Amnesti Dosa

0
234

PHILO cepat menoleh ketika seseorang berlari menghampirinya. Ia baru saja usai menonton pertandingan futsal di sekolahnya. Mendadak wajahnya berubah acuh dan ia coba menghindar.  Tetapi dalam sekejap  Dondon, teman sekelasnya, sudah tiba di depannya.

Masih terengah, Dondon berkata dengan terputus-putus, “Philo, mengapa sih kamu selalu menghindari aku beberapa hari ini?”

Mata Philo menatap tajam. Ia menjawab tidak ramah, “Kamu ini pura-pura bodoh ya? Aku tersinggung !”

Mata Dondon terbelalak.  ” A…apa salahku? Kenapa kamu batal masuk ke rumahku, Sabtu sore itu?”

Philo geram.

“Dondon, aku tahu kamu senang bercanda, tapi kali ini sudah keterlaluan! Baru saja aku masuk ke rumahku, kamu langsung menghina aku dengan kata-kata: Kau sapi, Bapak lu kerbau! Ini lelucon yang tidak lucu. Aku tak apa-apa kau lecehkan, tapi kalau Bapakku kau nista, aku akan bela sampai kapan pun!”

Pikir Dondon, ini pasti ada yang salah. Tiba-tiba, ia tertawa lebar. “Hahaha… kau salah paham, Bro. Jangan sedikit-sedikit ngambek ah, selidiki dulu. Sebenarnya waktu itu, aku sedang menghafalkan  bahasa Inggris, begini: cow (sapi), buffalo (kerbau). Philo, walaupun aku tak sengaja menyinggungmu, tapi maafkan aku ya, please…”

Philo diam saja, tapi wajahnya pucat pasi. Akhirnya, Philo berkata lemah, “Don, akulah yang harus minta maaf. Sorry ya,  aku  sudah marah-marah dan menuduh kamu….”

Dondon berseru lega, “Olala, pasti aku memaafkan kamu. Tuhan Yesus itu Maha Pengampun, kalau aku tidak mau memaafkan, berarti aku lebih tinggi dari Tuhan, dong.”

Mendengar cerita Philo, Opa Ben mengacungkan jempolnya.  “Bagus Philo, bagus! Tapi, kamu tak cukup hanya minta maaf kepada temanmu. Kamu juga harus mengaku dosa kepada Tuhan dalam Masa Adven ini karena prasangka burukmu.”

Philo membisu.  ” Bagaimana?  Kamu malu mengaku dosa kepada Pastor?” desak Opa.

“Opa, bagaimana kalau aku mengaku dosa langsung saja kepada Tuhan?”

Jawab Opa, “Nah, ini yang sering menjadi alasan. Tuhan Yesuslah yang menetapkan Sakramen Tobat ketika Dia memberi kuasa kepada Petrus dalam Matius 16 : 19,  dan kepada murid- murid-Nya dalam Yohanes 20 : 23 untuk mengampuni dosa.

Menurut Paus Yohanes Paulus II, cara ini sangat manusiawi, sebab mana mungkin Tuhan Yesus dapat langsung mengampuni dosa kalau sekarang Dia sudah bertubuh mulia? Tapi, Dia juga ingin hadir lebih dekat secara nyata dalam Sakramen Tobat. Maka, Dia memberikan  mandat kepada imam atau Uskup untuk menghadirkan sosok Allah sekaligus sebagai wakil Gereja.

Philo, Gereja- yaitu kita umat Allah- merupakan anggota dari Tubuh Mistik Kristus dengan Kristus sebagai kepalanya. Dosa seseorang bukan saja menyakiti Tuhan, tetapi juga Gereja-Nya. Menodai kekudusan dan merusak citra Gereja. Jadi, wajarlah kalau kita mohon pengampunan dari Gereja juga yang diwakili oleh imam. Allah sendirilah yang berhak mengampuni dosa atau absolusi.  Namun, imam yang menyampaikan kepastian bahwa dosa telah diampuni.

St. Agustinus berkata bahwa dasar pertobatan sejati adalah rendah hati. Kalau masih ada dosa yang masih ditutup-tutupi atau disembunyikan, maka pengakuan itu akan sia-sia. Jangan takut atau malu mengaku dosa. Kita tidak diperlakukan sebagai orang buangan atau merasa  betapa buruknya kita sehingga patut dihukum. Ini bukan soal hutang-piutang lho!  Harga diri kita tidak akan direndahkan, karena kita berharga di hadapan Tuhan yang menghendaki kita semua kudus. Penitensi bukan hukuman melainkan  semacam denda sebagai pertanggungjawaban kita atas dosa kita.  Nah, Philo, apa yang kamu rasakan setiap kali kamu selesai mengaku dosa?”

Philo berpikir sejenak, lalu katanya, “Hmm…  biasa saja, Opa.”

“Nah, itu karena kamu menganggap pengakuan dosa cuma sebagai rutinitas menjelang Natal atau Paskah.  Bukan suatu kebutuhan atau kerinduan. Padahal Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi itu adalah suatu pesta karena satu orang berdosa maka ada sukacita besar di Surga. Kita diterima dan disambut sebagai tamu yang layak dalam perayaan yang khusus untuk menghormati kita. Kita menerima kembali rahmat Allah.  Martabat sebagai anak Allah diperbarui dan dipantaskan dalam persekutuan Tubuh Kristus kembali.  Maka, terjadilah penyembuhan rohani, fisik, dan luka-luka batin. Kita mendapatkan kekuatan baru, kedamaian, dan ketenangan.”

“Tapi, bagaimana sesudah diampuni, kita ‘kan bisa berbuat dosa lagi?” Philo menyela.

Opa tersenyum, “Philo,  manusia memang lemah. Ada kecenderungan untuk berbuat dosa lagi. Istilahnya, concupiscentia.  Kalau begitu mengapa kamu makan, toh nanti lapar lagi, mandi ‘kan nanti kotor lagi?

Makanya, sering-seringlah mengaku dosa karena perlu dibersihkan lagi supaya kotorannya tidak menumpuk.”

Philo berkomentar, “Jadi, ‘Amnesti Dosa’ itu indah sekali ya Opa? Slogannya berbunyi  Sesal – Ungkap – Lega.”  Opa Ben mesem-mesem karena teringat akan slogan lain yang diplesetkan cucunya.

Ekatanaya

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY