Selfie Bersama Tuhan Yesus

0
401

“AYO dong Philo… kok kamu kayak mobil mogok saja. Opa ‘kan perlu istirahat.”   Papanya sudah kehabisan akal membujuk putranya.

Philo menjawab enteng, “Nanti, Pa!  ‘Kan  Philo sudah seminggu nggak ketemu Opa. Papa Mama pulang duluan deh.”

Papanya membujuk lagi, “Philo, HB Opa ‘kan belum normal. Kamu ini kalau sudah ketemu Opa lengket betul kayak stiker.”

Opa Ben tergelak, tangannya menggoyangkan kepala Philo. “Ha ha… ini ‘kan anak Opa ya. Biar saja dia tinggal di sini sebentar. Aku senang kok.”

Sahut  Papa, “Philo, kalau begitu sebaiknya kamu minta diadopsi Opa saja, ha ha ha!”

“Okelah, Opa. Kami pulang dulu ya,” sambung Mama Philo.

Opa Ben seakan lupa bahwa ia sedang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Cucunya seperti sedang memperhatikan sesuatu. Lalu, ia bertanya, “Opa lengket sekali sama Kitab Suci ya. Sampai waktu sakit dibawa-bawa terus.”

Sahut Opa, “Philo, Kitab Suci adalah dasar iman kristiani. Kata Paus Fransiskus, Injil  adalah sumber sukacita, kebebasan, dan keselamatan. Heran ya, ada orang yang senang “mengamankan” Kitab Sucinya di lemari buku. Mungkin dia menganggap kitab itu suci banget sampai-sampai takut menyentuhnya, ha ha ha!”

Pasien sekamar Opa Ben melongok ke arahnya. Opa tersipu. “Ssst… tapi memang betul sih suci. Bukan bukunya atau hurufnya yang suci tapi Sabda Allah yang tersirat di dalamnya. Allah seakan menghembuskan napas kehidupan dalam setiap halamannya, seperti dulu dilakukan-Nya kepada Adam. Dan Sabda-Nya itu mempunyai kekuatan. Buktinya, dalam Kitab Kejadian Allah bersabda: “Jadilah terang!”   Dan langsung terjadi.

Maka itu, Kitab Suci bukan buku biasa. Kita wajib menghormatinya. Kekuatan Sabda-lah yang membentuk Gereja Perdana. Waktu itu ‘kan belum ada Kitab Suci Perjanjian Baru karena ajaran dan karya Yesus belum ditulis orang.  Tapi,  umat dapat dihimpun dan bersekutu membentuk Gereja Perdana. Itu semua karena Sabda Allah yang masih berupa Tradisi Lisan telah dimaklumkan. Jadi, bukan karena kata-kata atau kalimat di dalam Kitab Suci.

Naif sekali kalau menganggap kita harus menaati persis kata demi kata di dalam Kitab Suci karena Kitab Suci kita adalah hasil dari bahasa asing. Awalnya, dari bahasa Aram, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, kemudian ke bahasa Eropa, barulah ke dalam bahasa Indonesia. Nah, masuk akal ‘kan kalau ada beberapa terjemahan yang kurang pas?  Namun, yang terpenting bukan apa yang tersurat  melainkan apa yang tersirat, yaitu pesannya.

Kadang- kadang juga dipakai kata-kata simbolis, hiperbolis atau perumpamaan, yaitu kata kiasan. Maka itu, kita harus pintar-pintar membedakannya.”

Tiba-tiba Philo bertanya, “Tapi, Opa, Kitab Suci ‘kan karya manusia bukan karena Tuhan membisikkan lalu manusia menuliskannya. Kok bisa menjadi suci?”

Opa Ben semakin bersemangat. “St. Paulus berkata bahwa Kitab Suci diilhami oleh Allah kepada para penulis Alkitab. Seluruh proses penulisan dinaungi, dijaga, dan dibimbing oleh Allah melalui Roh Kudus dengan karunia khusus, yaitu inspirasi supaya di dalamnya ada kebenaran bukan kesesatan. Oleh karunia-Nya itu maka Kitab tersebut menjadi suci.

Coba kamu bayangkan, seorang anak SD diberi PR prakarya. Di rumah, ayahnya yang membuatkan PR tersebut, bukan anaknya. Itu rasa sayang yang keliru, dong. Anaknya lama-lama jadi bodoh.”

Philo mesem-mesem, mungkin kena batunya!

Lanjut Opa, “Tuhan sudah memberikan kecerdasan, akal budi, bakat, dan suara hati kepada manusia. Jadi, manusia harus mampu berpikir, tahu yang baik dan buruk. Tuhan cuma membantu para penulis  Alkitab namun Ia tidak menggantikan mereka supaya mereka dapat berperan. Dengan demikian, iman mereka dapat bangkit berakar kuat dan berkembang.  Bukan cuma tinggal terima jadi saja. Wahyu Allah yang penuh dan lengkap hanyalah pribadi Yesus Kristus, Sang Sabda yang menjadi daging. Firman-Nya menyelamatkan manusia.

Philo, menjadi pengikut Yesus harus terlebih dahulu mengenal siapa Dia, karakter-Nya, cinta kasih-Nya, kehendak-Nya, dan rencana-Nya untuk masa depan. Nah, dalam Kitab Suci, Tuhan menyatakan diri-Nya dan menyapa kita agar semakin dekat berelasi dengan-Nya melalui Yesus Kristus.

Kekuatan Sabda Allah telah dialami St. Agustinus ketika ia mendengar seperti suara anak- anak berkata: Ambil dan bacalah — akhirnya ia menemukan bacaan Roma 13: 13-14.  Maka, terbukalah pikirannya melihat kebenaran sejati sehingga ia bertobat total. Tuhan menyapa dan dia menanggapinya dengan iman mendalam.  Philo, ketahuilah bahwa dalam keseluruhan Kitab Suci ada potret diri Tuhan Yesus.”

Philo berpikir, lalu cetusnya,”Potret?  Kalau begitu aku mau lebih dekat dengan Tuhan Yesus, terus nanti bisa selfie bareng Beliau.”

“Ah dasar kau, Philo.” Opa Ben menggelengkan kepalanya, lupa akan penyakitnya.

Ekatanaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY