjadi kudus karena hal itu mungkin. Syaratnya, kita harus selalu bersyukur dan percaya penuh kepada Tuhan.  Setia melayani Dia dan sesama dalam situasi apa pun.”

Tiba-tiba, Philo berpaling kepada Yunus, lagaknya sok menasihati, “Tuh,Yunus! Jadi, kita harus bisa meneladani kekudusan Santo pelindung kita supaya kita tidak malu-maluin beliau-beliau itu. Nah Opa, Philo dan Yunus ada acara nih! Kita pergi dulu ya…  Sampai jumpa!”

Dengan sigap Philo menyambar tangan Yunus dan menariknya menuju gerai Soto Kudus.

Ekatanaya

SHARE
Previous articleBelajar
Next articleTuhan Tidak Pernah Bercanda

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY