Misa bagi Orang Bunuh Diri

1
1205

Pertanyaan:

Romo, apakah diperbolehkan mempersembahkan Misa bagi orang yang bunuh diri?

 

SEBELUM menjawab pertanyaan ini, perlulah disadari bersama bahwa tindakan bunuh diri adalah dosa berat. Mengapa? Karena bunuh diri adalah mengambil hak Allah yang menentukan hidup dan matinya kita. Allah-lah yang menciptakan kita. Tubuh dan jiwa kita milik Tuhan. Kita hanya wajib memelihara dan menjaganya, baik jasmani maupun rohani.

Rasul Paulus mengatakan, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor 6:20).

Salah satu sumber ajaran iman kita, selain Kitab Suci, adalah ajaran Magisterium yang tampak dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK). Dalam KGK No. 2280 dikatakan, “Tiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya. Allah memberikan hidup kepadanya. Allah ada dan tetap merupakan Tuhan kehidupan yang tertinggi. Kita berkewajiban untuk berterima kasih karena itu dan mempertahan hidup demi kehormatan-Nya dan demi keselamatan jiwa kita. Kita hanya pengurus, bukan pemilik kehidupan, dan Allah mempercayakannya itu kepada kita. Kita tidak mempunyai kuasa apa pun atasnya.”

Dalam Ensiklik Evangelium Vitae art. 66 juga ditekankan oleh Bapa Suci bahwa bunuh diri adalah tindakan moral yang sama sekali salah dan merupakan dosa berat.

Konsultasi Iman 17 - RD Anto - ft02 - mgr-dan-budipurnomo (www.sesawi.net)Dalam sejarah, Gereja pernah melarang pelayanan Misa Requiem dan pemakaman secara Katolik bagi pelaku bunuh diri. Alasannya, orang yang bunuh diri dipandang telah kehilangan harapan yang dalam arti tertentu telah kehilangan iman akan Allah. Hal itu diatur dalam Kitab Hukum Kanonik 1917 Kan. 1240, #1,3. Akan tetapi, karena perkembangan pemikiran, saat ini Gereja terbuka dalam pelayanan Misa Requiem dan pemakaman secara Katolik bagi mereka yang menjadi pelaku bunuh diri.

Pelaku bunuh diri dipandang berada dalam situasi emosi yang tidak stabil. Faktor psikologis dan stres berat dapat menghalangi pikiran logis dan sehat sehingga orang bisa melakukan tindakan mengakhiri hidupnya. Kita pun tidak tahu kalau-kalau pada masa sakratul maut, pelaku bunuh diri mengungkapkan penyesalannya dan mau bertobat kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Allah Maharahim. Oleh karenanya, dalam KGK No. 2283 dikatakan “Orang tidak boleh kehilangan harapan akan keselamatan abadi bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya. Dengan cara yang diketahui Allah, ia masih dapat memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat supaya diselamatkan. Gereja berdoa bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya.”

 

RD Paulus Dwi Hardianto

1 COMMENT

  1. Gereja Katolik sekarang mengikuti pemikiran dunia kedokteran. Sebgn besar orang yg bunuh diri menderita gangguan jiwa yg berat, seperti skizofrenia atau gangguan manik depresif… Maka kanon Gereja Katolik 1184 juga sdh diubah sejak 1983, menghapus bunuh diri sbg halangan utk diberi misa requiem… Mereka adalah korban…. Masalah ini penting sekali diketahui, karena sebgn imam masih menolak memberi misa requiem. Karena tidak tahu hukum kanon gereja telah diubah.

    Untuk lebih jelas,, baca ini beserta link2 yg ada:
    https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=428573004165570&id=100010386228288

LEAVE A REPLY