Kesan dan Pesan 35 Tahun Paroki Sathora

0
1472

Pastor Peter John Mclaughlin OMI (Masa Tugas 1984-1985)

Pastor Peter John Mclaughlin OMI
Pastor Peter John Mclaughlin OMI

DI tengah hiruk-pikuk umat setelah selesai Misa HUT ke-35 Sathora dan saat Pesta Umat, pastor asal Brisbane, Australia, ini mengungkapkan pengalamannya berkarya di berbagai paroki, termasuk Paroki Sathora. Ia memperkenalkan diri dengan nama panggilan Pastor Petrus.  Di usia 82 tahun, ia tampak bersemangat menceritakan perjalanan imamatnya. Pada tahun 1978 Pastor Petrus baru tiba di Jakarta. Lalu, ia berkarya di Cilacap selama enam tahun. Kemudian, ia berkarya di Cengkareng pada tahun 1984 hingga 1996.

Baru sekitar setahun berkarya di Cengkareng, Pastor Petrus memegang dua paroki sekaligus, yaitu Trinitas dan Bojong. Umat Paroki Bojong berkembang pesat sehingga terlebih dahulu dapat membangun gereja sendiri. Pada Februari 1985 dilakukan serah terima penggembalaan umat dari Pastor John O’Doherty OMI kepada Pastor L.B.S. Wiryowardoyo Pr sebagai pastor kepala.

Pastor Petrus mengenang saat Gereja Santo Thomas Rasul baru mulai terbentuk, ada rasa haru dan bahagia melihat perkembangan Gereja dan umatnya hingga saat ini. Ibarat benih yang tumbuh subur menjadi sebuah pohon yang rindang.

Kini, Pastor Petrus tinggal di Jalan Kramat di dekat RS St. Carolus. Ia masih melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Perdhaki dan aktif sebagai pastor  pembantu di Gereja Santa Maria Immaculata Kalideres setiap Sabtu dan Minggu. Usia bukan penghalang bagi Pastor Petrus untuk tetap berkarya. Masih banyak kerinduannya untuk mengamalkan dan menghidupkan kembali kegiatan bersama BKKBN melalui ilmu kesehatan dan seksualitas yang pernah dipelajarinya di Universitas Barkeley dahulu. Sungguh semangat melayani yang tidak pernah pupus.

 

Romo Thomas  Aquino M. Rochadi Widagdo Pr (Masa Tugas 1994-1999)

Romo Thomas Aquino M. Rochadi Widagdo Pr
Romo Thomas Aquino M. Rochadi Widagdo Pr

SEBUAH ucapan selamat dan rasa syukur disampaikan oleh Romo Rochadi atas ulang tahun ke-35 Paroki Bojong Indah, St. Thomas Rasul. Di samping itu, Romo Rochadi juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Romo Wiryo yang telah memulai pembangunan gereja sebagai rumah Tuhan  ini sejak awal. “Saya tinggal melanjutkan saja apa yang sudah ada dan telah dimulai,” kata Romo Rochadi dengan santai dan tenang, sementara pesta umat sedang berlangsung.

“Saya bersama umat berjuang bersama dalam suka duka. Saat itu, kita mengalami kerusuhan dan penjarahan sehingga banyak umat yang mengalami luka batin. Saat itu pula, kita membangun solidaritas dan kepedulian untuk membantu sesama dengan membentuk koperasi dengan tujuan berbelas kasih untuk saling tolong-menolong. Namanya, Koperasi SATORA (Saling Tolong Rakyat).”

Berpusat pada pelindung Gereja St. Thomas Rasul yang percaya kepada Yesus, maka kita membuat patung St. Thomas Rasul sebagai lambang Rasul Pewarta. “Umat kita tumbuh dan berkembang sebagai pewarta pula. Penderitaan tidak menyurutkan semangat kasih, karena iman pulalah yang semakin membuat kita mau mewartakan kabar gembira,” tandasnya.

Saat itu, lanjut Romo Rochadi, ada Romo Wiyanto yang punya banyak potensi, kental dengan liturgi dan musik liturgi sehingga membuat liturgi begitu hidup. Namun sayang, beliau jatuh sakit sehingga kita harus menemani dan merawatnya.

Paroki Cilangkap juga berterima kasih kepada umat Paroki St. Thomas Rasul yang banyak membantu saat pembangunan gereja di sana. Saat ini, Gereja Cilangkap sudah berdiri dengan megah dan lebih besar bila dibandingan dengan Gereja St. Thomas Rasul.

 

Romo Martinus Hadiwijoyo Pr (Masa Tugas 1998-2001)

Romo Martinus Hadiwijoyo Pr
Romo Martinus Hadiwijoyo Pr

KESAN Romo Hadiwijoyo terhadap umat Paroki St. Thomas Rasul, “sungguh luar biasa”.

Pertama, ketaatan umat dalam menghayati semangat berdoa.

Kedua, sangat kompak dalam keluarga-keluarga, ada ketabahan dalam sebuah gerakan berdoa.

Saat itu, ada gerakan doa dari lingkungan-lingkungan yang dilanjutkan dengan jalan kaki pada malam hari menuju Cililitan. Keesokan paginya, kita sampai di daerah Universitas Kristen Indonesia (UKI), lalu naik bus menuju Bogor, lanjut terus secara estafet, dan puncaknya, tujuan akhir sampai di Larantuka.

Kita juga bersyukur, pada saat itu kita bisa membeli tanah di Kosambi untuk pengembangan paroki baru, yang saat ini sudah menjadi Paroki St. Matias Rasul.  Puji Tuhan, bahwa ijin untuk membangun gereja diperoleh hanya dalam waktu satu bulan. Ketua PPG saat itu adalah Rudy Suhartono. Semua ini berkat kekuatan doa kita bersama.

‘’Pola-pola seperti ini, dengan semangat berdoa, saya kembangkan pula di mana pun saya bertugas,’’ ujar Romo Hadiwijoyo.

 

Romo Sylvester Nong Pr (Masa Tugas 1998-2001)

Romo Sylvester Nong Pr
Romo Sylvester Nong Pr

PAROKI ini, menurut Romo Sylvester, amat rapi dan tertib. Tidak sekadar bergerak tapi semua dalam rencana. Hal ini dapat dilihat dari rapat-rapat dewan harian dan dewan inti yang teratur pada hari yang ditentukan dan mereka komit. Roda ini terus berjalan. Akibatnya, katagorial pun teratur, dan ini merupakan modal yang menggerakkan seluruh paroki.

Apa ada perbedaan ketika Romo bertugas di Sathora dengan saat ini?

Beda dalam arti ada perkembangan. Apa yang dulu dirintis, berkembang dengan baik. Saya juga akui, liturgi dalam Gereja rapi. Pelayanan iman, gerakan pendalaman Kitab Suci dan persekutuan doa, serta keterlibatan umat  juga sangat maju. Di samping itu, liturginya baik dan tertata rapi. Ada pula pelayanan khusus, seperti pemberkatan ibu hamil  dan yang mendambakan anak. Ini mengambil semangat Geraldus Mandela.

Pergilah kamu diutus. Perutusan itu dilaksanakan lewat bidang sosial ekonomi. Dari kamar kecil PSE dirintis di luar pagar, melalui masyarakat sekitar. Di bidang kesehatan, dari sewa pinjam kemudian menjadi mandiri. “Tujuannya untuk melayani masyarakat. Gereja sebagai pelayan masyarakat tercapai. Pelayanannya benar-benar independen,” papar Romo Sylvester.

Bidang pendidikan PSE sangat luar biasa. Ada program “Ayo Sekolah Ayo Kuliah” (ASAK). Romo Sylvester merupakan salah satu yang membidani ASAK. Dari rapat dengan keluarga muda Permata Buana, terungkap keprihatinan tentang pendidikan anak sekolah, terutama anak-anak di pinggir kali, anak-anak yang putus sekolah.

“Para pasutri terjun langsung, benar-benar luar biasa. Mereka mencari anak-anak yang akan disantuni.  Mereka juga mencari donatur dan membuat sistem sampai final sewaktu saya pindah.  Saat ini, kegiatan ASAK hidup dan berkembang, bahkan ditiru oleh paroki-paroki lain; tidak hanya di Keuskupan Agung Jakarta tetapi juga keuskupan lain,” lanjut Romo Sylvester.

Pada perayaan HUT ke-35 Paroki Sathora, Romo Sylvester juga memperingati 35 tahun imamatnya.  “Saya sangat bangga,” ungkapnya.  Ia berharap, kegiatan-kegiatan yang sudah dirintis dengan baik oleh senior-senior dapat dilanjutkan oleh generasi muda.  Mulai dari romo, dewan paroki, dan umat.  Ia yakin, generasi muda di Paroki Sathora sangat taat dan tunduk, sebagaimana keluarga Katolik membesarkan anaknya. Mereka mengikuti apa yang sudah dirintis oleh orang tuanya. Tidak seperti layang-layang putus ataupun pohon yang terlepas dari akarnya, demikian juga diharapkan agar segala kegiatan-kegiatan anak muda tidak lepas dari induknya.

Paroki ini mau mengikuti perkembangan jaman dan melakukan terobosan-terobosan baru dengan tidak lepas dari akarnya. Romo-romonya juga mau lebih membuka wawasan. Gereja juga membuka diri dengan gerakan antarumat beragama, seperti doa bersama dengan umat Gereja Kristen di sekitar Bojong, serta pendekatan dengan tokoh masyarakat setempat. “Panjang umur, hiduplah Sathora,” tandas Romo Sylvester.

 

Romo John Ferdinand Wijshijer Pr (Masa Tugas 2002-2004)

Romo John Ferdinand Wijshijer Pr
Romo John Ferdinand Wijshijer Pr

ROMO Fe pernah dua tahun berkarya di Paroki Sathora, tahun 2002-2004. Setelah Misa HUT Sathora, Sabtu, 20 Agustus 2016, ia mengemukakan ikut senang dengan tampilan fisik bangunan yang semakin bagus dengan gedung pastoral yang megah, serta perkembangan umat dan kegiatannya.

Misalnya, kegiatan bela diri Tritunggal Hati Seminari  (THS) dan Tritunggal Hati Maria (THM) yang dibentuk oleh Romo Hadiwijoyo, masih ada dan aktif hingga kini. Romo Fe menyatakan kekagumannya kepada para imam yang pernah berkarya di paroki ini, yang telah membangun dasar-dasar iman yang kuat di Gereja Sathora.

Imam yang sudah dua tahun berkarya di Gereja Kalvari Lubang Buaya ini berharap, “Semoga Paroki Santo Thomas Rasul dapat tetap mempertahankan kegiatannya dan mengembangkan diri demi Kemuliaan Allah.”

 

Romo Christoforus Josep Harry Liong Pr (Masa Tugas 1999-2002)

Romo Christoforus Harry Liong Pr
Romo Christoforus Harry Liong Pr

“SAYA salut kepada umat Sathora yang berperan aktif dalam mengikuti kegiatan dan pelayanan Gereja. Dinamika umat sangat terasa. Rasanya kegiatan di paroki ini tidak pernah berhenti dan tidak pernah sepi. Pasti ada saja kegiatan silih berganti.” Demikian kesan yang diungkapkan oleh Romo Harry Liong.

Di samping pelayanannya kepada umat, Romo Harry Liong pun cukup ikut ambil bagian dan peduli terhadap masyarakat setempat dengan menjadi anggota Citra Bhayangkara. Citra Bhayangkara merupakan salah satu bentuk kepedulian warga dalam menjaga keamanan dan lingkungan setempat. Salah satu sarana komunikasinya dengan menggunakan Handy Talky (HT).

 

Mgr Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta

Mgr. Ignatius Suharyo
Mgr. Ignatius Suharyo

PERTUMBUHAN iman dan pertumbuhan kasih sulit dihitung dengan angka. Ini bukan kuantitatif tetapi perlu kualitatif.

“Pelayanan Gereja itu saya gambarkan seperti menabur benih. Yang memutuskan bukan Gereja tetapi pribadi yang menerima pelayanan dan pengajaran,” tegas Mgr. Suharyo.

Pertumbuhan iman, harapan, dan kasih, menurut Mgr. Suharyo, tidak ada yang maju terus. “Ada maju mundur, maju mundur, dan maju terus.”

Gereja harus bertanya, bagaimana peran umat dalam menciptakan gerakan yang kreatif. “Apakah kita selalu terus bertanya? Seperti peran anak muda yang tampil memainkan berbagai alat musik dalam Misa HUT di gereja tadi, dengan bentuk yang menarik. Inilah bentuk kreativitas. Jangan sampai kreativitas kita berkurang.”

Lebih lanjut Mgr. Suharyo mengemukakan bahwa kita sedang berziarah menuju tanah perjanjian.  Sebagaimana tema HUT ke-35 Sathora, “Persaudaraan Sejati Antar Umat Beragama Dalam Mengamalkan Pancasila”. Ini sesuatu yang tidak biasa, tetapi inilah tindakan nyata yang dibangun oleh umat dengan kreativitas yang baik. “Berusaha menjadi air yang mengalir. Bukan seperti air yang keruh tetapi air yang jernih. Bukan air yang terkontaminasi tetapi air yang bermineral.”

Venda, Lily Pratikno, Anton Burung Gereja

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY