“Aku” Pemimpin Pesta Perkawinan di Kana

0
1130
Цифровая репродукция находится в интернет-музее Gallerix.ru

Setelah pemimpin pesta itu mencicipi air yang telah menjadi anggur itu; dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya; ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang”( Yoh 2:9-10).

 

BACAAN di atas merupakan bagian dari Injil Yoh (2:1-11) “Perkawinan di Kana”. Pembaca sudah sering mendengar, bagaimana tanda atau mukjizat pertama Yesus dalam pemahaman “saat-Ku belum tiba”, atau secara Mariologi di mana hubungan Bunda Maria dengan Yesus dan peran Bunda Maria dalam terjadinya mukjizat pertama itu. Atau hendaknya semua perkawinan seperti perkawinan di Kana, yang mana biasanya anggur yang baik dulu baru anggur yang kurang baik. Tetapi, dengan menghadirkan Yesus dan Bunda Maria dalam perkawinan/keluarga anggur makin baik sampai akhirnya.

Kali ini penulis mengajak untuk melihat adegan menarik lainnya dalam peristiwa itu, tetapi nyaris luput dari perhatian, yaitu memperhatikan tokoh “pemimpin pesta”. Hal ini sering terjadi dalam aktivitas pelayanan di Gereja atau di dalam komunitas lainnya. Pada zaman itu pesta perkawinan bisa berlangsung selama tujuh hari, dan anggur merupakan suatu kewajiban, lambang kemakmuran/sukacita suatu pesta. Masalah kehabisan anggur pasti menimbulkan rasa malu yang besar bagi kedua mempelai, keluarganya, dan juga pemimpin pesta. Hal ini yang membuat peran pemimpin pesta sangat penting.

Sejak terjadinya krisis kekurangan anggur sampai dengan mukjizat enam tempayan anggur yang baik sudah tersedia, praktis hanya Bunda Maria dan pelayan-pelayan yang tahu persis apa yang telah terjadi. Apa yang dilakukan oleh pelayan-pelayan sebenarnya berisiko, ketika harus mengisi tempayan dan kemudian mencedoknya untuk diberikan kepada pemimpin pesta untuk dicicipi. Lain hal dengan pemimpin pesta, melihat komentarnya kepada mempelai laki-laki, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang” (Yoh 2:10).  Kalimat itu menggambarkan bahwa pemimpin pesta tidak pernah tahu telah terjadi krisis anggur dan juga tidak tahu dari mana datangnya anggur yang baik itu, dan pada saat yang sama mempelai laki-laki menerima pujian tersebut tanpa ada komentar apa pun.

Dalam pelayanan sering dijumpai adanya orang penting, tokoh utama atau pahlawan dalam suatu peristiwa. Dengan mengacu pada komentar dari pemimpin pesta, maka tokoh kunci atau pahlawan dalam peristiwa itu adalah mempelai laki-laki yang dianggap telah menyimpan sangat banyak anggur yang baik. Ketokohannya muncul karena komentar dari pemimpin pesta yang tidak tahu apa-apa, tidak tahu telah terjadi krisis, dan tidak tahu dari mana datangnya anggur yang baik. Maka, di dalam pelayanan, sangat penting untuk membuka mata dan hati agar dapat melihat gerak dan karya teman sepelayanan, terutama mereka yang banyak bergerak di belakang layar, bekerja dengan rendah hati, dan tidak banyak omong. Justru dari mereka yang dengan pertolongan Tuhan Yesus dan Bunda Maria, banyak hal termasuk situasi krisis telah ditangani tanpa orang lain tahu.

Di dalam komunitas dan pelayanan, janganlah menjadi seperti si pemimpin pesta, berkata-kata lantang tetapi menyesatkan. Dan juga tidak menjadi seperti mempelai laki-laki yang menerima pujian dan menjadi pahlawan tanpa berbuat apa-apa, bahkan keberadaannya karena pertolongan dari orang-orang yang bukan siapa-siapa, tidak terlihat. Karena pujian, ia tidak berani jujur mengatakan hal yang sebenarnya. Jika jujur, mungkin ia sendiri, pemimpin pesta dan tamu-tamu yang hadir akan mengerti dari mana anggur yang baik itu berasal.

Hidup berkomunitas tidak mudah, butuh perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri demi cinta kepada Kristus, juga kesadaran bahwa Tuhanlah yang telah memanggil dan mempersatukan. Kesadaran bahwa saya boleh melayani bukan karena kehebatan dan kemampuan saya, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Kekuatan dalam pelayanan di komunitas adalah kesatuan hati, yaitu di mana saling mendukung dengan pelbagai macam cara, terutama dengan saling mendoakan. Dengan demikian, keberhasilan dalam pelayanan bukan karena usaha satu pribadi tetapi karena keterlibatan semua anggota komunitas, baik langsung maupun tidak langsung. Dengan begitu pengalaman akan kasih Tuhan Yesus dan Bunda Maria dapat dialami dan dirasakan oleh semuanya, baik tokoh sebagai mempelai laki-laki, pemimpin pesta, pelayan-pelayan, dan tamu-tamu yang hadir.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY