Resolusi

0
425

MEMASUKI tahun yang baru, kebanyakan dari kita sibuk membuat resolusi. Resolusi yang diharapkan akan bisa membantu kita untuk menghadapi tahun yang baru dengan lebih baik lagi. Seperti apakah tahun mendatang?  Seperti biasa, banyak ramalan bermunculan pada awal tahun baru. Mulai dari ramalan berdasarkan kalendar shio China sampai ramalan Nostradamus, seorang filsuf Prancis yang hidup pada abad XVI.

Menurut beliau, China akan semakin kuat, sementara si superpower yang sepertinya merujuk pada Amerika akan memiliki banyak isu. Pada masa sekarang ini kita memang melihat bagaimana kekuatan ekonomi China terus melaju seakan tidak terbendung.

Lepas dari benar tidaknya ramalan Nostradamus ini, yang penting bagi kita sebenarnya adalah berefleksi,  menganalisa, apa yang perlu kita miliki, kembangkan, dan kuasai agar kita siap menghadapi dunia yang semakin volatile, uncertain, complex, dan ambigu ini.

Karir 17 - Emilia Jakob - ft02 - great-by-choice-jim-collins-20-638 (image.slidesharecdn.com)

Productive Paranoia

Dalam bukunya Great by Choice, Jim Collins menemukan bahwa salah satu rahasia untuk menghadapi dunia yang makin tidak terprediksi, ambigu, dan berubah dengan sangat cepat adalah memiliki ketakutan (paranoia) yang dibarengi dengan produktivitas.

Productive paranoia menunjukkan sikap yang tidak lama berpuas diri dengan sesuatu kesuksesan karena ia selalu memikirkan what’s next. Ia sadar bahwa suatu kesuksesan tidak akan bertahan lama, mengikuti prinsip S Curve suatu siklus produk. Setelah mencapai titik sukses, berarti tahap berikutnya adalah arah penurunan. Oleh karena itu kita harus sudah mulai dengan persiapan produk mumpuni lainnya sebelum ia memasuki tahap penurunan.  Jangan sampai kita terlena dengan fenomena boiling frog yang terus merasakan kenyamanan tanpa sadar dunia di sekitarnya sudah berubah, hingga akhirnya terlambat untuk keluar menyelamatkan diri.

Dengan kecanggihan dunia digital, kesempatan untuk belajar dan mencipta menjadi tidak terbatas. Apa yang sukses dilakukan di suatu tempat akan dengan cepat dipelajari oleh pihak lain, dimodifikasi menjadi lebih baik, bahkan mungkin dengan harga yang lebih murah. Oleh karena itu untuk dapat terus menjadi yang terdepan, kita harus senantiasa berpikir dan berinovasi.

 

Think Global, Act Local

Perubahan cuaca,  terorisme, wabah penyakit adalah beberapa isu yang kita hadapi bersama belakangan ini. Meskipun mungkin ada beberapa isu yang rasanya tidak terjadi di depan mata kita, namun dengan kecanggihan internet, kita tidak bisa lagi menutup mata dengan apa yang terjadi di belahan dunia lain semata-mata karena itu terjadi jauh dari tempat kita. Apa yang terjadi di tempat lain mau tidak mau akan memberikan dampak pada kehidupan kita. Harga minyak dunia yang jatuh langsung membuat perusahaan-perusahaan minyak di Indonesia menghentikan rekrutmen tenaga kerja baru, dan bahkan mengurangi tenaga kerja tetapnya.

Globalisasi karenanya tidak hanya dialami oleh mereka yang mengalami migrasi, namun hadir di depan mata kita setiap hari. Betapa tidak, barang-barang yang kita konsumsi setiap hari bisa jadi telah mengalami perjalanan lebih dari 1.500 mil sebelum mereka tiba di hadapan kita.

Think global, act local juga berarti bahwa kita tidak bisa serta-merta menerapkan apa yang tampaknya berhasil di tempat lain untuk menjadi sebuah kesuksesan di tempat kita. Kita tetap harus memiliki kepekaan terhadap nilai dan budaya setempat  dan beradaptasi dengannya, seperti McDonalds yang memiliki Teriyaki McBurger di Jepang dan Maharaja Mac di India. Cerdik menangkap fenomena global, luwes beradaptasi dengan budaya lokal.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY