Lho Kok Bisa?

0
469

oleh Daniel Julianto, Seksi Kerasulan Kitab Suci

 

Inilah firman dari Dia,…Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan… Wahyu (2:1-7)

 

JEMAAT Efesus adalah jemaat yang dilayani oleh Paulus tiga tahun lamanya (Kis 19:1-41,20:31) dan Apolos, Priskila, Akwila (Kis18:24-28) juga Timotius rekan sekerja Paulus (1Tim 1:3). Paulus memuji jemaat di Efesus, dan tidak berhenti mengucap syukur serta berdoa untuk mereka tentang iman dalam Tuhan Yesus dan tentang kasih mereka, juga meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, supaya Ia memberikan Roh Hikmat-Nya bagi mereka. Dan supaya Ia menjadikan mata hati mereka terang, agar mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya (Efesus 1:15-23).

Dalam bacaan di atas disampaikan: jemaat Efesus bersemangat melakukan pekerjaan dengan jerih-payah, tidak dengan santai, dan tekun dalam iman kepada Kristus. Hal ini tidak mudah, mengingat kota Efesus adalah pusat perdagangan, politik, dan agama. Di kota ini terdapat kuil tempat penyembahan dewi Artemis (dewa kesuburan). Dengan kondisi semacam ini, pasti jemaat akan mengalami penderitaan, mungkin juga penganiayaan dalam mempertahankan iman mereka dari pengaruh ajaran sesat. Tetapi, mereka tetap sabar, tidak kecewa, marah, dan lari dari Tuhan. Jemaat ini gigih menghadapi rasul-rasul palsu dan ajaran-ajaran sesat, bahkan mengalahkan mereka. Namun, apa yang kelihatan baik yang dilakukan oleh jemaat di Efesus, dicela oleh Tuhan, bahkan dikatakan “betapa dalamnya engkau telah jatuh!” Tuhan mencela karena mereka telah kehilangan kasih yang semula. Tuhan menasihati bertobatlah dan kembali kepada kasih yang semula.

 

Pertanyaannya, “Lho kok bisa?” Kalau memang meninggalkan kasih kepada Tuhan, bagaimana mereka masih giat di dalam Tuhan, bertekun di dalam iman, gigih menghadapi ajaran sesat. Jawabannya, “Bisa”. Penulis pernah mengalami hal ini; membaca dengan tekun Kitab Suci, buku rohani dll, berusaha setia dengan pelayanan yang diberikan Gereja, mengikuti perayaan Ekaristi. Apakah iman saya bertumbuh? Harusnya iya. Tetapi, bagaimana sikap kepedulian saya terhadap sesama? Sudahkah saya membawa kasih kepada sesama? “Belum”.

Dalam ketidakpedulian terhadap sesama; saya tetap dapat berdoa, membaca Kitab Suci, ke gereja, pelayanan dll. Tetapi, saya tidak dapat “mengucap syukur!” Dengan berjalannya waktu, Tuhan menyadarkan saya melalui peristiwa sederhana; dari seorang ibu penjual kue di depan kampus Untar. Dengan tubuh basah karena hujan, ia mencoba menawarkan kuenya. Tetapi, saya cuek di dalam mobil. Malam itu, saya tidak bisa tidur memikirkan si ibu, dan besok paginya saya berusaha mencari dia. Lain waktu menjelang Natal, saya sedang mencari buku di toko buku rohani Citraland. Masuklah seorang bapak yang menjadi pusat perhatian, karena bau dan kumal. Ia mencari hadiah buku buat kado anaknya menjelang hari Natal, tetapi ia tidak punya uang. Dari peristiwa kecil ini, Tuhan memberi kesadaran, “Oh, kasih-Mu Tuhan, sungguh besar.” Ini doa pribadi saya, “Penuhi hati, pikiran, perkataan, dan perbuatanku dengan belas kasih-Mu, Tuhan.”

Sungguh ketika kita peduli terhadap sesama, belas kasih Tuhan memampukan gerak hidup kita pada pertobatan, pengampunan, dan rasa syukur. Dalam Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah (8 Desember 2015-20 November 2016) yang akan segera berakhir, mari coba merefleksikan, adakah sedikit pengalaman yang telah dialami dari panduan gerakan rohani KAJ? Yaitu,  pertama, Momen “24 jam” untuk Tuhan. Kedua, Gerakan iman: Jumat adorasi, Sabtu rekoleksi-novena, dan Minggu amal kasih.  Ketiga, ziarah rohani sembilan gereja.

Bapak/Ibu turut serta ambil bagian dalam berbagai kegiatan, baik pribadi atau bersama lingkungan/wilayah/komunitas. Apakah hati kita berkobar-kobar dalam kasih Tuhan dan mampu peduli terhadap sesama? Atau biasa-biasa saja, karena semuanya hanya kewajiban yang sudah seharusnya demikian?

Mengutip dari Surat Gembala Bapak Uskup I. Suharyo No. 4.2: Pengalaman akan kerahiman Allah ini dengan sendirinya akan mendorong pertobatan dan pembaruan hidup. Inilah yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus dengan mengatakan, “Semoga warta kerahiman menjangkau setiap orang, dan semoga tidak seorang pun acuh tak acuh terhadap panggilan untuk mengalami kerahiman-Nya. Dengan penuh harapan, saya menyampaikan undangan untuk bertobat ini kepada orang-orang yang perilaku hidupnya menjauhkan mereka dari rahmat Allah” (MV no. 19).

Ini juga nasihat Tuhan Yesus dalam bacaan di atas “bertobatlah dan kembali kepada kasih yang semula”. Dalam kelemahan, mari senantiasa memohon belas kasih Tuhan agar kita dapat mensyukuri hidup ini dan bergerak untuk peduli pada sesama.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY