Patung atau Gambar Orang Kudus

0
295

KETIKA pergi ke sebuah gereja Protestan di bilangan Kali Malang Bekasi, saya memperoleh pengalaman yang tidak terlupakan. Di situ, saya menemukan salib dengan corpus dan patung Bunda Maria.

Sepengetahuan saya, mereka teman-teman Protestan menolak corpus pada salib dan patung Bunda Maria karena menganggapnya sebagai penyembahan berhala.

Lalu, pelan-pelan saya bertanya kepada Ibu Pendeta,  “Bu, kok ada corpus di salibnya?”

“Romo, itu patung Yesus ‘kan?” dia balik bertanya.

“Iya Bu,” jawab saya singkat.

“Ya sudah, itu patung Yesus.” Saya terkejut dengan jawaban Ibu Pendeta itu. Masih dengan rasa penasaran, saya kembali bertanya, “Bu, ada patung Bunda Maria di situ?”

“Romo, itu patung Maria. Bunda Yesus ‘kan?” Ia malah kembali bertanya kepada saya.

“Iya Bu Pendeta, itu patung Bunda Yesus,” jawab saya pelan.

“Ya sudah. Itu patung Maria, Bunda Yesus,” jawabnya sambil tersenyum.

Saya pun terpana, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum.

Ternyata, dalam tradisi Lutheran mainstream, mereka pun menggunakan patung sebagai sarana kehidupan rohani mereka. Meskipun demikian, pada denominasi Protestan yang lain, banyak juga yang tidak atau bahkan melarang penggunaan patung dalam Gereja mereka. Mereka beranggapan bahwa membuat patung berarti juga menyembah berhala, seperti tertulis di dalam Kitab Keluaran 20:4-5 yang intinya larangan membuat patung untuk disembah.

Dalam tradisi Katolik, kita tidak pernah menyembah patung. Patung atau gambar yang digunakan dalam tradisi Gereja Katolik hanyalah sarana yang dihormati (veneratio) dan bukan menjadi sembahan (adoratio). Hanya Allah Tritunggal yang boleh disembah. Kita merasa terbantu untuk menghadirkan apa yang dilukiskan dalam patung atau gambar itu.

Gambar atau patung Kristus, Maria, dan para kudus ditempatkan dan dijaga dalam Gereja demi penghormatan yang diberikan kepada mereka. Bukan karena keilahian atau kekuatan yang dikira ada di dalam diri mereka sehingga mereka disembah. Bukan pula karena kita dapat meminta sesuatu dari mereka, atau karena iman yang diletakkan pada gambar atau patung itu, seperti yang dilakukan oleh orang yang menyembah berhala. Akan tetapi, karena penghormatan yang ditujukan kepada para kudus yang diwakili oleh gambar tersebut sehingga dengan mencium, berlutut di depan gambar atau patung tersebut, kita memuja Kristus dan menghormati para kudus yang diwakili oleh gambar atau patung tersebut (Konsili Nicea II, DS. 986. Bdk. LG 60).

 

SHARE
Previous articleLho Kok Bisa?
Next articlePergilah, Kamu Diutus

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY