Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter

0
286

Dear Redaksi. Saya, Regina, seorang istri dengan seorang anak. Suami saya pekerja keras. Kami salah satu keluarga di Paroki Sathora. Kadang saya berpikir antara peran saya dalam keluarga, sebagai keluarga muda, dan keinginan terlibat dan berpartisipasi dalam Gereja. Bagaimana sebaiknya saya bersikap?

Salam, Regina

 

Terima kasih atas pertanyaan Saudari Regina.

Marilah kita simak pengalaman seorang ibu di Semarang pada 18 Januari 2017.

Tadi siang saya menjemput anak saya di sekolah. Guru kelasnya bercerita bahwa hari ini ia bertanya kepada murid-murid, “Siapa yang pernah melihat orang tua kalian bertengkar?” Hanya tiga murid, termasuk anak Ibu yang tidak mengangkat tangan.

Saya terkejut. Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kalian lakukan, kalau melihat mereka bertengkar?”

Ada yang menjawab, “ Nggak boleh ikut-ikutan Bu. Soalnya, itu urusan orang tua.” Bahkan ada yang menjawab, “Aku lebih senang di rumah, kalau Mama mengajakku ke mal.” Betapa sedihnya saya mendengar jawaban mereka. Sambil matanya berkaca-kaca.

Ini bahan refleksi kita sebagai orang tua.

 

Kalau ditanya apa perasaan saya terhadap ungkapan atas pertanyaan ibu guru tadi, bahwa anak saya termasuk salah satu yang tidak mengangkat tangannya; jujur, saya senang dan sedih. Saya senang dan bahagia karena kami telah memberikan tempat yang nyaman dan baik bagi anak kami untuk tumbuh dan berkembang menjadi diri mereka sendiri. Kami juga sadar sebagai orang tua, kami harus menjadi pendengar yang baik, memberikan contoh yang baik, pikiran, ucapan dan perbuatan  yang baik.

 

Sedih? Ya benar, ada kesedihan yang mendalam pula karena anak saya memiliki teman-teman  yang haus akan tempat yang penuh cinta, di mana mereka selalu didengar, dipahami, dan dimaafkan sehingga mereka bisa menjalani kehidupan mereka dengan penuh tawa, ceria tanpa ada ketakutan dan perasaan tertekan.

Ketika saya belum bisa menyentuh atau memperkenalkan mindfull parenting kepada teman-teman sesama orang tua, saya tidak akan patah semangat. Paling tidak, saya membekali anak-anak untuk bersikap baik dan penuh cinta kepada teman-temannya.

Berbagi kebahagiaan, menolong tanpa pamrih, menjaga kebersamaan tanpa pilah-pilih, dan saling memaafkan bila terjadi ketidaksesuaian, serta sikap hormat dan santun kepada yang lebih tua. Memang tidak ada yang sempurna, tapi berusaha menjadi sempurna membuat kita selangkah lebih maju.

 

Saudari Regina, kalau fondasi dasar keluarga kuat dan kokoh, tentu kalian akan memperolah berkat tersendiri. Sangat baik Anda mau berbagi berkat. Ada banyak tempat dan sarana yang bisa anda ikuti bila ada keinginan berpartisipasi dalam Gereja. Misalnya, ikut kegiatan lingkungan, Marriage Encounter yang bisa mempererat relasi suami-istri, juga bisa berkegiatan bersama menjadi core member Lifeteens, khususnya bagi orang tua anak remaja.

Untuk para ibu, tersedia komunitas Mothers Prayers. Dan masih banyak lagi komunitas yang bisa dipilih untuk saling menguatkan satu dengan lainnya di Paroki Sathora. Semoga ini membantu.

 

Salam , Herlani

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY