Semangat Pelayanan yang Terpancar

0
1210

Melewati usia 35 tahun patut untuk disyukuri

Ungkapan syukur atas pencapaian yang sudah diraih.

Di dalam raihan itu, ada harapan mendekatkan pada angan dan cita-cita

Angan dan cita-cita untuk memberikan pelayanan yang tiada batas

Hanya dengan bersandar pada kebesaran nama-Nya dan dengan semangat nyala api yang tak pernah padam, kemuliaan Tuhan akan dinyatakan….   

 

SETELAH 35 tahun berjalan, apa yang terlihat dari penampilan fisik bangunan gedung serba guna dan gedung Gereja Santo Thomas Rasul Bojong Indah?

Dibandingkan dengan lima tahun lalu — pada perayaan sejenis dalam rangka memperingati 30 tahun Gereja Sathora– ada yang berubah pada penampilan kompleks gereja saat ini. Perubahan menyolok terjadi saat gedung serba guna (aula) sudah dirobohkan dan diganti dengan Gedung Karya Pastoral (GKP) yang baru. Nama yang disematkan pada bangunan baru ini adalah Gedung. Fungsinya sarat sebagai sarana aktualisasi dari Karya umat yang diharapkan bersifat Pastoral. Artinya, bangunan empat  lantai ini adalah tempat diselenggarakannya segala aktivitas dari banyak program karya Gereja. Berbagai aktivitas para romo/seksi/bagian, yang merupakan bagian dari struktur hirarki Gereja atau Dewan Paroki ataupun oleh komunitas-komunitas, berlangsung di tempat ini. Semuanya diperlukan sebagai alat pendukung kelancaran peribadatan/Misa. Inilah yang menjadi fungsi pokok mengapa gedung pendukung Gereja ini dibangun. Semangat beraktivitas umat Sathora semakin bertambah karena adanya gedung ini.

Gedung Karya Pastoral Sathora
Gedung Karya Pastoral Sathora

Semangat ini bukan karena keberadaan Gereja secara fisik semata, melainkan karena umat memiliki keinginan besar untuk tumbuh dan semakin dewasa. Hingga akhirnya, mereka dapat memberdayakan diri untuk kepentingan umat yang lebih banyak dan lebih besar, yang ujungnya juga berguna bagi kokohnya Gereja Tuhan.

GKP ini diresmikan dan diberkati oleh Uskup KAJ, Mgr. Ignatius Suharyo, pada 11 September 2011.

Saat menghadiri Misa di gereja, umat masuk dan tinggal duduk, menikmati segala kenyamanan fasilitas yang ada. Adakah di antara kita yang menyadari bahwa gedung gereja dengan segala isinya ada yang berubah? Perbaikan dan penambahan fasilitas terjadi setiap saat di mana diperlukan, untuk menambah kekhusyukan saat umat berdoa. Untuk memelihara semua ini, diperlukan juga bagian khusus pemeliharaan kompleks gereja, Agung Waluyo dan staf  yang siap menjaga semuanya.

Keberadaan GKP sangatlah penting. Mengapa sangat penting? Karena sejak diresmikannya, sarana berlantai empat ini menjadi pusat kegiatan paroki.

Di dalamnya terdapat fasilitas ruang kerja para romo, kesekretariatan paroki, ruang rapat DP, beberapa ruang rapat kecil lainnya, ruang sekretariat majalah, ruang untuk kebutuhan rutin seksi atau komunitas, kapel di lantai 3, dan ruangan besar/hall di lantai 4 yang digunakan untuk acara dengan daya tampung 300 orang, dilengkapi panggung dan sound system.

Klinik Pratama Sathora
Klinik Pratama Sathora

Balai Kesehatan Sathora adalah fasilitas Gereja untuk kemanusiaan. Bangunannya baru dan permanen. Saat ini, namanya menjadi Klinik Pratama Sathora; merupakan balai pengobatan umum yang dikelola Gereja dan diperuntukkan bagi umat dan lingkungan sekitar Gereja. Klinik ini dipimpin oleh dr. Kumala, dibantu dr. Brigita, dan drg. Novianti di bagian perawatan gigi. Sedangkan  apotik ditangani Marjani, dan bagian administrasi diurus oleh Lusia. Balai Pengobatan Mingguan Sathora dimulai sejak 18 Juli 2004. Sudah 12 tahun, balai ini berkarya. Didukung tenaga medis sekitar 50 dokter, 15 dokter gigi, sekitar 10 perawat dan relawan lainnya. Mereka secara bergiliran memberikan sumbangsihnya secara sosial, tanpa pamrih. Pelayanan klinik ini diperuntukkan terutama bagi warga yang kurang mampu. Pasien hanya membayar biaya pengobatan Rp 10.000, sudah termasuk obat. Untuk perawatan gigi sebesar Rp 25.000.

Dinamika kehidupan Gereja Sathora sangatlah ditopang oleh aktivitas kelompok/komunitas, yang selama ini memang sudah ada. Kelompok/komunitas pun bermunculan.

Dengan cukup banyaknya aktivitas di Gereja, terlihat bahwa orang yang berada di sini keluar masuk di lingkungan Gereja. Wajah-wajah umat familiar dan tidak asing, seolah penghuni kompleks Gereja, seolah Gereja menjadi rumah kedua yang nyaman. Partisipasi umat baru pun dari waktu ke waktu kian bertambah. Mereka selalu hadir pada waktu yang sudah dijadwalkan oleh sekretariat, terutama untuk berbagi ruangan.

Gereja St. Thomas Rasul yang berada di dalam lokasi perumahan lama, yang dibangun sekitar tahun ’80-an, seakan tidak bisa menampung padatnya acara, terutama mobil dan motor, untuk mendapatkan posisi nyaman yang bisa ditempati. Situasi itu dapat ditemui pada saat berlangsung Misa dan acara yang memang sudah terjadwal. Luas halaman sekitar gereja seakan tidak dapat membendung traffic kendaraan melewati jalan di perumahan ini. Namun, suasana yang mendukung dan terjalinnya sikap saling menghargai umat dan penghuni sekitar gereja, membuat semuanya tetap berlangsung dengan baik. Dalam jarak yang tidak begitu jauh pula, terdapat sarana peribadatan gereja lain dan vihara, sehingga memang dibutuhkan saling pengertian, agar dapat menjalankan ibadat dengan baik.

Jumlah warga Paroki Sathora sampai saat ini 11.432 orang (data per Juni 2016). Jika dibandingkan dengan daya tampung gereja dan dengan jumlah Misa yang diselenggarakan, secara matematis tidak sebanding. Hal itu pula yang menjadi salah satu pertimbangan terjadinya pemekaran pada tahun 2003, yang melahirkan Paroki Kosambi Baru St. Matias Rasul. Jumlah umat pada waktu itu sudah terbagi cukup banyak di dua paroki ini. Sepuluh tahun kemudian, persoalan yang sama terjadi lagi. Umat semakin bertambah dan tempat semakin tidak dapat menampung. Hingga pada suatu waktu, Dewan Paroki memutuskan untuk menggunakan Sekolah Notre Dame sebagai salah satu stasi yang dapat digunakan sebagai sarana tambahan penyelenggaraan Misa setiap Sabtu dan Minggu. Suatu keputusan yang tentu membantu Gereja Sathora agar tetap dapat memberikan tempat kepada sebagian dari umatnya; agar mereka tetap nyaman mengikuti Misa di wilayah paroki sendiri.

Tugas dan tanggung jawab Gereja melalui DP tidak menjadi semakin ringan. Perhatian akan hal ini terus menjadi pertimbangan; bukan karena jumlah umat semata, namun bagaimana Gereja dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan umat yang semakin meningkat. Gereja yang memiliki pencapaian yang baik, memiliki konsekuensi logis terhadap pemenuhan berbagai kebutuhan umat.

Apa yang dilihat seragam (homogen) dalam satu paroki, terdapat juga keberagaman (heterogen) cara menumbuhkan iman umat. Dengan terdapatnya banyak komunitas, bentuk paguyuban terdengar lebih bersahabat, suasana diliputi rasa nyaman, tenang, adem, beranggotakan orang-orang yang memiliki hati dan berjiwa rendah hati dan saling menghargai satu sama lain. Komunitas yang guyub dapat digambarkan bersatu hati, damai, kompak, dan rukun.

Data menunjukkan, bahwa per tahun 2016 terdapat 16 seksi, enam bagian, 23 kategorial, 17 wilayah dan 86 lingkungan, enam sekolah yayasan, dan empat komunitas biara. Sejumlah 3.606 KK dan 11.432 umat menjadi potensi yang sangat besar. Bila dibanding dengan jumlah umat di paroki KAJ, Sathora masuk dalam lima besar.

Ini berarti jumlah umat yang masuk dalam komunitas atau partisipasi dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan masih memerlukan wadah-wadah lain agar keterlibatan umat akan semakin banyak.

Untuk memberikan gambaran aktivitas umat Sathora dan melihat semangat pelayanannya, dapat dilihat ringkasan beberapa (walau tidak semua dan diambil secara tidak berurutan) dari organisasi/komunitas/kelompok yang ada di Paroki Sathora, antara lain :

Pujian Doa dan Sabda
Pujian Doa dan Sabda

Organisasi resmi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) merupakan organisasi anggota terwakili di seluruh Indonesia, ada hampir di setiap kota, organisasi resmi yang secara struktural diakui pemerintah.

Dari sharing salah seorang pengurus, terungkap bahwa organisasi ini menggerakkan anggotanya, pertama-tama dengan rasa memiliki/mencintai komunitas terlebih dahulu, dengan tidak merasa dipaksa dan terpaksa. Dengan begitu, setiap ada kegiatan secara sukarela mereka akan terlibat. Media sosial saat ini menjadi kebutuhan dalam berkomunikasi, SMS, BB, WA atau pada waktu pertemuan bulanan. Mereka merasa bahagia apabila pelayanan  dapat diterima oleh masyarakat yang menerima uluran bantuan dan bukan hanya di seputar altar saja. WKRI juga terlibat dalam kegiatan tatib, koor, pengelolaan kantin, dan kerjasama dengan panitia lainnya.

(photo)  Pada tahun 2015 terjadi peralihan kepengurusan Marriage Encounter kepada pasangan Riyanto-Tantya. Pada saat awal mereka melanjutkan kegiatan komunitas ME di Sathora, ada kekhawatiran. Akhirnya, mereka rela. Terngiang-ngiang amanat yang pernah disampaikan Pastor Gilbert (Alm) sebelum kepergiannya. “paroki kita sangat membutuhkan wadah awal untuk membangun komunikasi yang baik di antara pasutri sehingga dapat menghindari terjadinya perceraian.

ME adalah gerakan Gereja Katolik untuk pasutri yang ingin relasinya lebih baik. ME memberi pandangan baru, menghayati komunikasi yang benar antara dua pribadi yang berbeda, mengembangkan kemampuan untuk saling berbagi beban dan mengampuni, menyadarkan arti Sakramen Perkawinan. Karena keluarga merupakan unsur yang paling berperan dalam menentukan Gereja. Dan peran suami-istri adalah yang paling utama di dalam sebuah keluarga. Mereka menjadi anggota ME bukan karena ada masalah dalam keluarga, melainkan untuk menjaga komunikasi pasutri agar hidup lebih harmonis.

Lifeteen
Lifeteen

OMK – Life teen  merupakan wadah yang merangkul para remaja dari jenjang SMP hingga SMA. Sementara mereka yang sudah kuliah tetap dapat bergabung guna membimbing adik-adiknya. Kelompok ini lahir pada 27 Juli 2013. Tujuannya, membimbing kaum remaja supaya lebih dekat kepada Kristus (Lead teens closer to Christ). Seiring bergulirnya waktu, serta berkat perjuangan para aktivis OMK, jumlah anggota OMK yang mau terlibat semakin bertambah melalui kelompok-kelompok kategorial.  Biasa, seusai Misa sore, para remaja diajak menuju Gedung Karya Pastoral (GKP) lantai 4 untuk mengikuti Life nite yang diselenggarakan langsung pada malam hari. Acara disajikan dengan musik dan puji-pujian oleh para penyanyi remaja. Khotbah oleh pewarta-pewarta muda menambah suasana acara khas remaja dan orang muda.

Gereja Sathora memiliki Persekutuan Doa yang lahir seiring dengan bertambahnya usia paroki ini; yang telah mencapai 35 tahun.

Diawali tahun 1981, dideklarasikan berdirinya Persekutuan Karismatik Katolik Sathora. Disusul oleh Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Bethlehem pada tahun 1991. Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) yang dirintis oleh Romo Yohanes Indrakusuma CSE pada tahun 1987 ), hadir di Sathora pada tahun 1997. Tahun 1999, muncul komunitas Pujian Doa dan Sabda (PDS). Walaupun tidak sama, masing-masing bentuk ibadat yang mirip ini telah memiliki anggotanya yang berasal dari lingkungan/wilayah, dan  skala paroki, dengan beragam usia. Saat ini, komunitas ini masih tetap eksis. Perkembangan iman anggotanya tercermin dari semangat para anggotanya.

PDKK Sathora
PDKK Sathora

PKK Sathora baru melewati usia yang sama seperti usia Gereja Sathora. PKK Sathora memiliki anggota dan simpatisan yang rindu bersekutu dengan cara berdoa bersama dengan pujian-pujian dan penyembahan (praise & worship) bersama Roh Kudus. Kemudian umat diajak mendengarkan Sabda Tuhan dan belajar bersama baik Kitab Suci maupun ajaran dan pengetahuan gerejani. Mengikuti Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus (SHBDR) untuk bertumbuh dan bergabung dalam komunitas ini, menjadi suatu kebutuhan. Sampai sekarang, jadwal PD setiap Selasa dipersiapkan. Materi SHDR, Basic Christian  Maturity (BCM), Seminar Pertumbuhan hingga penyelenggaraan kegiatan retret yang diadakan secara berkala menjadi agenda. PKK Sathora yang menjadi wadah pembinaan iman umat Sathora, tetap menjalankan misi penginjilan, pengudusan, dan pembaruan.

PDKK Betlehem
PDKK Betlehem

PDKK Bethlehem lahir pada tahun 1991; kini telah berusia seperempat abad. Komunitas ini merupakan wadah alternatif bagi umat untuk memelihara kebutuhan rohaninya, dari persekutuan yang sudah ada sebelumnya di Paroki Sathora.

Saat ini, komunitas PDKK Betlehem menggunakan aula Sekolah Notre Dame sebagai tempat Persekutuan Doa bagi umat yang kebanyakan berdomisili di perumahan puri dan sekitarnya. Mereka menyelenggarakan Persekutuan Doa setiap Kamis. Misinya sama dengan PKK Sathora. Berlangsungnya doa dan pujian terus dipersiapkan oleh para Worship Leader (WL) dan anggota Tim Pujian.

Komunitas ini menggerakkan umatnya dengan melihat jumlah, potensi, dan kemampuan mereka. Peran PD ini sebagai salah satu basis untuk pengembangan iman; tidak terbatas pada ibadat saja, melainkan juga sebagai partisipan terhadap event yang diselenggarakan di paroki. Motivasinya, karena Tuhan sudah begitu baik dan memberi banyak rahmat kepada umat yang dicintai-Nya, sepantasnyalah anugerah ini dikembalikan kepada-Nya dengan cara tetap aktif membantu kegiatan paroki.

Pengurus Distrik KTM Sathora
Pengurus Distrik KTM Sathora

Aktivitas KTM Sathora mulai terlihat sejak tahun 1997, sepuluh tahun setelah KTM berdiri. Sianne menjadi Koordinator Distrik I. Perkembangan organisasinya terdiri dari wilayah; dalam wilayah terdapat tiga sel. Saat masuk, Sianne langsung dipercaya memegang Distrik I. Sebagai pengurus Distrik 1, ia dipercaya juga sebagai bagian dari Tim Gembala yang berasal dari awam. Tim Gembala terdiri dari  Romo Yohanes, suster Putri Karmel, CSE, dan awam.  Peran  KTM sebagai pelayan, selalu siap melayani dan terlibat dalam Misa dan Adorasi. “Tetap tidak meninggalkan Gereja sendiri,” tambah Sianne, sebagai penegasan bahwa KTM Sathora tetap melayani Gereja Sathora.

Aktivitas rutin dilakukan KTM Distrik 1, sebagaimana sudah dilakukan selama ini dengan menggunakan aula Sekolah Notre Dame, Jakarta Barat. Pertemuan diadakan dua bulan sekali, sekarang sudah menginjak tahun keempat. Setiap Rabu pagi, KTM Distrik 1 melakukan pelayanan di kapel lama Gereja Sathora bersama para sahabat KTM. Para sahabat KTM adalah simpatisan; bukan anggota KTM, tidak ada komitmen. Jumlah yang hadir 10-14 orang. Pelayanan yang dilakukan pun sama seperti terhadap anggota KTM.

Legio Mariae Sathora
Legio Mariae Sathora

Komunitas kerasulan awam Katolik ini memiliki devosi khusus kepada Bunda Maria. Dengan restu Gereja dan bimbingan kuat Maria Tak Bernoda, Legio Mariae (LM) memiliki kekhasannya sendiri. Tujuan LM adalah kemuliaan Allah melalui pengudusan anggotanya yang dikembangkan dengan doa dan kerjasama aktif, mengusahakan anggotanya untuk menghayati hidup seturut perintah Tuhan, dan memancarkan cara hidup saleh dalam lingkungan di mana para anggotanya tinggal dengan karya kerasulan.

Tugas seorang seorang legioner (anggota Legio Maria) selain berdoa, juga melakukan karya kerasulan dengan mengunjungi orang sakit, dan kegiatan lainnya, antara lain  melakukan pewartaan, melakukan ibadat, pelayanan dan bermatiraga. membantu kegiatan dan tugas paroki. LM Sathora yang berdiri pada 2 Agustus 1985 telah memiliki empat  presidium, yakni Rumah Kencana, Regina Coelorum, Regina Pacis, dan Regina Caeli. Motivasi anggotanya untuk tetap aktif dan setia adalah karena cinta kepada Bunda Maria, berdoa bersama Maria, bekerja bersama Maria, mencari Yesus bersama Maria. Mereka belajar tentang kerendahan hati, belajar tentang kesetiaan, belajar untuk disiplin, dan masih banyak lagi. Anggota Legio Maria belajar beriman dengan ujud nyata, yaitu Berdoa sambil Berkarya dan Berkomunitas sambil Berkomitmen (Ora et Labora).

Taize Sathora
Taize Sathora

Komunitas ini lahir karena keinginan umat menggunakan cara doa tertentu yang menjadi cirinya. Sebut saja, Legio Mariae, Komunitas Meditasi Sathora, Kerahiman Allah, Taize, Mothers Prayer, Sekar Kasih, Seraphim atau komunitas lainnya. Inilah refleksi dari keberagaman umat yang memerlukan sarana atau wadah untuk mengisi hidup mereka (terutama hidup doa) dan untuk menjaga iman kristiani yang dihidupi oleh semangat Kristus.

Sementara komunitas lainnya sudah ada dan muncul karena kebutuhan Gereja, seperti  prodiakon, misdinar, lektor/lektris, tatib paroki, pewarta mimbar, BIR/BIA, kelompok pelatihan Kitab Suci, KEP/BL KEP, komsel/komunitas basis, dan kelompok yang tidak tercatat resmi namun ada dan dihidupi oleh semangat para anggotanya. Keberadaan komunitas kadang tidak memerlukan pengakuan resmi karena berawal dari inisiatif pribadi-pribadi dan melibatkan beberapa orang, yang akhirnya diminati banyak orang. Komunitas akan hidup selama tidak menyimpang dari ajaran Gereja dan tidak mengganggu dinamika kehidupan menggereja di paroki.

Tercatat di sekretariat paroki, ada 23 komunitas yang aktif di paroki, dan mungkin masih ada komunitas lainnya. Hadirnya komunitas-komunitas baru akan lebih menyemarakkan kehidupan menggereja umat Sathora.

Meski tidak dapat menerangkan satu per satu seksi/bagian/komunitas/kelompok atau apa pun namanya; semuanya membuat semarak kehidupan menggereja umat,  menumbuhkan semangat umat untuk ambil peran aktif dalam pelayanan apa pun yang dapat mereka lakukan,  siapapun dan apa pun status umat. Semua pelayanan yang mereka lakukan demi memuliakan nama Tuhan Yesus.

Lansia Sathora
Lansia Sathora

Komunitas TOMAT, yakni komunitas yang anggotanya adalah mantan prodiakon pada masa awal Paroki Sathora dan Paroki Matias Rasul sebagai paroki pemekaran yang bergabung dalam satu wadah paguyuban. Dari asal kata Thomas Rasul dan Matias Rasul menjadi TOMAT. Komunitas ini lahir pada tahun 2003. Ini merupakan satu paguyuban prodiakon purna bakti setelah melayani selama bertahun-tahun. Masa pelayanan sebagai prodiakon variatif; ada yang enam tahun, bahkan ada yang sejak paroki ini berdiri sudah menjadi prodiakon. “Tobat sampai Mati”, ungkapan semangat para Tomater  untuk tetap setia walaupun sebagian besar dari mereka sudah dimakan usia. Kegiatan mereka beragam, yaitu renungan dan berbagi pengalaman iman, serta Misa keluarga TOMAT. Mereka juga saling berkunjung ke teman-teman. Masih dengan semangat berdoa dan saling menguatkan iman sesama. Sekali waktu, ada acara jalan pagi bersama untuk menjaga keakraban, menjaga stamina. Mereka masih sempat pula menyelenggarakan retret tiga hari dan ziarah ke beberapa gua Maria. Meski sudah semakin tua, semangat mereka tetap berpijar.

Setali tiga uang dengan TOMAT, Paguyuban Maria -Yusuf merupakan wadah seluruh umat yang sudah tergolong lanjut usia. Nyatanya, usia tidak menghalangi mereka untuk menyelenggarakan acara-acara segar yang menghibur para anggotanya secara berkala. Terakhir, mereka mendatangkan artis Henny Purwonegoro dan direspons sangat baik oleh para anggotanya. Bahkan ada permintaan untuk lebih sering mengadakan acara-acara seperti ini. Mereka masih tetap bersemangat mengisi hari-hari pada masa lanjut usia.

Misdinar Sathora
Misdinar Sathora

Misdinar atau putra altar merupakan salah satu unsur yang berperan penting dan memiliki andil untuk sukses dan lancarnya penyelenggaraan Misa. Kekompakan formasi dan barisan rapi mendampingi pastor bisa dinikmati dan dirasakan oleh umat . Sekali waktu umat berkomentar, “Waah banyak juga putra altar yang bertugas ya.” Mengingat jumlah anggota misdinar Sathora cukup banyak, maka setiap kali Misa selalu diantre oleh anak-anak yang sudah mendapatkan jadwal bertugas. Mereka tidak ingin absen. Dalam suatu kesempatan di hadapan misdinar baru, Ajess menguraikan bahwa tugas misdinar antara lain membantu imam, mengantar persembahan, menuangkan air putih dan anggur, membawa air cuci tangan imam, serta menjadi panutan umat. Selain membantu dalam perayaan Ekaristi, menjadi misdinar juga memperkuat iman melalui kegiatan pengembangan kepribadian, seperti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), retret, out bound, dan wisata rohani. “Tentu saja organisasi misdinar tidak kalah maju dan pentingnya dalam pengembangan iman Katolik,” ujar Ajess . Terlihat jelas bahwa dalam setiap pelayanan, putra altar cekatan, fokus, dengan wajah sukacita dan bersemangat.

(photo) Keberadaan Paguyuban WK Santa Monika masih tetap diperlukan. Paguyuban ini merupakan wadah perhimpunan ibu-ibu yang suaminya telah meninggal dunia/ataupun yang hidup sendiri/tidak berkeluarga. Ini merupakan wadah yang cukup menghibur. St. Monika merupakan ibu yang setia, tidak putus-putusnya mendoakan suami dan anaknya, menjadi teladan dalam semangat berdoa para anggotanya. Tujuannya, memupuk persaudaraan sejati, saling mendukung, menguatkan, tolong menolong dalam suka dan duka, membantu agar mereka lebih kuat, tabah, dan mandiri untuk menjadi tulang punggung keluarga. Pertemuan rutin berlangsung sebulan sekali setiap Senin minggu kedua. Acara diisi dengan pendalaman iman dan Kitab Suci, doa arwah, kunjungan panti werdha, ziarah dan rekreasi.

Sekar Kasih
Sekar Kasih

Komunitas lain yang pernah membuat Paroki Sathora bangga adalah PS Keluarga Kudus Nazaret; dengan menjadi pemenang pada beberapa lomba paduan suara paroki se-KAJ. Awalnya, anggotanya terdiri dari keluarga-keluarga. Paduan suara yang berdiri pada 15 September 1989 ini telah berusia 27 tahun. Para anggotanya sudah bergeser kepada orang muda dan anak-anak yang tergabung dalam PS Anak KKN. Pada awal perintisannya, mereka dilatih oleh Rodyanta Suryathyo dan diketuai  oleh Lanny Irnawati. Umat yang mengetahui bakat anaknya membawanya untuk ikut audisi. Setelah lolos dalam seleksi, selanjutnya mereka masuk dalam sesi latihan. Jika ada kompetisi, mereka berkesempatan untuk mengikuti. Sebagai wadah pembinaan seni suara, KKN juga mengajak anggotanya baik anak-anak maupun orang muda yang aktif dalam pelayanan.

(photo) Siapa yang bertanggung dengan keindahan di dalam gereja, yang membuat umat merasa nyaman dengan tatanan hiasan bunga di dalamnya. Mereka adalah Dorothea, yang melayani demi keindahan gereja. Seni merangkai bunga yang sangat disukai wanita ini berawal dari Elvi Hayanto, ibu rumah tangga dengan dua putra dan seorang putri.  Sudah lama ia berhimpun dalam kelompok-kelompok perangkai bunga.  Ia aktif dalam Masyarakat Floristry Indonesia (MFI). Di tingkat internasional, ia tergabung dalam World Flower Council (WFC). Elvi mengabdi pada bidang yang sudah lama digelutinya ini, dan tentunya bersama dengan anggota Dorothea lainnya. Mereka setia melayani dengan cara memperindah penampilan gereja menjadi semakin cantik dan asri. Visi komunitas ini adalah ingin membentuk perangkai bunga yang terampil dan mencerminkan kasih Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan misinya untuk menanamkan semangat kasih dalam pelayanan dan mengembangkan potensi dan talenta para perangkainya.

Masih ada lagi komunitas lainnya yang lebih tertarik mengupas Kitab Suci melalui Pendalaman Kitab Suci, seperti PANEN (PA yang diselenggarakan setiap hari Senin), Komsel Theresia, dan komunitas lainnya.

Jika menceritakan satu per satu kelompok/komunitas di Paroki Sathora, masih banyak lagi keterlibatan orang-orang yang berperan dalam pelayanan. Mereka tetap memiliki semangat api yang akan terus menyala bagi Gereja dan kemuliaan Tuhan. On Fire!!

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY